
Mentari pagi bersinar dengan terangnya, cuaca di pagi hari inipun terlihat sangat cerah, jalanan tampak ramai seperti biasanya.
"Morning sayang!" sapa Ronald dengan lembutnya sesaat setelah menyaksikan wanita selingkuhannya itu bangun dari tidurnya.
"Lho sudah bangun sayang?" tanya Feby masih dengan mata mengantuknya.
"Yasudah dong! Sudah bangun sejak jam tujuh tadi, lalu aku memandang wajah cantik kekasihku yang sedang tertidur pulas" goda Ronald sembari mencubit pipi wanita selingkuhannya itu dengan lembut.
"Sekarang jam berapa?" tanya Feby, membuat Ronald menoleh ke arah jam di dinding saat itu juga.
"Sekarang sudah jam sepuluh!" jawab Ronald kemudian.
"Ya ampun, aku bangunnya kesiangan! Telat kerja dikantor kamu sayang! Padahal aku karyawan baru disana!" ucap Feby.
"Sudah tidak apa - apa! Kamu kan sudah menjadi asisten pribadi saya, ya tidak perlu harus absen masuk kantor!" jawab Ronald dengan candanya.
"Lho ? Kenapa begitu sayang ? Nanti kalau karyawan lain tidak terima gimana ?"
"Kenapa tidak terima ? Yang punya perusahaan kan kekasihmu ini!" gurau Ronald.
"Lagi pula asisten pribadi kerjanya bukan di kantor! Kerja asisten pribadi itu hanya selalu dekat - dekat dengan bosnya!" ucap Ronald kemudian.
"Oya ? Gak harus duduk di kantor ya ?" tanya Feby sedikit kebingungan.
"Ya tidak perlu! Tugas asisten pribadi itu adalah pelukan sama bos, sayangi bos sepenuh hati dengan cinta, temeni bos sedang tidur!" kata Ronald dengan candanya sembari tersenyum kecil.
"Masa sih sayang ? Apa semua asisten pribadi seperti itu ya ?"
"Ya enggak! Hanya kamu saja yang seperti itu!"
"Lho ? Kog hanya aku ?"
"Iya karena, kamu adalah kekasih bos!!" jawab Ronald, lalu tertawa kecil kecil.
"Ih kamu ya! Selalu buat kesal, mentang - mentang aku tidak punya sekolah, selalu di bodoh - bodohi!" kesal Feby dengan manjanya.
"Uluuhh si cantiknya bos Ronald ngambek! Sini peluk dulu!" ucap Ronald sembari, lalu mendekap erat tubuh kekasih simpanannya itu.
"Jangan gitu lagi, aku marah entar!"
"Iya - iya!" jawab Ronald sembari tetap memeluk erat tubuh kekasih simpanannya itu.
__ADS_1
"Em! Sayang!"
"Hem ? Ada apa lagi?"
"Handphone kamu gak di cas ?" tanya Feby penasaran.
"Biarin saja!"
"Nanti kalau isteri kamu nyariin gimana ?"
"Ya tidak apa - apa! Justru karena dia nyari makanya handphone sengaja saya matikan!"
"Kamu yakin ?"
"Yakin lho sayang! Sudah ah, sini peluk lagi!" ucap Ronald, lalu kembali memeluk erat tubuh wanita selingkuhannya itu.
"Kamu tidak ingin pulang ke rumah dulu agar isterimu tidak khawatir?" tanya Feby.
"Tidak perlu! Aku akan menginap disini selama tiga hari! Pokonya selama tiga hari ini, aku ingin hidup tenang tanpa pekerjaan, gangguan isteri dan anak!" jawab Ronald menjelaskan keinginannya itu.
"Yaudah deh kalau memang ingin seperti itu? Yang penting jangan sampai ribut dengan isteri karena aku ya!" ucap Feby.
"Iya bawel! Makasih ya sayang sudah pengertian selama ini, memang tidak ada wanita sepertimu di dunia ini!" kata Ronald sembari membelai lembut rambut panjang wanita selingkuhannya itu.
Dengan kepala yang masih di balut perban, ia menyandarkan tubuhnya, lalu mencoba menghubungi kembali nomor telepon suami tercintanya itu. Namun tetap saja nomor itu masih tidak dapat di hubungi sama sekali, membuat Luna semakin bertambah khawatir.
"Kemana sih? Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadamu Ronald?" batin Luba bertanya - tanya.
"Apa perlu aku lapor ke polisi saja ya?" batinnya lagi.
