
Seharian ini Aika terus menanyakan keberadaan mommy dan daddynya. Membuat Oma Riana sedikit pusing dan akhirnya menghubungi Rafli.
Malam itu, setelah memberi perintah kepada Osman untuk mencari informasi tentang Alex, Rafli bergegas pulang dan menemui putrinya.
Benar saja, saat tiba di rumah, Aika belum tidur. Padahal waktu sudah menunjuk pukul 9 malam. Gadis mungil itu menyambut daddynya dengan banyak pertanyaan yang membuat Rafli kesulitan menjawab.
"Kapan aku bisa bertemu mommy, Daddy? Kenapa mommy lama pulangnya?"
"Tidak lama lagi, Sayang. Mommy pasti akan segera sembuh dan kembali bersama kita."
Rafli membaringkan Aika dan memakaikan selimut. Kemudian ikut berbaring di sisinya.
"Tapi Tuhan tidak akan menukar mommy Arumi dengan Mommy Yuna lagi kan, Daddy?"
"Tentu saja tidak. Mommymu adalah mommy Arumi dan selamanya akan tetap seperti itu." Ia mencium kening. Hatinya sedikit lega melihat Aika mulai aktif dan ceria. Tidak lagi pendiam seperti dulu.
"Apa Mommy Yuna sudah pergi ke Surga?"
Rafli hampir tertawa mendengar pertanyaan polos itu. "Belum Nak, belum waktunya."
"Kapan waktunya, Daddy?"
"Daddy rasa masih sangat lama."
Dia akan bermain dulu dengan para penjahat di neraka.
__ADS_1
Rafli mencium pipi Aika saking gemasnya. Jika tidak segera tidur, Aika pasti akan melayangkan pertanyaan lain yang lebih sulit.
"Aika, ini sudah malam, ayo tidur!"
Ia membelai rambut putrinya hingga mulai dikuasai kantuk. Hanya dalam beberapa menit, Aika sudah tertidur.
Tak lama berselang, terdengar deringan ponsel. Rafli melepas pelukannya pada tubuh Aika, lalu turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tak membangunkan putrinya.
Secepat kilat ia menyambar saat melihat nama Osman tertera di layar ponsel. Biasanya ada berita penting jika ia berani menghubungi Rafli di malam hari.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tuan, saya mendapatkan beberapa informasi penting tentang Tuan Alex."
"Benarkah? Kau canggih juga, ya. Padahal aku hanya menyebutkan nama depannya saja."
"Namanya lengkapnya Alex Erdogan. Dia adalah pemilik yayasan penyalur tenaga kerja. Dari sini saya menduga kalau dia adalah orang yang membebaskan Nona Arumi dari perbudakan."
Rafli berpikir sejenak. Pantas saja Arumi membencinya. Karena berpikir ia yang telah mengirimnya ke luar negeri. Sementara si menyebalkan Alex menjadi pahlawan yang membebaskannya. Dari sudut pandang Arumi, Rafli jelas sudah kalah banyak.
"Lalu apa lagi yang kau temukan?"
"Apartemen yang sekarang ditempati Nona Arumi adalah apartemen miliknya."
Rafli merasakan suasana sekitar terasa memanas dalam hitungan detik.
__ADS_1
"Sedekat apa mereka sampai Arumi harus tinggal di apartemennya?" Rafli mulai menekan suara.
"Saya tidak tahu, Tuan. Penyelidikan saya belum sampai ke tahap itu. Tapi saya menemukan sesuatu yang aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Yayasan miliknya ternyata tidak memiliki izin dan ...."
Belum selesai ucapan Osman, sudah lebih dulu dipotong oleh Rafli. "Aku tidak peduli yayasannya ada izin atau tidak. Yang penting sekarang adalah kau pikirkan bagaimana cara menjauhkan Arumi dari orang itu."
Senyap! Sepertinya Osman bingung dengan perintah ajaib barusan.
"Hehe, untuk urusan seperti itu, sepertinya hanya Anda yang bisa, Tuan."
"Kau ini bagaimana? Urusan kecil seperti itu saja tidak bisa kau atasi."
Osman kembali terkekeh dan membuat Rafli semakin kalang kabut.
"Ini kan urusan kecil. Makanya saya serahkan kepada Anda saja."
Kesal, Rafli memutus panggilan. Bicara dengan Osman membuat otaknya terasa jungkir balik.
*
*
__ADS_1
*