
Beberapa saat kemudian, Feby dan Edo pergi meninggalkan restoran itu. Ronald yang dipenuhi dengan rasa penasaran memutuskan untuk mencari tahu hubungan antara Feby dan lelaki itu.
“Sayang ! Kita pulang sekarang yuk ! Tiba – tiba aku ingat ada pekerjaan hari ini dikantor !” Ronald mencoba mencari sebuah alas an agar dapat menyusul Feby.
“Papa mau kerja ya ?” tanya Bela dengan manjanya.
“Iya sayang ! Besok kita jalan – jalan lagi ya !” jawab Ronald dengan lembut.
“Sayang, kalau memang ada pekerjaan kenapa gak dikerjain saja tadi ? Lagi pula selama sebulan ini kita sudah menghabiskan waktu bersama !” ucap Luna kepada Ronald.
“Iya sayang ! Aku lupa, yasudah kalau begitu aku antar kalian pulang dulu ya !” Dengan cepat Ronald mengajak isteri dan putrinya untuk kembali kerumah.
Luna yang menyaksikan itu, merasa sangat terganggu melihat Ronald yang begitu tergesa – gesa seperti sedang mengejar sesuatu.
“Sayang ! Kalau kamu buru – buru yasudah tidak apa – apa ! Kami bisa pulang naik taksi kog !” ucap Luna.
“Tapi sayang, aku khawatir sekali kalau tidak mengantar kalian pulang dulu !”
“Tidak apa – apa lho sayang ! Yasudah kamu buruan jalan gih !”
“Em.. Yasudah kita pulang bersama saja ! Nanti aku bisa urus pekerjaan !” Ronald yang tampak bingung akhirnya memilih untuk menghantarkan isteri dan putrinya pulang kerumah.
Sementara itu Feby dan Edo telah pergi menuju sebuah hotel mewah yang ada di kota ini dengan mengendarai mobil mewah milik Edo.
Edo adalah seorang investor terkaya di Negara ini, ia juga memiliki banyak perusahaan. Kekayaan yang dimiliki Edo hampir setara dengan kekayaan yang dimiliki oleh Ronald, hanya saja mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Edo merupakan pelanggan pertama yang telah dilayani oleh Feby beberapa tahun lalu.
“Aku dengar dari mami Vera, katanya kamu tidak bekerja sebagai wanita penghibur lagi ya ?” tanya Edo mencoba membuka percakapan di dalam mobil.
“Ya !” jawab Feby singkat.
“Bagus dong kalau begitu ! Kamu tidak perlu melayani banyak laki – laki, lebih baik kamu melayaniku saja ! Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu jika kamu mau !” ucap Edo.
“Kalau boleh saya tahu, apa yang membuat kamu berpikir untuk berhenti dari pekerjaan itu ?” tanya Edo penasaran.
“Tidak ada ! Aku hanya sedang bosan saja !” ketus Feby.
“Oh begitu ! Eh kita sudah sampai nih !”
Mereka pun telah sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, mereka pun turun dari mobil dan bergegas menuju kamar yang telah dipesan oleh Edo sebelumnya.
“Yuk disebelah sini !” ucap Edo sembari menggenggam jemari Feby.
Tanpa sepatah katapun, Feby mengikuti Edo menuju kamar hotel yang telah di pesan.
Sesampainya disana, Edo lansung melepas pakaiannya lalu duduk diatas sofa tepat berada di jendela kaca hotel.
“Sini cantik !” panggil Edo kepada Feby.
Dengan pasrah, Feby pun menghampiri lelaki itu, rasa sakit hati dan cemburu membuat ia kembali memberikan tubuhnya kepada lelaki lain.
“Kamu itu selain cantik juga sangak seksi ! Saya suka wanita seperti kamu !” ucap Edo sembari menyentuh tubuh Feby dengan lembut.
“Ingat ! Kau harus membuat aku melupakan segalanya seperti yang telah kau janjikan sebelumnya !” kata Feby dengan wajah datarnya.
“Hahaha ! Tentu dong cantik, apa sih yang enggak buat kamu !” Edo pun memulai aksinya tersebut.
Sementara itu ditempat kediaman Ronald, tampak Ronald sangat gelisah memikirkan lelaki yang bersama Feby pada saat di restoran tadi.
