
Malam sudah larut namun Rafli belum dapat terpejam. Pembicaraan dengan Arumi tadi menimbulkan tanda tanya besar dalam benaknya.
Meskipun Arumi tak menyebutkan secara jelas perihal keterikatannya dengan sebuah janji, namun Rafli sangat yakin jika semua ada hubungannya dengan Alex Erdogan. Laki-laki yang menyelamatkannya dari perbudakan.
"Apa jangan-jangan Alex Erdogan itu memberi Arumi syarat yang berat untuk membebaskannya? Tapi syarat apa?"
Rafli pikir harus membebaskan Arumi dari perjanjian itu. Sekarang tugasnya adalah mencari tahu apa yang membuat Arumi tadi tampak tertekan dan sangat sedih. Bahkan ia terus menangis selama berjam-jam.
"Akan kutunjukkan kepada Es Doger itu Arumi Miyusha milik siapa," gumamnya lalu memejamkan mata.
*
*
*
Arumi membuka mata di pagi hari. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah menggemaskan putrinya yang masih lelap dengan memeluknya.
"Selamat pagi, Sayang." Ia membenamkan kecupan sayang di pipi.
Baru akan beranjak, Arumi sudah tersadar bahwa wajahnya tidak sedang tertutup cadar. Dengan gerakan tergesa-gesa ia meraih cadar miliknya dan menutup wajah. Sebab Aika bisa saja salah paham dan ketakutan jika terbangun dan melihat wajahnya.
Menyedihkan memang. Tetapi, Arumi harus bertahan seperti ini untuk sementara demi Aika.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Arumi keluar kamar. Pagi ini ia akan membuat sarapan. Sebab tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik dibanding kemarin.
"Kenapa dia masih di sini?" gumam Arumi, ketika melihat Rafli masih tertidur di sofa.
Perlahan wanita itu mendekat. Mengulurkan ujung jari telunjuk ke punggung Rafli.
__ADS_1
"Hey, bangun. Sudah pagi." Tak ada jawaban. Rafli yang masih lelap, membuat Arumi memilih mengguncang bahunya. "Bangun, bukankah pagi ini kau akan ke rumah sakit?"
"Emm, iya, Sayang! Lima menit lagi."
Deg!
Entah Rafli sedang mengigau atau tidak. Yang pasti panggilan lembut itu berhasil membuat Arumi berdebar. Terlebih, suara bariton lelaki itu adalah salah satu alasan yang membuat Arumi jatuh hati.
Perlahan Rafli membuka mata. Perhatiannya langsung tertuju pada kelopak mata Arumi yang terlihat sembab. Rafli dapat menebak bahwa semalam ia menangis lagi setelah kembali ke kamar.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya hendak memastikan.
"Ya, aku merasa lebih baik dibanding kemarin."
"Aku tidak sedang menanyakan kondisi fisikmu. Tapi kondisi hatimu. Matamu sembab."
Detik itu juga Arumi membalikkan tubuhnya. Seolah ingin menyembunyikan kesedihan di hadapan Rafli. "Aku tidak apa-apa. Semalam aku hanya terbawa perasaan sampai menangis."
Obrolan pagi itu berakhir dengan Arumi yang pergi ke dapur. Sedangkan Rafli memasuki kamar tamu untuk mandi.
Sebenarnya, semalam ia bisa saja tidur di kamar tamu, namun memilih modus sedikit dengan tidur di sofa demi mendapat sedikit perhatian dari Arumi.
*
*
*
"Arumi, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Mom Riana saat melihat Arumi sudah berkutat di dapur bersama Lisa, ART yang dipekerjakan Rafli di rumah itu. Mom Riana sedikit mengkhawatirkan kondisi Arumi yang belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
"Aku merasa lebih baik, Bu. Jangan khawatir."
"Tapi lebih baik kau banyak istirahat dulu. Jangan sampai kelelahan."
"Saya sudah memberitahu Nona Arumi, Nyonya. Tapi Nona Arumi tetap mau membuat sarapan," sahut Lisa.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum. Memang seperti ini lah Arumi, kebiasaannya tak pernah berubah dari empat tahun lalu.
"Ya sudah, tidak apa-apa." Mom Riana lantas membantu menata sarapan di meja. "Apa Aika belum bangun?"
"Belum. Aku baru akan membangunkannya."
Arumi melepas apron, lalu hendak menuju kamar. Tetapi suara bel yang terdengar mengalihkan perhatiannya.
"Siapa yang datang sepagi ini?" Arumi bermonolog sambil mengayunkan kaki ke depan.
Mungkin itu Osman yang ingin menjemput Rafli. Begitu pikir Arumi.
Ketika membuka pintu, Arumi harus dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak terduga. Ia bahkan mematung di pintu karena terkejutnya.
"Hai, maaf menganggu pagi-pagi," ucap Alex, seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. "Jadi sekarang kau tinggal di sini, ya?"
Arumi menundukkan pandangan. Terlebih saat menyadari tatapan Alex yang tidak bersahabat.
"Arumi, siapa yang datang?"
Sepasang mata Alex membulat sempurna kala tatapannya tertuju kepada sosok pria yang baru datang dari arah dalam. Sebelah tangannya terkepal di balik punggung.
Betapa tidak, Rafli keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit pinggang. Memamerkan bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Pikiran negatif pun langsung memenuhi kepala.
__ADS_1
"Sedang apa Dokter Rafli di sini?" Nada Alex yang dingin membuat Arumi semakin tertunduk.
...****...