
...Tuhan selalu memiliki skenario unik untuk menyatukan yang berjodoh dan memisahkan yang tak berjodoh....
Rafli dan Arumi sudah terikat tali perjodohan sejak kecil. Segala tipuan yang dilakukan Yuna rupanya tak cukup untuk menghalangi semesta menyatukan kembali keduanya. Hari ini setelah perpisahan panjang, Rafli dan Arumi akan dipersatukan kembali ke dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya. Memulai lembaran yang baru dengan bahagia.
Pernikahan itu sendiri berlangsung secara sederhana dan tertutup. Serta hanya melibatkan keluarga dan sahabat terdekat. Demi menjaga privasi dan berita miring yang beredar.
Meskipun begitu, semua orang yang hadir turut berbahagia. Terutama Mom Riana yang sudah beberapa kali mengusap lelehan air mata di pipi. Akhirnya putra semata wayangnya itu mendapatkan kebahagiaan sempurna. Dan cucunya, Aika, akan tumbuh dalam keluarga yang lengkap seperti keluarga pada umumnya.
Sejak hadirnya Arumi, Aika yang dulu pendiam sudah menjelma menjadi gadis kecil yang ceria. Sekarang ia sedang bermain dengan Sky dan Star. Rafli dan Arumi menyalami tamu sambil sesekali mengawasi putrinya.
“Bagaimana kalau malam ini kita menginap berdua di hotel? Aku sudah meminta Osman memesan sebuah kamar untuk kita,” bisik Rafli ke telinga Arumi.
“Berdua saja? Lalu Aika?” Arumi menatap lelaki yang baru saja menjadi suami sah nya itu penuh tanya.
“Ayolah. Aku rasa satu malam saja tidak apa-apa. Lagi pula ada ibu yang akan menjaganya.”
__ADS_1
Tentu saja rayuan maut itu ditolak Arumi mentah-mentah. Ia tidak mungkin meninggalkan Aika, sebab putrinya itu masih sering terbangun di larut malam mencari mommy atau daddynya.
“Aku tidak mau meninggalkan Aika. Kalau dia mencari kita bagaimana?”
Jawaban Arumi membuat Rafli mendesahkan napas panjang. Sepertinya akan sulit untuk melepas kerinduan yang menggunung selama empat tahun.
“Baiklah. Kita menginap di rumah saja. Tapi Aika akan tidur di kamarnya sendiri. Ada banyak hal yang harus kita lakukan malam ini dan tidak mungkin melibatkan Aika.”
Bisik-bisik berbau 21+ itu pun menciptakan semburat merah di pipi Arumi. Pikirannya dengan cepat menebak apa maksud laki-laki itu.
*
*
*
__ADS_1
Malam hari seluruh penghuni rumah sudah berada di kamar masing-masing. Hari ini cukup melelahkan dan butuh istirahat untuk mengembalikan tenaga keesokan harinya.
Di kamar, Rafli baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya kembali segar setelah membersihkan diri. Sambil mengeringkan rambut, ia melirik jam. Sudah hampir dua jam ia menunggu, namun Arumi tak kunjung masuk ke kamar. Ia sedang menidurkan Aika di kamar sebelah.
“Kenapa lama sekali?” Rafli berdecak sambil memainkan ponsel demi menghilangkan kebosanan. Hingga beberapa menit berlalu, penantian panjang itu pun berakhir dengan pintu kamar yang terbuka.
Arumi seketika mematung di ambang pintu saat mendapati Rafli hanya tertutupi oleh handuk yang melilit pinggang. Tubuhnya semakin membeku saat pemilik tubuh kekar itu berjalan ke arahnya.
“Aika sudah tidur?”
“Sudah.”
“Baguslah. Akhirnya sekarang kita memiliki waktu berdua.” Rafli menarik tubuh Arumi yang masih terdiam di pintu, lantas mengunci pintu rapat-rapat.
Arumi merasa berdebar dan hangat di saat bersamaan, saat tubuh tanpa busana itu mendekapnya sangat erat. Sepasang matanya terpejam ketika menyesap aroma segar yang menguar dari tubuh suaminya. Memanjakan indera penciuman.
__ADS_1
Bibirnya seperti terkunci saat bibir Rafli bermain di kening, pipi, dan berakhir di ....”
...****...