Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Membawa Pergi Arumi


__ADS_3

“Bagaimana?” tanya Arumi sesaat setelah Rafli memutus panggilan dari anak buahnya.


Rafli menghela napas panjang. Meskipun berusaha untuk selalu bersikap tenang di hadapan Arumi, namun terlihat jelas bias frustrasi dari tatapan lelaki itu.


“Mereka belum menemukannya. Polisi dan pengawal KIA sudah mendatangi beberapa tempat umum, tempat hiburan, rumah sakit dan panti asuhan. Tapi Aika tidak ada di sana.”


Seluruh tubuh Arumi mendadak terasa lemas. Ia bersandar di mobil dengan tatapan nanar. Keadaan ini membuatnya merasa hampir gila. Menyesali semua kecerobohannya yang membuat Aika ketakutan dan pergi.


“Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus mencari anakku.” Arumi membuka pintu dan turun dari mobil. Ia bertekad mencari Aika sambil bertanya kepada siapapun yang ditemuinya di jalan. Dengan harapan akan ada petunjuk tentang keberadaan putrinya.


Namun, baru beberapa langkah meninggalkan mobil, tubuhnya sudah lunglai. Ia pasti sudah jatuh jika saja Rafli tidak menangkapnya. Melihat wajah Arumi yang sangat pucat dan berkeringat, Rafli menggendongnya ke mobil.


Kondisi Arumi yang sangat lemah membuat Rafli memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.


*


*


*


Perlahan Arumi membuka mata. Sebelah tangannya terangkat demi memijat pelipis yang terasa berdenyut. Saat mengedarkan pandangan, ia baru sadar bahwa sekarang sudah berada di rumah Rafli.


“Kau sudah bangun, Arumi?” Suara Mom Riana menyapa. Sepasang mata sayu wanita paruh baya itu terlihat berkaca-kaca.


Dengan tubuh yang masih lemah, Arumi perlahan merubah posisi menjadi duduk.


“Aku harus mencari Aika, Bu.” Arumi hendak turun dari tempat tidur, namun Mom Riana menghalangi.


“Jangan! Rafli bilang kau tidak boleh ke mana-mana dulu. Kau sedang demam dan butuh istirahat.”


“Bagaimana aku bisa istirahat sementara anakku di luar sana sendirian, Bu?” lirih Arumi.


“Tapi kau juga tidak akan bisa mencarinya dalam keadaan seperti ini. Biarkan Rafli dan anak buahnya saja yang mencari. Tunggulah kabar dari mereka. Bukankah polisi juga sudah bergerak mencari?” Wanita paruh baya itu masih mencoba meyakinkan.


Arumi tak dapat lagi menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Ia bersandar di bahu Mom Riana dan menumpahkan semua kesedihannya.


“Bersabarlah. Aika pasti akan segera ditemukan. Sekarang makanlah dan minum obatmu. Rafli sudah memeriksamu dan meninggalkan obat. Besok kalau kau merasa lebih baik, kau boleh ikut mencari Aika.”

__ADS_1


*


*


*


Keadaan Arumi menjadi lebih baik setelah Mom Riana memaksanya untuk makan, minum obat dan tidur.


Sekarang wanita itu sedang duduk di ruang televisi dengan tatapan terfokus pada layar ponsel. Sudah berulang-ulang ia mencoba menghubungi Rafli untuk menanyakan perkembangan pencarian, namun tak ada jawaban dari Rafli.


"Nona, di depan ada yang ingin bertemu dengan Anda."


Arumi menatap Lisa yang baru saja datang dari arah ruang tamu.


"Siapa?"


"Tuan Alex, Nona," jawab Lisa. Sebenarnya Lisa agak ragu untuk mempersilahkan lelaki itu masuk ke rumah, mengingat pesan Rafli sebelum pergi. Karenanya Alex dibiarkan menunggu di teras depan.


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Arumi membenarkan pakaiannya. Dengan keadaan tubuh yang belum pulih sepenuhnya, ia beranjak menuju teras depan. Alex tampak duduk di sebuah kursi dengan tangan menyilang di depan dada.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah. Maaf, aku tidak menjawab panggilanmu. Dua hari ini aku terus mencari anakku."


"Aku mengerti," balas Alex. "Oh ya, sebenarnya aku ke sini untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu."


Tubuh Arumi terasa meremang mendapat tatapan menikam dari Alex. Meskipun Alex belum mengucapkan tujuan kedatangannya ke rumah itu, namun Arumi sudah dapat menebak dengan pasti.


Wanita itu menjatuhkan air mata. Pasrah. Ingin menjerit, tetapi tak seorangpun dapat menyelamatkannya dari cengkraman Alex. Kontrak perjanjian mereka sudah menemui batas akhir.


*


*


*


"Tuan ...."

__ADS_1


Suara Lisa terdengar panik di ujung telepon. Rafli yang sedang berada di jalan sontak terkejut.


"Ada apa, Lisa? Bicara yang jelas!" Rafli menekan suara, membuat keheningan melanda selama beberapa saat. Sepertinya Lisa takut menjawab pertanyaan tuannya.


"Nona Arumi pergi dari rumah bersama Tuan Alex. Sepertinya Nona Arumi akan tinggal di apartemen Tuan Alex lagi."


Dalam hitungan sepersekian detik, wajah Rafli sudah mengeras. Sorot matanya terlihat penuh amarah.


"Apa saja yang dilakukan para penjaga rumah? Bukankah sudah kuperintahkan untuk menjaga Arumi?" pekik Rafli. Kali ini nada suaranya terdengar lebih geram.


"Mereka sudah mencegah, Tuan! Tapi Nona Arumi sendiri yang ingin ikut dengan Tuan Alex."


Rafli menghembuskan napas panjang. Amarah semakin melambung. Belum selesai perkara Aika, sekarang ia harus dipusingkan dengan Alex yang membawa pergi Arumi.


Tanpa banyak bicara, Rafli memutus panggilan. Kemudian melesatkan mobil di tengah keramaian jalan.


*


*


*


Rafli berjalan dengan tergesa-gesa memasuki lobi apartemen tempat Arumi tinggal. Ia mempercepat langkah menuju lift. Begitu tiba di depan unit Alex, ia melihat beberapa orang laki-laki yang berjaga di depan pintu.


"Maaf, Anda ada keperluan apa?" tanya salah satu dari laki-laki itu.


"Aku mau menjemput Arumi. Di mana dia?" tanya Rafli tanpa berbasa-basi.


Tiga pria berbadan besar yang berjaga langsung memasang sikap waspada. Mereka lantas mengambil posisi berdiri tepat di ambang pintu.


"Nona Arumi ada di dalam. Tapi maaf, Anda tidak diperkenankan untuk masuk," jawab salah satu di antaranya.


Bugh!"


Kepalan tinju Rafli mendarat sempurna ke wajah angkuh salah satu pria itu. Membuatnya tersungkur hingga membentur lantai.


Dua orang lainnya hendak maju, tetapi lebih dulu mendapat bogem keras dari Rafli.

__ADS_1


"Minggir, atau kurobohkan apartemen tuanmu ini!" ancam Rafli penuh amarah.


...****...


__ADS_2