WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
DIRENDAHKAN SEKRETARIS


__ADS_3

Di hari yang cerah ini, tampak Feby sedang berada di ruangan bersama dengan sekretaris Ronald.


“Nama kamu siapa ?” tanya Sekretaris itu kepada Feby dengan wajah datarnya.


“Nama saya Feby mbak!” jawab Feby sembari tersenyum ramah.


“Mbak ? Jangan panggil aku mbak! Aku ini bukan mbak mu! Panggil aku ibu! Mengerti!” ketus Sekretaris itu, membuat Feby seketika terkejut.


“Ba..baik mbak! Eh bu!”


“Kenapa kamu bisa bekerja disini ? Dan ada hubungan apa kamu dengan pak Ronald ?” tanya Sekretaris itu lagi, membuat Feby tidak dapat berkata – kata.


“Em! Sa..saya kebetulan pernah menolongnya waktu kecopetan, ja..jadi pak Ronald menawarkan pekerjaan kepada saya di kantor ini! Tat..tapi..”


“Oh! Hanya karena hutang budi, pak Ronald rela memberikanmu sebuah pekerjaan di perusahaan ternama ini!” Belum selesai Feby melanjutkan perkataannya, Sekretaris itu telah memotong ucapannya.


“Asal kamu tahu ya, orang lain itu bersusah payah untuk dapat bekerja disini! Tidak sembarangan orang yang bisa bekerja di perusahaan ini! Kamu termasuk orang yang beruntung!” ucap Sekretaris itu lagi sambil menatap tajam kearah Feby, membuat Feby sedikit salah tingkah dan gugup.


“Kamu lulusan apa ? Dan mana surat lamaranmu ?” tanya Sekretaris itu kemudian, masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Ka.. kata pak Ronald, saya tidak perlu membuat surat lamaran!” jawab Feby mengagetkan Sekretaris itu.


“Apa ? Mana mungkin! Memangnya apa kelebihan kamu sehingga tidak perlu membuat surat lamaran untuk bekerja di perusahaan ternama ini ?” Tiba – tiba saja Sekretaris itu menjadi jengkel bercampur kesal setelah mendengarkan jawaban yang di ucapkan oleh Feby.


“Tapi memang seperti itu! Pak Ronald sendiri yang berkata seperti itu! Tadinya saya ingin membuat surat lamaran tetapi..”


“Cukup!” Kembali Sekretaris itu memotong ucapan Feby dengan angkuhnya.


“Apa kelebihan perempuan ini, sehingga tidak perlu membuat surat lamaran untuk bekerja di perusahaan ini?” batin Sekretaris itu kesal.


“Lalu kamu lulusan dari mana ? Pernah kuliah dimana ? Dan apa bidang yang kamu kuasai ?” tanya Sekretaris itu kemudian, membuat Feby semakin gugup dan salah tingkah.


“Wanita ini kelihatannya ramah tetapi ternyata suka menindas orang lain! Bagaimana ini ? Masa aku harus menjawab yang sebenarnya? Tidak mungkin kan aku mengatakan bahwa keahlian yang aku kuasai adalah menggoda lelaki – lelaki kaya!” batin Feby.

__ADS_1


“Aduh! Ronald kenapa lama banget sih? Tolong selamatkan aku dari perempuan galak ini!” batinnya lagi.


“Hei anak baru! Kamu dengar tidak sih ? Kamu itu lulusan dari mana ? Aku paling tidak suka mengulang – ulang ucapan!” ketus Sekretaris itu.


“Sa.. Sayaa.. Sayaa…”


“Saya saya! Saya apa?! Kenapa sulit sekali mengatakan nama kampus ? Atau jangan – jangan kampus kamu pendidikannya jelek ya?!”


“Bu.. Bukan! Sa.. Saya tidak pernah bersekolah sekalipun!” Akhirnya Feby mengucapkan latar belakang pendidikan dengan nada suara yang sangat pelan bahkan hampir tidak dapat terdengar oleh orang lain, tampaknya ia merasa malu mengungkapkan pendidikannya.


“Apa sih ? Bicara yang jelas! Kalau menjadi karyawan di perusahaan ini harus berbicara jelas dan tegas! Bukan kayak kamu gini!”


“Maa.. Maaf!” ucap Feby gugup.


“Jadi apa nama kampusmu! Jawab yang tegas!”


“Sa.. Saya tidak pernah bersekolah sekali pun!” jawab Feby, membuat Sekretaris itu tercengang sesaat.


“A..Apa ??!! Maksud kamu apa ? Kamu ingin mencoba mempermainkan saya ya ?” kesal Sekretaris itu.


“Tidak mungkin! Semua karyawan disini memiliki pendidikan sampai S2 bahkan lebih! Tidak mungkin orang seperti kamu dapat bekerja seperti ini! Bahkan cleaning service saja memiliki pendidikan terakhir di Sekolah Menengah Atas! Kamu jangan bercanda! Pekerjaan ini bukan main – main! Lebih baik kamu pulang saja! Kamu sangat tidak dibutuhkan disini menjadi apapun!” kata Sekretaris itu dengan angkuhnya.


“Lebih baik kamu menjadi wanita penggoda saja! Itu sangat cocok denganmu! Wajahmu juga tidak buruk sama sekali, jadi pergilah dari sini!” lanjut Sekretaris itu.


Jlep!


Seketika Feby merasa sakit hati setelah mendengar ucapan dari bibir tajam Sekretaris itu, ingin rasanya ia membalas ucapan dari Sekretaris itu namun semua yang dikatakan oleh Sekeretaris itu untuk dirinya adalah benar. Dengan terpaksa, iapun harus menahan rasa sakit itu di dalam hati.


“Kenapa ? Kamu tidak terima ya dengan apa yang aku ucapkan ? Ha ?” tanya Sekretaris itu dengan angkuhnya.


“Sudahlah! Kamu lebih baik pulang saja! Tidak ada yang perlu diajarkan untuk orang bodoh sepertimu!” ketus Sekretaris itu lagi, membuat hati Feby semakin terasa sakit.


“Saya memang tidak berpendidikan, tetapi saya tidak bodoh! Memangnya kenapa kalau orang tidak memiliki pendidikan sepertiku bekerja disini ? Bos kalian saja telah mengijinkan aku untuk bekerja disini! Lantas karyawan sepertimu apa memiliki hak untuk mengusir karyawan yang lainnya ?” Feby berusaha membalas ucapan Sekretaris itu dengan tegas sambil membendung air matanya, membuat Sekeretaris tersebut sedikit tercengang.

__ADS_1


“Berani sekali orang tidak berpendidikan seperti kamu berkata begitu kepadaku ?! Kurang ajar sekali kamu ya!” kesal Sekretaris itu.


“Kenapa ? Ucapanku benar kan ?” balas Feby.


Plak!


Satu tamparan dilayangkan oleh Sekretaris itu kepada Feby.


“Kenapa kau menamparku ?” tanya Feby sembari memegang pipi kanannya bekas tamparan Sekretaris itu.


“Itu pelajaran pertama untuk orang lancang sepertimu!” lantang Sekretaris itu.


Namun


Plak!


Tanpa rasa ragu sedikitpun, Feby membalas tamparan Sekretaris itu, ia melayangkan sebuah tamparan pada pipi kiri Sekretaris itu dengan sekuat tenaganya sehingga membuat bibir Sekretaris itu sedikit berdarah.


“Hah ? Kau telah menamparku ?” Sekretaris itu tampak tercengang menyaksikan sikap Feby yang begitu berani, ia juga memegang pipi kirinya sembari menahan rasa sakit.


“Kenapa kau menamparku ? Hiks!” ucap Sekretaris itu lagi sembari menangis karena menahan rasa sakitnya bekas tamparan yang di berikan oleh Feby.


“Kita sudah impas! Satu sama!” jawab Feby dengan santainya sembari melangkah mendekati Sekretaris itu, membuat Sekretaris itu sedikit merasa takut dan melangkah mundur secara perlahan - lahan.


“Dengar ya! Aku tidak pernah takut kepada siapapun termasuk orang berpendidikan tinggi sepertimu! Jika kau berani menamparku, maka akan aku kembalikan tamparanmu itu! Dan satu lagi, jika kau ingin menindasku, aku akan membuat kau tertendang dari perusahaan ini dengan cepat!” ucap Feby dengan santainya.


“Ini belum seberapa! Kau bahkan tidak tahu, kalau aku telah menyakiti seorang perempuan secara terus – menerus!” ucapnya lagi sembari membayangkan wajah isteri sah Ronald yaitu Luna.


“Aku bisa membuat nasibmu sama seperti dia bahkan lebih parah dari wanita itu!” ucapnya lagi.


“Kau.. Kau kasar sekali! Aku akan beritahu tentang hal ini kepada pak Ronald agar kau di usir dari perusahaan ini! Hiks!” kata Sekretaris itu sembari tetap memegang pipi kirinya yang terasa sakit.


“Ya silahkan saja! Aku harap kau mendapatkan hal seperti yang kau inginkan!” jawab Feby dengan santainya, membuat Sekretaris itu kabur seketika meninggalkan Feby sendirian di dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2