Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Bukankah Anak Ini Adalah ....


__ADS_3

“Apa masih jauh, Tante? Kakiku sakit!” keluh Aika yang tampak sudah sangat lelah. Sementara Yuli sejak tadi memaksanya untuk tetap berjalan. 


“Sudah dekat, Nak. Ayo, kita ke sana saja.” Ia membawa Aika ke sebuah food court. Kemudian membungkukkan tubuhnya sambil berbisik. “Pergilah ke sana dan minta sesuatu kepada orang-orang yang sedang duduk. Apa kamu mengerti?” 


Aika menatapnya bingung. Sama sekali tak mengerti maksud ucapan wanita itu. Akhirnya Yuli memperlihatkan beberapa anak berpakaian kumal yang juga sedang meminta-minta di sana. 


“Lihat beberapa anak yang ada di sana. Seperti itu caranya. Kalau kamu berhasil mendapatkan uang, maka aku akan memberimu makan untuk malam ini.”


Di tempatnya berdiri, Aika menatap beberapa anak yang lebih besar dari dirinya sedang menengadahkan tangan. Ada pula yang memegang kaleng sambil bernyanyi.


"Takut, Tante," lirihnya, sambil mendongak wanita di hadapannya.


"Takut apa? Di sana tidak ada orang jahat. Ayo, cepat sana!" Ia mendorong punggung Aika pelan-pelan.


Aika pun menuruti keinginan wanita itu. Ia berjalan dengan terseok-seok menuju beberapa meja yang ada di food court tersebut sambil menengadahkan tangan.


Penampilan Aika sekarang tiada bedanya dengan anak-anak jalanan yang ada di sana. Ia menggunakan pakaian kedodoran yang lusuh dan kumal. Wajahnya pun penuh debu, sebab hampir seharian berada di jalan. Membuat beberapa orang merasa iba dan memberinya sedikit uang. 


Dari jarak aman, Yuli menyeringai menatapnya. Ia seperti baru saja mendapat tambang emas.


“Anak kecil itu lumayan juga.” 


*


*



Arumi menatap nanar jalan-jalan yang dilalui. Sejak siang hingga malam hari, ia dan Rafli terus berkeliling di jalan mencari. Beberapa kali mereka turun ke jalan untuk menanyakan kepada orang-orang yang berlalu sambil memperlihatkan foto Aika. Namun, tak ada satupun yang mengaku melihatnya. 


“Arumi, bagaimana kalau kau istirahat dulu. Kau sama sekali belum makan sejak siang tadi, kan?” tawar Rafli, setelah melihat Arumi terlihat sangat lelah. 


“Apa kau bisa makan di saat anakmu belum ditemukan?” 


Arumi menjatuhkan air mata setelah mengucapkan kalimat itu.


“Tentu saja tidak.” Rafli pun merasakan kekhawatiran yang sama. Selama Aika belum ditemukan, ia tak akan bisa tenang. 


“Kalau begitu jangan memintaku untuk istirahat atau makan.” 


Arumi kembali mengarahkan pandangannya ke sisi jalan.

__ADS_1


Tak lama berselang, ponsel miliknya berdering tanda panggilan masuk. Wanita itu segera merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Tertera nama Alex di sana. Arumi hampir lupa kalau tadi Alex menghubunginya dan meminta bertemu. 


“Siapa yang menghubungimu?” tanya Rafli. 


Arumi terdiam dan hanya menatap layar ponsel. Diamnya wanita itu pun membuat Rafli mampu menebak siapa yang sedang menghubunginya. 


Tak punya pilihan lain, Arumi pun menggeser simbol hijau pada layar.


“Iya, Alex,” sapa Arumi sesaat setelah panggilan terhubung. 


“Kau di mana sekarang? Bukankah tadi aku mengirim pesan agar kita bisa bertemu?” 


“Ya, aku tahu. Tapi aku sedang tidak bisa. Maaf.” 


“Kenapa? Apa kau sedang bersama doktermu itu?” Pertanyaan ketus itu membuat sepasang mata Arumi terpejam. 


