
Ronald dan Feby pun saling bertukar nomor telepon untuk memudahkan mereka dalam berkomunikasi.
"Saya pulang dulu ya pak !" ucap Feby berpamitan.
"Iya ! Mau saya antar ?"
"Ah tidak perlu ! Lagi pula istri bapak sedang menunggu dirumah ! Tadi malam saya melihat istri bapak menelfon berulang kali !"
"Oh iya juga ! Yasudah kalau begitu, kamu hati - hati ya !"
"Baik pak ! Saya permisi !"
Feby akhirnya pulang kerumah dengan perasaan riang gembira.
Untuk pertama kali di dalam hidupnya, ia merasakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Selama ini yang ia tunjukkan kepada orang - orang hanyalah kebahagiaan palsu.
Sedangkan Ronald kembali ke rumahnya untuk menghilangkan perasaan bersalah di hatinya.
Beberapa lama kemudian, telah sampailah Ronald di tempat kediamannya.
Anak dan istrinya menyambutnya dengan pakaian rapi seakan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
"Lho ? Mau kemana pagi - pagi sudah rapi begini ?" tanya Ronald penasaran.
"Papa masa tidak tahu ? Bela dan mama mau pergi kerumah nenek berlibur !" jawab Bela dengan riang gembira.
"Oya ?"
"Iya papa !"
"Sayang ? Ada apa ? Kenapa tiba - tiba pergi begini ?" tanya Ronald kepada Luna.
"Sepertinya aku harus pulang ke rumah mama dulu sayang ! Akhir - akhir ini aku merasa hubungan kita tidak baik ! Aku ingin menenangkan diri dulu selama satu bulan sampai Bela kembali sekolah" jawab Luna, membuat hati Ronald seketika merasa sedih.
"Tapi kenapa mendadak sekali ? Kita bisa perbaiki disini tanpa harus pulang kan ?" Ronald tampaknya tidak ingin berpisah begitu lama dari istri tercintanya itu.
"Sebulan saja lho ! Tidak sampai setahun kog ! Lagi pula udah lama gak pulang ke rumah mama, jadi sesekali tidak masalah kan sayang ?"
"Iya tapi rumah mama kan di luar negeri ! Itu bukan jarak yang dekat lho ! Kalau di dalam kota, aku masih bisa melihatmu meski sekali dalam seminggu !"
"Kamu ternyata tidak berubah ya ! Masih saja manja, tidak bisa di tinggal sendiri padahal cuma sebulan lho !" kata Luna sembari tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku antar sampai kerumah !" Ronald berniat untuk menghantarkan Luna dan putrinya sampai ke depan rumah orangtua Luna yang berada di Amerika.
"Tidak perlu sayang ! Malah merepotkan kalau seperti itu !"
__ADS_1
"Terus sekarang mau lansung berangkat ?" tanya Ronald terlihat sedih.
"Oh aku lupa ngabarin, tadi malam aku sudah booking tiket pesawatnya !"
"Yasudah, kalau begitu aku antar ke bandara ya !"
Mereka pun pergi menuju bandara.
Setibanya disana, Ronald memeluk istri tercintanya itu erat - erat.
"Maafin aku ya sayang ! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu di rumah sendirian ! Aku memang suami yang tidak berguna !" ucap Ronald sembari tetap memeluk erat tubuh istri tercintanya itu.
"Aku akan merindukan mu ! Pulanglah dengan cepat ya !" Ronald mengecup kening Luna dengan penuh kasih sayang.
Kini ia menyadari bahwa perbuatannya selama ini sangat salah. Ia menyesal karena selalu meninggalkan Luna dalam amarahnya, ia juga menyesal telah tidur bersama wanita lain tadi malam.
Tak henti - hentinya Ronald memeluk tubuh istrinya itu sembari sesekali mengecup keningnya.
"Sayang ! Hei ! Sudah dong ! Malu dilihat banyak orang !" ucap Luna tersipu malu.
"Biarkan saja ! Aku tidak peduli pada mereka ! Yang aku pedulikan hanya kamu seorang dan Bela putri kita !" jawab Ronald tanpa melepas pelukannya.
"Aku mencintaimu ! Maafkan aku sayang ! Maafkan aku !" Tiba - tiba saja Ronald menangis sembari tetap memeluk istri tercintanya itu.
