
"Dia ?” tanya Ronald terkejut, membuat Feby tertunduk malu.
“Benar pak! Dia telah menampar saya sampai terluka seperti ini!” tegas Sekretaris tersebut.
“Kamu kenapa menampar dia ?” bisik Ronald kepada Feby.
“Dia duluan yang menampar saya!” jawab Feby, membuat Sekretaris itu merasa bingung seketika menyaksikan Ronald berbisik – bisik dengan wanita yang telah menamparnya yaitu Feby.
“Ehm! Bisa kamu jelaskan kronologinya secara detail kepada saya ?” ucap Ronald kepada Sekretarisnya itu.
“Em!” Tiba – tiba saja Sekretarisnya itu terlihat kebingungan, ia tidak ingin mengatakan kejadian yang sebenarnya terjadi karena takut Ronald akan memecat dirinya jika mengetahui karyawan senior sedang menindas karyawan baru di kantornya.
“Kenapa ? Tolong jelaskan kronologinya secara detail agar saya dapat menindak lanjutin kejadian ini!” ucap Ronald lagi, membuat Sekretarisnya itu seketika berpikir panjang.
“Kalau aku berbohong, pasti perempuan itu akan membela dirinya sendiri! Apalagi perempuan itu sepertinya punya hubungan khusus dengan pak Ronald! Dari sikapnya sih seperti itu! Apa mungkin karena hutang budi membuat pak Ronald bersikap baik kepadanya? Aku harus hati – hati! Aku tidak boleh gegabah! Sepertinya aku biarkan saja perempuan itu lolos hari ini! Tapi di lain hari, aku akan membuatnya keluar dari kantor ini dengan caraku!” batin Sekretaris itu.
“Halo! Kenapa kamu diam saja ? Atau sebaiknya kita lihat cctv saja ?” kata Ronald mengagetkan Sekretarisnya itu.
“Tidak perlu pak!” Dengan cepat, Sekretaris itu menjawab pertanyaan dari Ronald.
“Kenapa ?” tanya Ronald kebingungan.
“Sa.. saya.. Saya sudah memaafkan dia pak! Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi!” jawab Sekretaris itu dengan dramanya, membuat Ronald dan Feby semakin kebingungan.
“Perempuan ini banyak sekali dramanya! Jelas – jelas dia yang menindasku duluan!” batin Feby merasa kesal.
“Tidak bisa seperti itu! Saya tidak akan membiarkan pelaku kekerasan berkeliaran di perusahaan saya!” ucap Ronald, membuat Sekretarisnya itu semakin takut.
Tampaknya Ronald telah mengerti bahwa Feby sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini, ia sengaja melakukan itu untuk membuat Sekretarisnya itu merasa takut dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
“Cepat kamu ceritakan saja kronologinya seperti apa! Jika Feby memang terbukti bersalah, aku akan lansung pecat dia! Siapapun karyawan yang melakukan kekerasan di kantor harus di pecat tanpa uang pesangon, bahkan kalau perlu karyawan itu harus di denda sebesar dua milyar agar tidak ada karyawan lain yang mencontoh perilakunya! Saya akan buat peraturan itu di perusahaan ini sekarang juga!” ucap Ronald, berusaha membuat Sekretarisnya itu takut.
“Dua milyar ? Dipecat tanpa pesangon juga ?” Seketika Sekretaris itu tercengang setelah mendengar ucapan Ronald. Ia pun menjadi gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
“Iya! Kenapa ? Apa ada yang salah ?” sahut Ronald, membuat Feby tersenyum kecil. Tampaknya Feby sedikit mengerti maksud dari perkataan Ronald.
“Ti.. tidak apa – apa pak! Sa.. saya tidak mempermasalahkan ini lagi! Wajah saya juga sudah tidak sakit lagi! Sa.. Saya ijin permisi dulu pak!” ucap Sekretaris itu.
“Kamu yakin ?”
“Iya pak! Saya yakin!” jawab Sekretaris itu smbil memegang pipi kirinya yang terasa sakit dan berdenyut akibat tamparan itu.
“Tapi kamu masih memegang pipi, berarti masih sakit dong!” kata Ronald, membuat Sekretarisnya itu seketika melepaskan tangannya dari wajah bekas tamparan itu.
“Ti.. tidak sakit lagi pak! Beneran, sudah tidak sakit! Hehehe! Saya permisi dulu pak! Banyak pekerjaan yang harus di kerjakan!” ucap Sekretaris itu lalu dengan cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
“Lho ? Malah kabur! Hahaha!” kata Feby sesaat setelah Sekretaris itu pergi.
“Ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu sampai menamparnya seperti itu sayang ?” tanya Ronald penasaran.
“Dia bilang orang sepertiku tidak pantas bekerja disini karena aku sama sekali tidak memiliki pendidikan, katanya cleaning service saja punya pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas! Lalu tiba – tiba dia menamparku begitu saja! Aku sangat tidak suka dengan sikapnya yang main tangan begitu saja, ya aku balas saja tamparannya itu!” Feby berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi.
“Oh jadi seperti itu kejadiannya! Berani sekali dia memperlakukan wanitaku seperti itu! Biar aku panggil lagi dia!” kata Ronald sedikit emosi setelah mendengar penjelasan dari kekasih simpanannya itu.
“Tidak bisa seperti itu! Ini sudah termasuk bully! Aku tidak ingin wanita yang sangat aku cintai ini malah di bully di perusahaan milikku sendiri!” ucap Ronald, sembari menyentuh wajah cantik wanita selingkuhannya itu.
“Sudah! Tidak apa – apa kog!”
“Kamu yakin tidak apa – apa ? Di sebelah mana wajah yang kena tampar tadi ?”
“Ini yang sebelah kanan” ucap Feby sembari menyentuh pipi sebelah kanannya.
“Sakit ya ?” tanya Ronald sambil mengusap – usap pipi sebelah kanan wanita selinggkuhannya itu.
“Tadi sih sakit, tapi sekarang sudah tidak sakit lagi!” jawab Feby, membuat Ronald sedikit terharu dengan kebaikan hatinya.
Cup!
__ADS_1
Dalam sekejab, Ronald lansung mengecup bibir mungil Feby dengan lembutnya, membuat Feby sedikit terkejut menyaksikan aksinya itu yang dilakukan secara tiba – tiba.
“I love you sayang!” ucap Ronald dengan lembut.
“I.. Iya! Tapi kenapa tiba – tiba bilang begi…”
Cup!
Belum selesai Feby berbicara, Ronald telah menghentikan ucapannya dengan melanjutkan aksi nakalnya itu. Bagai dunia milik berdua, mereka tidak peduli bermesraan dimanapun dan kapanpun.
Memberikan sebuah pekerjaan kepada Feby merupakan sebuah keuntungan besar bagi Ronald. Ia tidak perlu menyisihkan waktunya untuk bertemu dengan Feby karena sekarang ia telah bebas melakukan apa saja bersama wanita selingkuhannya itu tanpa harus mengatur waktu untuk bertemu demi membuat sang isteri tidak menyimpan curiga kepada dirinya.
Beep.. beep..
Tiba – tiba saja suara telepon genggam milik Ronald menghentikan aksi liarnya itu, membuat ia sedikit kesal.
“Hah! Isteriku, sayang!” kata Ronald kepada Feby.
“Oh!” jawab Feby singkat, tampaknya ia merasa cemburu menyaksikan Ronald yang begitu mengutamakan wanita yang telah menjadi isteri sahnya itu.
“Halo sayang!” ucap Ronald, sesaat setelah menjawab teleponnya.
Sementara itu di suatu ruangan, tampak Sekretaris tadi sedang mengobati luka pada bibir bekas tamparan Feby.
“Awas saja kamu ya anak baru! Berani – beraninya menampar wajahku sampai terluka begini!” ucap Sekretaris tersebut dengan penuh dendam dan amarah.
“Memangnya karena kamu telah menolong pak Ronald dari pencopet bisa sesuka hatimu berbuat seperti itu kepadaku ?”
“Aku ini karyawan senior sekaligus tangann kanan pak Ronald! Bisa – bisanya perempuan yang tidak berpendidikan seperti itu menampar wajahku! Memang harus diberi pelajaran!”
“Tapi bagaimana ya caranya ? Aku harus membuatnya tidak betah berada di kantor ini, aku juga harus membuat pak Ronald sangat membenci perempuan sialan itu! Pokonya aku harus membuat dia angkat kaki dari kantor ini!”
Tampaknya Sekretaris Ronald tersebut sedang merencakan sesuatu untuk membalas perbuatan Feby kepadanya. Dengan tekad yang kuat dan dendam di hati, ia menulis perihal apa saja yang akan dilakukannya kepada Feby, wanita yang telah berani menampar dirinya tanpa ragu dan rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung..