
Malam harinya ....
Aika belum dapat memejamkan mata meskipun Arumi sudah membacakan sebuah dongeng untuknya. Gadis mungil nan cantik itu masih membuka mata meskipun sudah tampak sayu. Menandai rasa kantuk sudah menyerangnya.
“Kenapa belum tidur, Sayang?”
“Aku tidak mau tidur, Mommy,” jawabnya dengan suara yang sudah terdengar lemah.
“Kenapa?” Dahi Arumi berkerut tipis. Aika bahkan sudah menguap berulang-ulang.
“Kalau aku tidur mommy akan pergi.”
Arumi merasakan haru dan sedih di saat yang bersamaan. Entah mengapa ucapan polos Aika memaksa bola matanya berair. Wanita itu mendekap putrinya erat dan menciumi kening berulang-ulang.
“Tidak, Nak. Mommy akan tetap di sini bersamamu dan tidak akan pergi lagi. Kita akan bersama untuk selamanya.”
“Benar, Mommy?”
“Benar. Jadi sekarang tidur, ya?”
__ADS_1
Arumi membenarkan selimut yang membalut tubuh Aika. Tepat saat itu pintu terbuka disusul oleh kemunculan Rafli. Ujung mata Arumi menyipit tipis, sebab ia pikir caon suaminya itu sudah pulang.
“Hey, kenapa anak daddy ini belum tidur?” tanyanya sambil menjatuhkan tubuhnya di sebelah kiri Aika. Sehingga posisi sekarang Aika berada di antara mommy dan daddynya.
“Aku sedang menjaga mommyku, Daddy! Kalau aku tidur, nanti mommy pergi lagi.”
Rafli berdecak dan memasang wajah prihatin. “Kalau tidak tidur nanti matanya jadi mata panda. Baiklah, kalau begitu daddy yang akan membantu menjaga mommy untukmu. Jadi kamu boleh tidur sekarang.”
“Tapi aku mau dipeluk Mommy.”
“Baiklah, Sayang.” Arumi membaringkan tubuhnya dan menggunakan sebelah lengan untuk menjadi bantal Aika. Sekarang posisinya dengan Rafli benar-benar sangat dekat. Karena Aika juga tak melepas lengan daddynya.
“Sangat sayang. Seperti si beruang yang sangat menyayangi Masya.” Arumi memberi contoh kartun favorit Aika yang selalu ditontonnya. Kecupan sayang pun ia berikan sebagai hadiah menjelang tidur. Aika baru dapat bernapas lega dan mulai memejamkan mata. Tentu saja dengan memeluk lengan mommynya. Sangat erat. “Tidurlah, anakku.”
Beberapa menit berlalu.
Aika sudah terbuai oleh mimpi. Arumi pun merasakan kantuk mulai menyerang. Ingin memejamkan mata, tetapi Rafli masih betah dalam posisinya. Satu tangan memainkan ponsel, sementara lengan satunya dipeluk Aika.
“Kau akan tidur di sini juga?” tanya Arumi.
__ADS_1
“Sebenarnya aku mau keluar. Tapi aku sudah berjanji kepada Aika akan menjaga mommynya,” kilah Rafli. Padahal sebenarnya ia ingin berlama-lama memandangi Arumi.
“Aika sudah tidur. Jadi kau boleh tidur di kamar sebelah.”
“Tapi Aika bisa terbangun kalau aku bergerak sedikit saja.”
Keduanya berbicara dengan suara nyaris berbisik agar Aika tidak terbangun. Sejak kejadian penculikan itu, Aika kerap terbangun di malam hari dan menangis ketakutan mencari daddynya. Karenanya, Rafli tidak pernah meninggalkannya selama menjalani perawatan di rumah sakit.
“Dia tidak mungkin bangun karena sudah tidur nyenyak. Sekarang keluarlah.”
Mendengar itu, Rafli berdecak pelan seraya menghembuskan napas panjang. Tingkah Arumi layaknya perawan yang malu berdekatan dengan seorang pria.
“Ya ampun, Arumi. Kita sudah pernah berada dalam posisi lebih dekat dari ini sampai menghasilkan Aika. Aku juga masih ingat kau punya tanda lahir di--”
Ucapan Rafli yang terkesan vulgar menciptakan rona merah di pipi Arumi, yang sialnya masih terlihat jelas meskipun pencahayaan temaram. Membuat Arumi meraih bantal boneka dan menghantamkan ke wajah lelaki itu.
"Dulu aku lebih me$um dari ini tapi tidak pernah dipukul bantal," protes Rafli.
Rasanya Arumi ingin menenggelamkan diri di dasar Bumi terdalam.
__ADS_1
...****...