
Tanpa berpikir panjang, Feby bergegas menuju toilet sembari membawa telepon genggam miliknya.
Sesampainya di toilet, ia mencoba menghubungi Ronald. Tak butuh waktu lama, Ronald pun lansung menjawab panggilan tersebut.
“Halo !” sapa Ronald melalui telepon genggam miliknya.
“Ada apa mencariku ?” tanya Feby penasaran.
“Kamu kemana ? Sama siapa ? Dan dimana sekarang ?” Tanpa basa –basi, Ronald melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya.
“Memangnya kenapa ? Bukannya kamu sedang bersama isterimu ya ?”
“Aku tanya, kamu dimana sekarang ?”
“Aku lagi diluar ! Ada apa ?”
“Dimana ? Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga !”
“Maaf ! Aku tidak ingin bertemu saat ini !” Feby yang merasa kesal memutuskan untuk menolak permintaan Ronald.
“Kenapa ? Ada apa denganmu ? Kenapa tiba – tiba tidak ingin bertemu ?” tanya Ronald penasaran.
“Kamu masih bisa bertanya seperti itu ? Dimana pikiran dan hatimu ? Selama satu bulan aku menunggu kabar darimu, tetapi kamu tidak pernah mencariku sedetikpun ! Hiks !” Perasaan kecewa dan sakit hati membuat Feby tidak sengaja menangis, Ronald pun sedikit terkejut mendengar suara tangisan Feby.
“Hei ! Jangan menangis ! Aku minta maaf !” Ronald yang merasa bersalah mencoba menenangkan Feby dengan suara lembut.
“Tidak apa – apa ! Tidak usah dipikirkan ! Hiks” ucap Feby sembari tetap menangis.
“Aku hanyalah perempuan selingkuhan yang dipakai saat kamu bosan dengan isterimu ! Hiks Hiks” Feby melanjutkan ucapannya.
“Aku juga cukup mengerti posisiku ! Tidak apa – apa ! Tidak ada yang salah disini ! Hanya aku yang terlalu berharap lebih ! Hiks !” ucapnya lagi sembari tetap menangis.
“Cantiiik ! Saaayang ! Tenang yaa ! Sekarang posisi kamu dimana ? Lebih baik kita bertemu dulu ya !” Ronald mencoba membujuk Feby agar ia menuruti keinginannya untuk bertemu.
“Bagaimana dengan istrimu ? Hiks !” tanya Feby sembari berusaha menghentikan tangisannya.
“Aku sekarang sedang berada di Hotel Diamond ! Malam ini aku tidak tidur dirumah !”ucap Ronald, mengagetkan Feby.
“Hotel Diamond ? Berarti Ronald sekarang berada di hotel ini ?” batin Feby seketika.
“Halo ! Sayang !” panggil Ronald.
“Kamu beneran berada di hotel Diamond sekarang ?” tanya Feby mencoba memastikan.
“Iya ! Mau aku jemput ?”
“Oh tidak usah ! Aku datang sendiri saja ! Kamar nomor berapa ?”
“Kamar nomor duapuluh, ada dilantai dua !”
Jlep !
Seketika Feby terkejut setelah mendengar jawaban dari Ronald. Ternyata kamar yang dipesan Ronald berada satu lantai dengan kamar yang dipesan oleh Edo.
“Halo ! Sayang !” panggil Ronald lagi.
“I..iya aku akan segera kesana, kebetulan saat ini aku berada di cafe dekat dengan hotel Diamond !” jawab Feby berbohong, ia tidak ingin Ronald mengetahui dirinya telah melakukan pekerjaan kotor itu lagi.
“Aku jemput ya ?”
“Ah tidak usah ! Aku pergi sendiri saja ! Sebentar ya !” ucap Feby, lalu dengan cepat menutup telepon tersebut.
__ADS_1
Kerena begitu besar rasa cintanya kepada Ronald, ia pun memutuskan untuk untuk segera bertemu.
Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya dan mengemasi seluruh barang – barangnya, lalu secara perlahan pergi meninggalkan Edo yang telah tertidur pulas meskipun ia belum mendapatkan bayaran dari Edo sepersenpun.
Beberapa menit kemudian, telah sampailah ia didepan kamar yang dituju. Tanpa menunggu lama, Ronald pun membuka pintu kamar tersebut.
Secara spontan, Feby memeluk erat tubuh yang tegap itu, air mata mengalir deras membasahi pipinya, dalam waktu sekejab tangisannya pun meledak di dalam pelukan Ronald.
“Hei ! Sayang ! Sssstt ! Sudah ya ! Aku salah, aku minta maaf !” Dengan lembut, Ronald membelai rambut Feby sembari mencium keningnya berkali – kali dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa kamu tidak memberikan kabar kepadaku ? Hiks !” tanya Feby.
“Maafin aku !” Ronald yang tidak tahu harus berkata apa hanya bisa meminta maaf.
“Kamu jahat ! Hiks ! Seharusnya aku tidak jatuh cinta kepadamu ! Hidupku pasti lebih bahagia !” ucap Feby lagi.
Ronald yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa memeluk tubuhnya dengan erat sembari membelai rambut panjangnya nan indah.