"Sarapan dulu bu!" Tiba - tiba bibi datang mengagetkan dirinya sambil membawa sarapan pagi untuk dirinya.
"Eh bi, buat kaget saja!" ucap Luna.
"Maaf bu! Tetapi ibu harus makan agar luka di kepala ibu cepat sembuh!" kata bibi semabari meletakkan makanan tersebut diatas meja.
"Hahaha! Apa hubungannya makan dengan luka di kepala saya ini bi?" Sesaat Luna tertawa lucu setelah mendengar perkataan bibi.
"Ya ampun bu, maksud saya itu agar ibu cepat minum obat, bibi beneran tidak sanggup melihat luka seperti itu bu! Tubuh ini lansung lemas setiap melihat darah sedikit saja" jawab bibi.
"Oh jadi begitu" ucap Luna sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Ih si ibu dikasih tahu gak percaya!" kesal bibi.
"Iya iya! Saya percaya bi! Mana sini makanannya!"
Bibi yang sudah bertahun - tahun bekerja di rumah itu terlihat begitu akrab dengan Luna karena perlakuan Luna kepada pekerja dirumah sangatlah ramah dan bersahabat sehingga siapapun yang bekerja dengannya akan merasa nyaman.
"Bi!" ucap Luna kepada bibi yang sedang duduk menunggunya menyantap habis sarapan pagi yang telah disediakannya untuk Luna.
"Iya bu?" jawab bibi sedikit mengkerutkan keningnya.
"Menurut bibi, apa perlu saya melapor ke kantor polisi atas kehilangan Ronald?" tanya Luna sembari menyantap sarapan paginya.
"Kalau menurut bibi sih jangan di lapor dulu bu! Karena belum tentu juga bapak hilang, bisa saja bapak sedang sibuk bekerja sehingga lupa mengisi batrai handphonenya!" jawab bibi menduga - duga.
"Iya sih! Tapi perasaan saya tidak enak dari kamaren, takut terjadi apa - apa kepada Ronald!"
"Ibu berdoa saja! Bibi sangat yakin bapak pasti baik - baik saja! Mungkin saja saat ini bapak sedang bersama rekan bisnisnya!" ucap bibi mencoba menenangkan majikannya tersebut.
"Iya juga ya bi! Kalau begitu, setelah tiga atau dua hari saya akan buat laporan orang hilang ke kantor Polisi!"
"Nah begitu baru betul bu! Pokonya ibu tenang saja! Bibi sangat yakin kalau bapak baik - baik saja!" ucap bibi, sesaat ia memandang wajah majikannya itu dengan penuh rasa iba.
"Kasihan sekali ibu, sejak kecelakaan sampai saat ini, pak Ronald belum juga pulang! Semoga saja pak Ronald cepat kembali!" batin bibi sembari menatap wajah majikannya yang sedang menyantap sarapan pagi dengan lahapnya.
Beberapa menit kemudian, makanan yang diberikan oleh bibi telah habis disantap tanpa menyisakan satu butirpun nasi di atas piring putih itu.
"Lansung minum obat ya bu!" ucap bibi sembari membuka bungkus obat - obatan yang telah diberikan oleh dokter kemaren malam sewaktu berada di rumah sakit, lalu mengambil tablet demi tablet dari dalam bungkus obat tersebut untuk disantap oleh Luna.
"Makasih ya bi!" kata Luna sembari menerima obat - obatan yang diberikan oleh bibi, lalu meneguknya bersamaan dengan air putih yang telah disediakan oleh bibi sebelumnya.
"Oh iya, tadi Bela siapa yang antar ke sekolah?" tanya Luna sesaat setelah selesai meneguk obat tersebut.
"Tadi pak Asep yang antar bu!" jawab bibi sembari merapikan bungkusan - bungkusan obat tersebut.
"Oh! Nanti kalau Bela pulang, tolong bibi urus dulu ya, saya belum bisa mengurus Bela karena kepala saya masih sakit dan denyut - denyut!" kata Luna.
"Iya bu! Sudah pasti akan saya urus, ibu istirahat saja dengan tenang agar cepat sembuh! Mari bibi bantu keatas bu!" ucap Bibi.
"Iya, sepertinya saya memang harus istirahat! Rasanya kepala ini sakit sekali seakan ingin pecah!"
"Ibu bicara apa sih? Jangan suka bicara sembarangan bu, pantang kata orangtua zaman dulu! Mari bu, pelan - pelan saja!" ucap bibi, lalu memapah Luna secara perlahan menuju kamar tidurnya.
__ADS_1
Bersambung..