Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Wanita Yang Kau Buang


__ADS_3

"Bukan begitu. Aku hanya sekedar bertanya." 


"Dan aku tidak mau menjawabnya."


"Baiklah. Maaf, kalau pertanyaanku mengganggumu."


Arumi membuang pandangan. Terlihat enggan menatap Rafli. "Bukankah kau sudah selesai memeriksa kondisiku? Lalu kenapa kau masih di sini?"


Sudut bibir Rafli terangkat tipis. Sikap galak Arumi sekarang terasa sangat lucu dan menggemaskan. Ia baru saja mengusirnya dari kamar itu.


Tetapi, bukannya pergi, Rafli malah memandangi wajah itu lekat-lekat. Mulai dari mata, hidung, dan bibir. Sejak awal kebersamaan mereka ia mengagumi setiap pahatan sempurna di wajah Arumi, yang selalu mampu membuat jantungnya berdetak sangat cepat. 


Dan meskipun Yuna memiliki wajah yang sama persis seperti Arumi, nyatanya dengan Yuna segalanya terasa hambar. Rafli tidak pernah merasakan getaran seperti saat bersama Arumi. 


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Arumi, ketika menyadari Rafli tak melepas pandangan darinya. Membuat Rafli langsung gelagapan. Laki-laki itu terdiam selama beberapa saat, hingga di ruangan hanya ada keheningan.


Cukup banyak salah paham yang terjadi di antara mereka selama ini, dan akan butuh kepala dingin untuk membicarakan segalanya. Tetapi, untuk kali ini Rafli tidak ingin egois untuk dirinya sendiri. Masih ada waktu untuk membicarakan segalanya. Terlebih, kondisi Arumi sekarang belum pulih dan masih sangat lemah, dan ia tak ingin masalah mereka mempengaruhi proses kesembuhan Arumi. 

__ADS_1


Rafli menarik napas dalam-dalam, lalu meraih kursi dan duduk di sebelah wanita itu. Meskipun kecanggungan membentang di antara keduanya. Karena ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam posisi saling berdekatan, setelah perpisahan yang sangat lama. 


Tangan Rafli terulur demi meraih jemari Arumi, tetapi dengan cepat Arumi menarik tangannya sehingga genggaman mereka terlepas. 


"Maafkan Aku," ucap Rafli, setelah menerima penolakan itu.


"Maaf untuk apa?" 


Entah mengapa Rafli merasa nada Arumi terkesan sangat dingin dan datar.


"Karena kau lebih memilih mempercayai Yuna."


Meskipun telah membangun benteng kokoh sebagai pertahanan, nyatanya hati tak dapat berbohong. Saat ia merasa sakit dan bibir tak sanggup berkata, maka hanya mata yang sanggup menjelaskan rasa sakit yang terpendam. 


Rasanya baru kemarin Rafli mengusir dan memerintahkan anak buahnya untuk menyeretnya keluar dari rumah. Tangisan Aika malam itu bahkan masih terngiang-ngiang di telinga. 


Tetapi, apakah Rafli peduli? 

__ADS_1


Sama sekali tidak! 


"Ada apa denganmu, Rafli Dylan Alvaro? Bukankah aku sama sekali tidak ada harganya bagimu? Kau masih ingat, apa kalimat terakhir yang kau ucapkan? Kau menyesal karena anakmu harus lahir dari wanita sepertiku. Lalu apa yang sekarang kau inginkan dari wanita yang pernah kau buang?"


Pertanyaan itu membuat hati Rafli seperti disayat. Ia paham tidak akan semudah itu kesalahan fatalnya dimaafkan. 


"Apa tidak ada jalan untukku menebus empat tahun yang terlewat?" 


Kali ini Arumi memberanikan diri menatap mata lelaki itu.


"Apa kau bisa mengembalikan waktu? Apa kau bisa menghilangkan rasa sakit yang kurasakan setiap harinya?" 


Rafli membungkam. Lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ingin sekali ia menghapus air mata Arumi, memeluk, dan mengatakan betapa berharga wanita itu baginya, dan ia pun merasakan sakit yang tak terbendung sejak perpisahan itu. Sampai membuatnya larut dalam kesedihannya sendiri.  


"Kau tidak pernah tahu 'kan, apa yang kualami setelah kau mengasingkanku? Dan sekarang, setelah aku hampir membawa Aika pergi, apa kau akan memenjarakanku? Atau kau mau mengasingkanku ke tempat yang lebih jauh lagi?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2