“Kita duduk dulu ya !” Ronald pun mencoba mengajak Feby untuk duduk di atas ranjang bersamanya.
Tanpa sepatah katapun, Feby hanya menurutinya sembari tetap menangis.
“Minum dulu !” Ronald memberikan segelas air putih kepada Feby.
Gluk !
Lagi – lagi Feby menurutinya dan meneguk air tersebut sampai habis.
“Masa cantik – cantik begini menangis ? Nanti luntur lho cantiknya !” ucap Ronald mencoba merayu Feby.
“Apaan sih ! Gak lucu tahu !”
“Adududuh cantiknya aku menangis !”
“Jangan gitu dong sayang ! Nanti gantian nih, aku yang nangis ya ?”
“Jangan begitu lagi dong ! Aku itu nungguin kabar dari kamu lho selama sebulan penuh !”
“Iya iya ! Aku minta maaf ya !”
“Yaudah !” ketus Feby.
Akhirnya Feby merasa lega, ternyata lelaki yang dicintainya tidak melupakan dirinya.
Sesaat Feby dan Ronald terdiam, suasana menjadi hening bagai tak berpenghuni, sepasang bola mata mereka saling bertatap satu sama lain.
Deg !
Jantung keduanyapun terasa berdebar – debar. Secara perlahan Ronald mendekatkan wajahnya pada wajah Feby yang dihiasi dengan air mata yang masih membekas.
Tiba – tiba
Cup !
Ronald melayangkan sebuah kecupan penuh cinta bercampur hasrat pada bibir indah Feby. Feby pun menyambut kecupan itu dengan hangat.
Kini mereka saling melepas rindu diatas ranjang putih dengan cara melakukan hubungan terlarang itu.
***
Waktu begitu cepat berlalu, jarum jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, mentari telah bersinar cerah menyinari bumi.
__ADS_1
Ronald dan Feby pun terbangun dari tidurnya yang lelap, adegan semalam membuat mereka tampak kelelahan sehingga membuat mereka tertidur pulas.
“Selamat pagi sayang !” ucap Ronald, lalu mengecup kening Feby dengan lembut.
“Pagi juga ! Sudah lama bangun ya ?” tanya Feby masih sedikit mengantuk.
“Baru saja bangun !” jawab Ronald.
“Gimana tidurnya ? Nyenyak ?” tanya Ronald kemudian.
“Hem ? Lumayan ! Kamu gimana ?”
“Sudah pasti nyenyak dong ! Semalam dikasih makanan enak sih sama kamu !” ucap Ronald, membuat Feby tersenyum kecil.
Tiba – tiba
Beepp.. Beepp..
Telepon genggam milik Ronald berdering, sebuah panggilan dari Luna, isterinya.
“Istriku !” ucap Ronald kepada Feby.
“Angkat saja !” kata Feby.
“Kamu jangan berisik ya sayang !” ucap Ronald kemudian, lalu menjawab telepon tersebut.
“Halo sayang !” Sapa Ronald melalui telepon genggamnya, sembari memeluk dan membelai rambut Feby dengan lembut.
“Sayang ! Kamu baru bangun ya ?” tanya Luna.
“Iya sayang ! Semalam aku lembur, jadi tidurnya pagi !” jawab Ronald berbohong.
Feby yang mendengarkan itu hanya bisa tersenyum sembari mencubit pipi Ronald dengan lembut.
“Nakal !” bisik Feby kepada Ronald sembari tersenyum kecil, Ronald hanya membalasnya dengan mengedipkan sebelah bola matanya.
“Aduh sayang ! Kamu jangan terlalu sering begadang dong ! Terus sekarang sudah sarapan belum ?” Luna tampak khawatir mendengar suami tercintanya harus begadang demi menyelesaikan sebuah pekerjaan.
“Belum ! Kan baru bangun !” jawab Ronald manja.
“Yasudah aku antar sarapan ke kantor kamu sekarang ya !”
“Jangan sayang ! Eh maksudku, jangan kesini sendirian, biar aku saja yang jemput !” Seketika Ronald tampak panik.
“Tidak apa – apa ! Daripada kamu begini, malah tidak sehat !”
“Sayang, tolong jangan membuat suamimu ini khawatir ya ! Beban pikiran di kerjaan sudah sangat banyak, jadi jangan di tambahi lagi ya isteriku ! Aku janji akan lansung sarapan !” ucap Ronald berusaha meyakinkan Luna, sembari tetap memeluk tubuh Feby kekasih simpanannya itu.
“Yasudah kalau begitu ! Nanti jangan lupa kirim foto makanannya ya !”
“Iya ! Kamu juga jangan lupa sarapan ya !”
“Aku pasti tidak akan lupa !”
“Gitu dong baru isteriku !” ucap Ronald kepada Luna, lalu mengecup kening Feby.
“Yasudah ya sayang ! Aku lanjut kerja dulu !” Ronald pun mencoba mengakhiri percakapan itu.
“Iya sayang, selamat bekerja ya !” jawab Luna yang percaya begitu saja dengan ucapan suami tercintanya itu.
“Iya sayang !” ucap Ronald, lalu mematikan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung..