WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
LUNA MENGHABISKAN MALAM SENDIRI


__ADS_3

Malam hari yang begitu cerah di hiasi dengan bintang- bintang, tampak Luna duduk di samping jendela kamarnya sambil menatap bintang – bintang yang berkilau di langit yang gelap.


Tiba –tiba hatinya merasa sedih melihat sang suami tak juga pulang. Sesekali ia mengecek telepon genggamnya berharap Ronald menghubunginya.


“Apakah semua wanita yang sudah menikah akan merasakan hal seperti yang aku rasakan?”


“Aku memiliki suami tetapi rasanya seperti tidak memiliki suami!”


“Hampir setiap hari aku tidur sendiri di dalam kamar ini, bahkan disaat aku sedang seperti inipun, dia tidak juga datang!”


“Ada apa sebenarnya? Apakah terjadi sesuatu kepadamu? Ataukah cintamu yang sudah hilang?”


“Jika memang sudah tidak cinta lagi, seharunya di ucapkan saja dari pada seperti ini! Aku sangat terksika dan aku tidak suka hubungan seperti ini!”


“Aku hanyalah seorang wanita biasa yang juga butuh kasih sayang dan perhatian dari suami!”


“Apakah aku bercerai saja? Tapi jika aku memikirkan ke egoisanku saja, bagaimana dengan Bela? Dia pasti sangat sedih jika melihat kedua orangtuanya berpisah!”


Seketika air mata Luna menetes membasahi pipinya, ia merasa bahwa kehidupan pernikahannya sudah tidak sempurna lagi, sesaat muncul di benaknya untuk mengakhiri rumah tangganya denga Ronald, namun sesaat kemudian niat itu hilang demi Bela sang buah hati yang lucu dan menggemaskan itu.


Malam yang panjang ini dihabiskan oleh Luna untuk memikirkan sikap Ronald yang membuat dia bertanya – tanya.


Secara perlahan Luna melangkahkan kakinya menuju ranjang tidurnya, ia membaringkan tubuhnya dengan sangat hati – hati agar luka di kepalanya tidak berdenyut dan merasa sakit.


Ditariknya selimut putih tebal itu untuk menutupi setengah bagian tubuhnya, kembali ia menatap telepon genggamnya hanya untuk mengecek notifikasi dari Ronald, suaminya itu. Namun sayangnya, tidak ada satupun notifikasi dari nomor telepon suaminya itu masuk ke ponselnya.


Saat ini pikirannya benar – benar kacau, terkadang ia berpikir bahwa Ronald, suaminya itu sedang berada di dalam masalah sehingga ia tidak dapat pulang kerumah, terkadang juga ia berpikir bahwa Ronald telah menjalani hubungan dengan wanita lain di belakangnya.


“Mungkin saja suamiku sedang mengalami masalah! Aku yakin besok dia akan pulang! Ronald tidak mungkin berselingkuh, mimpi Bela itu hanyalah bunga tidur semata! Aku harus tetap berpikir positif kepada suamiku! Dia telah bekerja keras untukku dan Bela selama ini! Ya benar, aku harus berpikir positif! Ronald pasti sedang bekerja!”.


Luna berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap berpikir positif kepada suaminya itu, iapun mencoba untuk tidur, di letakkannya telepon genggamnya tepat di sampingnya agar ia dapat mengetahui dengan cepat jika panggilan atau pesan dari Ronald masuk ke ponselnya.


Sementara itu di apartemen milik Feby, tampak Ronald sedang menonton serial film romantis bersama wanita selingkuhannya itu dengan tanpa cahaya lampu.


Tangannnya tampak merangkul wanita simpanannya itu dengan lembut dan penuh cinta, sesekali ia membelai lembut rambut Feby, wanita selingkuhannya itu.


Tak sedetikpun ia teringat kepada isteri dan anaknya dirumah yang selalu menanti kepulangannya dengan penuh rasa khawatir.


“Sayang!” panggil Ronald dengan nada suara pelan dan lembut.


“Hem?” jawab Feby singkat sambil tetap menonton drama romantis tersebut.

__ADS_1


“Kamu suka laki – laki seperti yang di drama itu gak?” tanya Ronald sembari membelai lembut rambut Feby.


“Enggak!”


“Lho? Kenapa? Laki – laki itu romantis, tampan, dan setia! Masa sih kamu tidak suka?”


“Aku sukanya laki – laki seperti kamu!”


“Sudah pinter merayu ya?”


“Memang aku sukanya laki – laki seperti kamu sayang! Kamu sangat sempurna di mataku, kamu juga sudah membebaskan aku dari pekerjaan kotor itu!” ucap Feby sembari menatap wajah Ronald dengan penuh cinta.


“I Love You!” kata Ronald sambil tersenyum.


Malam inipun dihabiskan oleh Ronald bersama dengan wanita selingkuhannya itu dengan penuh romantis tanpa ada satupun yang menganggu.


Keseokan harinya, Ronald bangun lebih cepat dari biasanya selama tinggal di apartemen milik Feby.


“Sayang! Kamu kog sudah bangun?” tanya Feby sedikit bingung.


“Aku lupa sayang, hari ini ada pertemuan dengan pak Andi! Kami telah membangun sebuah perusahan baru, jadi hari ini aku harus ke kantor sayang!” ucap Ronald menjelaskan.


“Memangnya kamu mau ke kantor?”


“Mau banget! Agar aku bisa melihat wajah kekasihku setiap saat!” jawab Feby sembari menyentuh pipi Ronald dengan lembut.


“Yasudah kalau begitu, kamu bersiap – siap duluan ya! Soalnya kamu harus memakai riasan lagi!”


“Okey, aku mandi dulu ya sayang!” kata Feby, lalu bergegas menuju kamar mandi.


Enam puluh menit telah berlalu, Ronald dan Feby tampak sudah berpakaian rapid an bersih. Merekapun melangkahkan kaki menuju parkiran dan segera pergi menuju kantor.


Sesampainya di kantor, para karyawan menyapa Ronald yang sedang berjalan berdampingan dengan Feby. Sesaat para karyawan dan karayawati sedikit terkejut menyaksikan itu, membuat Sekretaris Ronald sedikit kesal dan cemburu dengan karyawan baru itu yaitu Feby.


“Selamat siang pak! Pak Andi tadi menelfon, beliau sedang dalam perjalanan menuju kesini pak!” kata Sekretarisnya itu sesaat setelah Ronald duduk di kursi yang berada di ruangannya.


“Oh okey! Nanti kalau pak Andi sudah sampai, tolong hantarkan dia kesini ya!” kata Ronald tanpa memandang wajah Sekretaris tersebut.


“Baik pak!”


“Oh iya, sekalian ini dong, tolong bawakan sarapan untuk kami berdua ya!” kata Ronald kemudian, membuat Sekretaris tersebut sedikit kebingungan.

__ADS_1


“Untuk berdua pak?” tanya Sekretaris itu memastikan.


“Iya untuk berdua! Kenapa? Ada yang salahkah?”


“Ti.. Tidak pak! Baik saya akan segera bawakan sarapannya pak!”


“Iya tolong ya!”


“Baik pak, saya permisi!” jawab Sekretaris tersebut lalu bergegas pergi.


“Hei! Tunggu sebentar!” ucap Ronald menghentikan langkah kaki Sekretaris tersebut.


“Iya pak? Masih ada yang perlu dibantu?”


“Sebentar ya!”


“Baik pak!”


“Kamu ingin sarapan apa? Hampir saja aku lupa bertanya kepadamu!” ucap Ronald kepada Feby yang seddari tadi telah berdiri disampingnya, membuat Sekretaris itu semakin terkejut.


“Samain saja!” jawab Feby singkat.


“Samain saja? Karyawan baru itu tidak menyebut pak?” batin Sekretaris itu kebingungan.


“Okey, kalau begitu pesan menu yang sama saja ya?”


“Samain juga deh!" jawab Feby.


"Okey, kalau begitu makanan dan minumnya samain saja ya!" kata Ronald kemudian kepada Sekretarisnya itu.


"Baik pak!" jawab Sekretarisnya itu, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Sayang, aku gak enak sama Sekretaris kamu itu! Harusnya aku pesan sendiri saja tadi!" ucap Feby kepada Ronald, sesaat setelah Sekretaris itu pergi.


"Sudah, tidak apa - apa! Lagi pula itu sudah tugas dia!"


"Tugas dia kan melayani kamu bukan aku sayang!"


"Kamu kan kekasih aku, jadi dia juga harus melayani kamu dong sayang!"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2