"Hei ! Kamu menangis ? Kenapa ? Kamu tidak salah kog ! Kita sama - sama salah ! Aku juga salah karena selalu mengomel setiap kali kamu pulang ke rumah ! Aku yakin tidak ada seorangpun yang betah jika seperti itu ! Sudah sayang, jangan menangis ! Malu dilihat Bela lho ! Entar dikira aku nyubit kamu lagi" Luna menghapus air mata yang terjatuh membasahi wajah suaminya. Ia juga berusaha menghibur suami tercintanya itu.
"Papa ? Papa kenapa ?" tanya Bela dengan polosnya.
"Ah papa tidak apa - apa sayang ! Sini peluk papa !" Ronald memeluk putri kesayangannya dengan penuh kasih sayang.
"Nanti kalau sudah sampai dirumah nenek, lansung telfon papa ya !" kata Ronald kepada Bela.
"Okke papa !" jawab Bela dengan centilnya.
"Janji ya ! Kalau sampai tidak di telfon, nanti papa sedih lho !"
"Iya lho papa ! Bela pasti telfon papa !"
"Gitu dong baru anak papa !"
"Sayang ! Pesawatnya sebentar lagi mau berangkat, kami harus pergi sekarang, takutnya ketinggalan, kan sayang ongkosnya !" kata Luna kepada Ronald.
"Oh ! Yasudah kalau begitu, hati - hati ya sayang !" Ronald mengecup kembali kening Luna sebagai tanda perpisahan.
"Iya ! Kamu juga hati - hati kalau balik ke rumah ! Jangan begadang ! Makan yang teratur ! Terus satu lagi, jangan tidur di luar selama aku pergi, okey ?" ucap Luna.
__ADS_1
"Iya bawel ! Mulai detik ini, aku tidak akan tidur di luar lagi ! Aku akan tidur di rumah meski istriku tercinta mengomel setiap hari !" jawab Ronald, membuat Luna tersenyum sesaat.
"Yasudah kami pergi dulu ya ! Bye ! Jaga diri !" ucap Luna berpamitan.
"Bye papa ! Jangan nangis lagi ya papa !" kata Bela kepada Ronald.
"Iya bawel ! Kiss papa dulu !" ucap Ronald sembari mengarahkan pipi kanannya kepada Bela.
"Ummah ! Bye papa !"
"Bye sayang ! Hati - hati ya !"
Istri dan putrinya pun pergi meninggalkannya, kini ia harus tinggal sendiri di dalam rumah megah miliknya.
Tentu saja rumah sebesar itu akan membuatnya kesepian, namun ia harus memegang janjinya untuk tidur di dalam rumah setiap malam.
Ronald pun kembali kerumahnya.
Tak berapa lama kemudian, ia telah sampai dirumahnya yang begitu megah bagai istana.
Ia meraih foto anak dan istrinya lalu memandanginya dalam - dalam.
Baru sebentar saja berpisah, rasa rindu dihatinya telah muncul.
"Permisi pak !" Tiba - tiba seorang wanita paruh baya mengagetkan Ronald. Wanita itu adalah asisten rumah tangga di rumah ini.
"Oh iya, ada apa bi ?" tanya Ronald.
"Saya mohon ijin libur selama dua minggu lebih pak !"
"Lho kenapa ?"
"Di kampung sedang ada kemalangan, saya dan suami saya harus pulang pak !"
"Oh yasudah tidak apa - apa, turut berduka cita ya bi ! Pak Asep juga ikut pulang ?"
Pak Asep adalah suami dari asisten rumah tangga, ia juga bekerja sebagai tukang kebun dan mencuci mobil di rumah ini.
"Iya pak, kami berdua mohon ijin untuk libur ! Suami saya tidak bisa meminta ijin secara lansung karena suami saya sedang berduka dirumah atas kematian ibunya pak !" jawab bibi menjelaskan.
"Oh begitu ! Yasudah tidak apa - apa !" ucap Ronald.
"Oh iya, ini ada sedikit uang, semoga cukup untuk ongkos pulang dan pergi ya !" ucap Ronald sembari memberikan uang berjumlah duajuta rupiah sebagai tanda belasungkawa.
"Trimakasih pak ! Saya permisi !"
__ADS_1
"Iya ! Silahkan !"
Bersambung..