
Mentari bersinar dengan terangnya tepat berada diatas kepala yang menandakan bahwa waktu telah menunjukkan pukul duabelas tepat. Tampak Feby sedang duduk dengan raut wajah penuh emosi di dalam kamar hotel milik Edo.
“Sudah kubilang ! Jangan pernah mencoba menipuku !” ucap Edo dengan santainya sembari duduk diatas sofa tepat berada disamping ranjangnya.
“Sebenarnya mau kamu apa sih ?” tanya Feby kesal.
“Coba kirimkan nomor rekening kamu sekarang ! Aku akan mentransfer uang kepadamu saat ini juga !” kata Edo, mengabaikan ucapan Feby.
“Aku tidak butuh duitmu ! Simpan saja duitmu itu !”
“Hah ! Aku tidak suka harga diriku dicoreng oleh orang lain ! Kau memang sangat keras kepala ya ?! Tetapi sayangnya, aku suka dengan wanita sepertimu !” ucap Edo sembari tersenyum tipis.
“Baiklah ! Jika kau tidak ingin memberitahu nomor rekeningmu, biar aku yang akan cari tahu sendiri !” kata Edo kemudian, lalu mengambil telepon genggamnya dan mencoba menelepon seseorang.
Tak lama kemudian
“Halo pak Edo !” Ternyata Edo menelepon mami Vera untuk mencari tahu informasi rekening bank milik Feby.
“Tolong kirimkan nomor rekening Feby sekarang juga ! Saya ada sedikit keperluan dengan itu” Tanpa basa – basi, Edo pun mengutarakan permintaannya.
“Oh tunggu sebentar ya pak Edo ! Saya cari dulu nomor rekeningnya, nanti akan segera saya kirimkan !” jawab mami Vera.
“Baik ! Saya tunggu ya !” ucap Edo, lalu mematikan teleponnya.
Tak lama setelah telepon berakhir, sebuah pesan dari mami Vera telah datang yang isinya berupa informasi rekening bank milik Feby.
Tanpa menunggu waktu lama, Edo memerintah salah seorang karyawannya untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekening Feby.
“Aku sudah menyuruh orangku untuk mengirimkan uang kepadamu !” ucap Edo kepada Feby.
“Terserah kau saja ! Sekarang biarkan aku pulang ! Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan !”
“Urusan ? Urusan apa ? Seorang wanita penghibur sepertimu memangnya punya kesibukan apa ? Melayani banyak laki – laki kesepian diluar sanakah ? Aku sudah bilang, kau tidak perlu bekerja seperti itu lagi ! Aku akan mengirimkan uang kepadamu setiap bulannya ! Tugasmu hanya melayaniku hingga aku bosan !” ucap Edo, membuat hati Feby sedikit terasa sakit.
Ingin rasanya ia membalas ucapan Edo, namun apa yang telah dikatakan Edo kepada dirinya adalah benar. Ia pun memilih untuk diam dan tidak membalas ucapan Edo yang begitu menusuk hati.
__ADS_1
“Seharusnya kau bersyukur karena aku telah memberikanmu kesempatan untuk hidup lebih baik ! Memangnya ada lelaki lain yang ingin menampung wanita murahan sepertimu ? Semua lelaki yang mendekatimu hanya menginginkan tubuhmu saja ! Aku sudah memberikan harga yang mahal untuk wanita murahan sepertimu !”
Plak !
Sebuah tamparan dilayangkan Feby kepada Edo, membuat Edo tampak tercengang.
“Aku memang wanita murahan ! Aku ini memang untuk semua laki – laki di dunia ini ! Hiks !” Dalam waktu sekejab, air mata mengalir deras membasahi wajah cantik Feby.
“Kau sudah tahu kalau aku wanita murahan yang gak pantes dicintai kan ? Lalu mengapa kau masih menahan wanita murahan ini disini ? Ha ? Hiks !” Air mata terus mengalir deras hingga membuat pandangan Feby sedikit buram.
“Wanita murahan ini kurang pantas berada dalam satu ruangan bersama dengan pria terhormat sepertimu ! Trimakasih sudah membayar wanita murahan ini dengan harga yang cukup mahal ! Permisi !” ucap Feby tegas, lalu pergi meninggalkan Edo yang masih tercengang.
Edo tidak menyangka bahwa ucapannya telah membuat Feby semarah itu hingga meneteskan air mata. Sesaat perasaan bersalah timbul dihatinya, ingin rasanya ia mengejar Feby dan meminta maaf kepadanya, namun diurungkannya niat itu. Ia lebih memilih duduk di sofanya dan mencoba memikirkan cara untuk menebus perkataannya yang telah menyakiti hati Feby.
Tiba – tiba
Beepp.. Beepp..
Telepon genggam miliknya berdering, sebuah panggilan dari anak buahnya yang bertugas mencari informasi tentang Ronald.
“Boss ! Nomor telepon dan alamat kantor dari lelaki yang bernama Ronald sudah kami temukan !”
“Bagus ! Teruskan !”
“Kami juga sudah melacak lokasi tempat tinggalnya melalui nomor teleponnya Boss ! Kami juga sudah pergi ke alamat itu untuk memastikan ! Ronald termasuk salah satu orang paling kaya di Negara ini, dia juga sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan ! Nanti saya akan kirimkan foto dan alamatnya melalui pesan whastaapp boss !”
“Kerja bagus ! Cepat kirimkan foto dan alamatnya sekarang !”
“Baik boss !”
Telepon pun berakhir, tampaknya Edo merasa kesal setelah mendengar informasi dari anak buahnya itu.
“Oh jadi dia termasuk orang terpandang ya ? Pantas saja perempuan itu meninggalkanku tadi malam !” gumam Edo, ia merasa sedikit tersaingi oleh Ronald.
“Tapi apa yang diharapkan dari pria beristri itu ? Apa Feby berusaha ingin merebut lelaki itu dari istrinya ?”
__ADS_1
“Cih ! Licik sekali ! Wanita penghibur seperti itu sampai kapanpun tidak akan pernah benar ! Ternyata aku salah menilaimu !”
“Aku pikir perempuan itu adalah perempuan lugu yang terpaksa harus bekerja seperti ini, tetapi tampaknya perempuan itu sangat menikmati profesinya sebagai wanita penghibur !”
“Padahal awal aku tidur dengannya, wajahnya terlihat sedih seperti tidak ingin melakukan pekerjaan itu !”
Sekilas Edo membayangkan kejadian beberapa tahun lalu saat ia tidur bersama Feby di sebuah hotel mewah. Pada saat itu, Feby masih baru memasuki dunia malam, ia terpaksa bekerja untuk membantu perekonomian kehidupannya bersama mami Vera.
Kebetulan Edo adalah tamu pertama yang harus dilayani. dengan terpaksa, Ia pun memberikan kesuciannya kepada Edo, namun dengan liarnya Edo justru melanjutkan aksinya hingga membuat barang suci milik Feby sedikit terluka hingga mengeluarkan beberapa tetes darah. Setelah adegan itu selesai, Feby menangis sembari memeluk selimutnya, namun dengan teganya Edo mengabaikan dirinya dan meninggalkannya begitu saja.
***
Edo tidak habis pikir dengan sikap Feby yang memilih tidur bersama Ronald yang sudah memiliki istri, sedangkan dirinya masih berstatus lajang tanpa seorang kekasih.
“Sungguh perempuan licik ! Ternyata dia ingin naik pangkat menjadi seorang simpanan ya ?” gumam Edo sedikit kecewa.
Sementara itu, Feby yang telah keluar dari hotel bergegas memesan sebuah taksi online untuk menghantarnya pulang. Tak lama kemudian, ia pun telah mendapatkan sebuah taksi online. Dengan cepat, ia pun naik kedalam taksi tersebut sembari tetap meneteskan air mata.
Tiba – tiba
Beepp.. Beepp..
Sebuah panggilan dari Ronald. Tanpa menunggu waktu lama, Feby pun menjawab telepon tersebut.
“Halo ! Hiks !” Feby tidak dapat menyembunyikan tangisannya sehingga membuat Ronald sedikit panik.
“Lho ? Kamu menangis ya ?” tanya Ronald khawatir.
“Ha ? Enggak kog ! Aku cuma pilek aja !”
“Tidak mungkin ! Tadi pagi masih sehat – sehat saja kog ! Kamu kenapa sayang ? Ada masalah ya ?”
“Tidak ada masalah apapun sayang ! Beneran ! Hiks !” Feby berusaha menyembunyikan tangisannya, namun tetap saja masih terdengar oleh Ronald.
“Kamu dimana sekarang ? Kita ketemu ya ? Kamu pasti punya masalah ! Tadi pagi juga pulang terlalu buru – buru, tidak mungkin gak ada masalah sama sekali !”
__ADS_1
Bersambung..