
Beberapa menit kemudian, telah sampailah Bela bersama dengan pak Asep.
Tanpa menunggu lama, pak Asep lansung menghantar Bela menuju kamar tidur Luna.
“Mamaaa! Bela pulang!” teriak Bela sambil membuka pintu kamar Luna tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dulu.
“Hei sayang!” sahut Luna dengan nada suara pelan dan lemah.
“Ini Bela bawain cokelat untuk mama agar cepat sembuh!” kata Bela sembari memberikan cokelat yang telah dibelinya dari supermarket tadi.
“Makasih ya sayang!” ucap Luna.
“Sama – sama mama!” kata Bela dengan manjanya.
“Pak Asep, Ronald belum ada kabar juga ya?” tanya Luna, membuat pak Asep sedikit gugup.
“Ti.. tidak ada bu! Pak Ronald belum ada kabar sama sekali! Saya juga belum melihat pak Ronald dari tadi bu!” jawab pakAsep berbohong, ia berusaha menyembunyikan tingkah laku Ronald di belakang Luna demi kesehatan batin Luna dan Bela.
“Saya semakin khawatir, pak Asep buat laporan orang hilang bisa?” ucap Luna’.
“Kalau boleh tau, buat apa bu?” tanya pak Asep penasaran.
“Saya takut Ronald kenapa – kenapa! Sudah dua hari tidak ada kabar sama sekali, handphonenya juga mati, tidak bisa dihubungi!”
“Menurut saya, ibu tidak perlu membuat laporan orang hilang bu karena saya sangat yakin kalau pak Ronald itu baik – baik saja!” ucap pak Asep tanpa rasa ragu sedikitpun.
“Bagaimana mungkin mungkin kamu bisa seyakin itu?” tanya Luna sedikit kesal kerena menyaksikan dua orang pekerjanya begitu teguh pada keyakinan masing – masing seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Tiba – tiba
“Permisi bu! Saya bawakan makan siang, waktunya makan siang dan minum obat!” bibi datang sambil membawa makanan.
“Yasudah kalau begitu, kamu sudah boleh pergi!” kata Luna kepada pak Asep.
“Baik bu!” jawab pak Asep, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Bi, tolong urus Bela sebentar ya!” kata Luna kepada bibi.
“Mama! Bela mau disini dulu bersama mama!” ucap Bela.
“Bela mau disini dulu ya? Yaudah tidak apa – apa tetapi jangan berisik dulu ya sayang soalnya mama sedang sakit!” kata Luna kepada Bela.
“Iya mama!”
__ADS_1
“Yasudah bi, nanti akan saya panggil lagi ya!” kata Luna kemudian kepada bibi.
“Baik bu! Kalau begitu bibi permisi dulu ya bu!” ucap bibi, lalu pergi menuju dapur.
Setibanya bibi di dapur, ia mendapati pak Asep sedang asik menikmati makan siang di meja makan khusus para pekerja yang berada di rumah itu.
“Mbak! Saya punya rahasia!” kata pak Asep mengejutkan bibi.
“Rahasia apa? Lebih baik kamu makan saja dulu! Pikirkan juga pekerja yang lainnya masih belum makan!” kata bibi.
“Aku serius mbak! Ini tentang pak Ronald!” ucap pak Asep membuat bibi sedikit penasaran.
“Ha? Pak Ronald? Memangnya ada apa dengan pak Ronald?” Dengan cepat, bibi menarik kursi yang berada di dekatnya lalu duduk disana untuk mendengarkan cerita dari pak Asep.
“Kan.. kan..! Pingin tahu juga!” goda pak Asep.
“Rahasia apa? Cepat cerita! Aku penasaran!”
“Tadi gak mau!”
“Itu kan tadi!”
“Tadi aku melihat pak Ronald di supermarket waktu temani non Bela membeli cokelat!” ucap pak Asep semakin membuat bibi merasa penasaran.
“Nah kan! Benar feeling aku! Pasti pak Ronald itu ada main di belakang!” lantang bibi.
“Sssstt! Jangan keras –keras mbak! Nanti di dengar bu Luna, kasihan mereka!” ucap pak Asep, membuat bibi seketika melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang disana.
“Terus – terus gimana?” tanya bibi sangat penasaran.
“Ternyata pak Ronald tidak masuk kerja, kata Sekretarisnya pak Ronald pergi dengan karyawan barunya sejak kemarin. Menurut aku sih, perempuan itu pasti karyawan baru pak Ronald!" kata pak Asep menjelaskan dengan antusiasnya.
"Ha? Jangan - jangan pak Ronald sengaja membuat perempuan selingkuhannya bekerja di perusahaannya agar lebih banyak waktu untuk bertemu!" ucap bibi dengan tatapan mata melotot seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Pikiran seperti apa itu mba?" pak Asep sedikit bingung mendengar perkataan bibi yang tidak masuk akal baginya.
"Feeling saja! Feeling aku itu tidak pernah salah!"
Sementara itu di apartemen tempat kediaman Feby, tampak Feby sedang memasak makan siang untuk dirinya dan kekasih tercintanya yaity Ronald.
"Sayang!" panggil Ronald yang duduk menemani dirinya memasak.
"Ya?" sahut Feby sembari menyiapkan bahan - bahan masakan.
__ADS_1
"Kamu kog sempurna sekali ya?"
"Sempurna gimana sih sayang? Kamu ya, dikit - dikit menggombal!"
"Aku serius! Sudah cantik, baik, pinter masak, jago lagi"
"Jago apa?" tanya Feby penasaran sambil membersihkan daging ayam yang sudah di potong - potong.
"Jago di ranjang" jawab Ronald dengan genitnya.
"Pikiran kamu itu ya, asik kesitu saja! Lebih baik bantuin aku masak!"
"Sayang!" panggil Ronald lagi tanpa menghiraukan ucapan wanita selingkuhannya itu.
"Ya? Kenapa lagi sayangku?" Seketika Feby memandang Ronald tanpa berpaling sedikitpun.
"I love you!" ucap Ronald cengengesan.
"Huh! Aku lanjut masak dulu deh! Kamu jangan ganggu dulu sayang! Lebih baik duduk tenang, doakan agar masakan aku ini enak!"
"Siap buk Boss!" lantang Ronald.
Tampaknya ia sangat berbahagia berada di apartemen milik wanita selingkuhannya itu.
Sudah dua hari lamanya ia berada disana tanpa mengaktifkan ponsel miliknya agar Luna, isteri sahnya tidak dapat mengganggu kebersamaan dirinya dengan Feby, wanita selingkuhannya itu.
Mungkin saat ini, ia telah benar - benar melupakan isteri dan putri satu - satunya. Tak pernah sedetikpun bayangan isteri dan putrinya muncul di pikirannya seperti pada saat awal - awal ia memulai perbuatan kotor ini.
"Sayang! Aku pingin lagi!" Tiba - tiba saja Ronald telah berada di belakang Feby yang sedang fokus memasak.
"Sayang, aku sedang masak lho!"
"Matikan dulu! Aku masih mau!" ucap Ronald dengan manjanya.
Hal seperti ini tidak pernah dilakukannya kepada Luna, isteri sahnya. Bahkan sudah satu bulan lebih lamanya ia tidak menyentuh isterinya sama sekali. Ia telah melupakan bahwa seorang wanita akan merasa kesepian tanpa belaian dan pelukan hangat dari suaminya.
Tampaknya saat ini yang ada di pikiran Ronald hanyalah Feby sang wanita selingkuhannya sehingga rela mengabaikan keluarga kecilnya yang sangat mencintai dirinya.
"Nanti kamu lapar lho kalau masakannya ditunda - tunda begini!" kata Feby.
"Enggak mau! Mau makan kamu saja!" Masih dengan manjanya, Ronald mematikan kompor yang masih menyala itu, lalu memeluk tubuh Feby dengan mesranya.
Tanpa mengenal waktu dan tempat, dengan lembut Ronald membelai mesra tubuh wanita selingkuhannya itu di dapur. Tak lama kemudian, adegan suami isteri itupun kembali terjadi lagi.
__ADS_1
Bersambung..