“Aika hilang di sekolahnya siang tadi. Kami sedang berusaha mencarinya.” 


“Apa, putrimu hilang?” Suara Alex terdengar terkejut. 


“Iya. Aku mohon pengertianmu, Alex. Aku janji akan menemuimu begitu Aika ditemukan.” Tanpa menunggu jawaban dari Alex, Arumi memutus panggilan. Kemudian menatap nanar jalan-jalan di depan sana. 


*


*


*


Sementara itu, Alex meletakkan ponsel dengan kasar ke meja setelah Arumi memutus panggilan begitu saja. Bahkan saat mencoba mengulang panggilan, Arumi tak lagi menjawab. Membuat kekesalan memuncak di hati lelaki itu. 


“Ada apa? Kau terlihat sedang kesal,” ucap seorang pria yang baru saja masuk ke ruangan pribadinya. 


“Aku memang sedang kesal, Jo,” jawab Alex.


“Kesal kepada siapa?” 


“Arumi Miyusha?” Hela napas Alex terdengar berat. Punggungnya bersandar di kursi. 


Dahi lelaki bernama Jo itu berkerut tipis. Memikirkan nama tak asing yang baru saja disebut Alex. “Arumi Miyusha? Bukankah dia adalah wanita yang kau beli beberapa waktu lalu?” 


“Iya, benar.” 

__ADS_1


“Bukankah dia sudah terikat sebuah perjanjian denganmu?” 


“Ya, tapi sepertinya dia lupa dengan isi perjanjian itu. Aku terlalu baik selama ini kepadanya.” 


“Padahal wanita itu pasti sudah berakhir di tangan Madam Leova dan menjadi wanita penghibur kalau kau tidak menyelamatkannya.”


Jo terkekeh melihat raut wajah Alex yang terlihat semakin kesal. Kemudian menggeser sebuah map ke hadapan sang bos. Alex pun dengan cepat menyambar dan melihat isi map tersebut.


“Itu adalah beberapa barang baru yang akan dikirim ke Madam Leova. Bukankah mereka cantik-cantik dan memiliki tubuh yang indah?” 


Alex menyeringai. “Tapi tidak ada yang secantik Arumi.” 


“Tentu saja. Dan kau malah menjebak wanita itu dan memintanya menikah denganmu. Licik sekali.” 


Alex menggeser kembali map tersebut. “Sudahlah. Sekarang lebih baik kita ke club saja dan bersenang-senang. Aku akan membereskan Arumi nanti.” 


Alex bangkit meninggalkan kursi kebesarannya. Bersama Jo, ia berjalan keluar. Memeriksa keadaan panti asuhan miliknya. Ada beberapa orang dewasa dan anak-anak yang baru datang dengan pakaian lusuh. 


“Hey, Yuli. Siapa anak itu?” tanya salah seorang wanita ketika melihat Yuli menggendong anak kecil yang sedang tertidur. 


“Ssstt, aku menemukan anak ini di jalan tadi. Dia bilang sedang mencari dadddynya.” 


“Oh, apa dia tersesat?” 


“Mungkin saja. Aku menemukannya dan mengajaknya mengemis di jalan.” Wanita itu terkekeh, lalu menunjukkan isi sakunya. “Lihat, dia dapat banyak hari ini.” 


“Wah, kau beruntung sekali. Bos pasti akan menyukai anak itu.” 


Mendengar pembicaraan kedua wanita itu, Alex pun mendekat, yang akhirnya menghentikan pembicaraan dua wanita tadi.


“Selamat malam, Bos.” Yuli membungkukkan kepala hormat.


"Siapa anak yang kau gendong itu?"


"Saya tidak tahu, Bos. Tadi siang saya menemukannya di jalan. Dia sedang menangis dan ketakutan. Dia bilang sedang mencari daddynya."


Alex meneliti wajah kumal yang sedang tertidur di bahu gendut Yuli, lalu merapikan rambutnya. Kontan saja sepasang mata lelaki itu membeliak saat mampu mengenali pemilik wajah itu. 


“Bukankah anak itu adalah ....” 


...*****...

__ADS_1


__ADS_2