“Siapa ya lelaki itu ? Apa itu kekasihnya ? Kenapa mereka terlihat mesra sekali ?” Seketika Ronald membayangkan Edo memegang jemari Feby pada saat di restoran tadi.
“Kenapa sayang ?” Tiba – tiba saja Luna isterinya menghampiri dirinya yang terlihat gelisah sedari tadi.
“Em.. Aku hanya kepikiran pekerjaan sayang !” jawab Ronald berbohong.
“Kalau memang penting, lebih baik diselesaikan dulu ! Aku gak tega melihat kamu kepikiran seperti ini sayang !” ucap Luna dengan lembut.
“Tapi sayang, kalau aku ke kantor hari ini, takutnya aku gak bisa pulang malam ini !” Ronald mencoba mencari sebuah alasan agar ia dapat menikmati malam ini bersama Feby di dalam sebuah hotel.
“Hem ! Yasudah tidak apa – apa ! Tapi kamu jangan sampai tidak tidur ya ! Harus jaga kesehatan juga !” Dengan polosnya, Luna percaya begitu saja dengan ucapan Ronald.
“Beneran tidak apa – apa sayang ?” tanya Ronald memastikan.
“Iya sayang !”
“Yakin ? Aku merasa tidak enak membiarkan kalian berdua dirumah sendirian !”
“Sudahlah ! Selesaikan dulu pekerjaan kamu baru pulang ! Nanti aku marah lho kalau bertanya lagi !”
__ADS_1
“Hehehe ! Makasih ya sayang, kamu memang isteri yang pengertian ! I love you so much !” ucap Ronald, lalu mengecup kening Luna.
Tanpa berpikir panjang, Ronald pun mengemas beberapa pakaiannya untuk dibawa ke sebuah hotel. Tidak disangka, rencananya dapat berjalan mulus tanpa harus bersusah payah meyakinkan Luna isterinya itu.
“Aku pergi dulu ya sayang !” ucap Ronald berpamitan.
“Iya hati – hati ya !”
“Papa gak tidur dirumah ya malam ini ?” tanya Bela.
“Papa ada sedikit pekerjaan sayang ! Bela dirumah sama mama ya !” jawab Ronald dengan lembut.
Ronald pun pergi denga mngedarai mobil pribadinya. Di dalam mobil ia berusaha menghubungi nomor telepon milik Feby, namun tidak ada jawaban.
Berkali –kali ia mencoba menghubungi nomor telepon tersebut namun tetap saja tidak ada jawaban.
Sementara Feby dan Edo sedang asik bergulat diatas ranjang dengan ganasnya, membuat Feby tidak menghiraukan tepon genggamnya yang telah berdering berulang kali.
Beberapa menit kemudian Ronald pun sampai di sebuah hotel mewah tepat di hotel tempat Feby dan Edo bersenang – senang.
“Kemana sih ? Apa yang dilakukannya ? Kenapa telfonku tidak diangkat sama sekali ? Apa dia selingkuh ya ?” Ronald yang gelisah selalu dipenuhi dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
Iapun memutuskan untuk menghubungi kembali nomor telepon milik Feby, namun masih juga tidak ada jawaban darinya. Dengan terpaksa Ronald menghentikan aksinya itu, ia hanya bisa menunggu kabar dari Feby dengan perasaan resah dan gelisah.
Beberapa menit kemudian, Feby dan Edo telah selesai melakukan hal itu. Edo yang tampak lelah terbaring lemah diatas ranjang tepat berada disamping Feby.
“Hosh.. Hosh ! Kamu memang luar biasa !” ucap Edo kepada Feby dengan nafas yang tidak beraturan.
“Hosh.. Hosh.. Hosh !” Feby pun demikian, nafasnya tampak terngah – engah setelah melakukan adegan itu secara brutal.
Secara perlahan ia mengambil telepon genggam miliknya dari atas meja tepat berada disebalh ranjang.
Terdapat tigapuluh lima panggilan tidak terjawab dari Ronald, dan sepuluh pesan dari Ronald, membuat Feby seketika terkejut.
“Ronald ?” batin Feby sembari bangkit dari tidurnya dan duduk disebelah Edo yang telah tertidur.
“Kenapa dia menelfonku sebanyak ini ?” batinnya lagi.
Bersambung..
__ADS_1