Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Membawa Aika Keluar Negeri?


__ADS_3

Arumi berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu. Sejak semalam, ia tak dapat menenangkan diri setelah bermimpi buruk tentang Aika. Saat hendak keluar, bersamaan dengan Alex yang baru tiba.


“Kau mau ke mana?” tanya Alex curiga, sambil memperhatikan penampilan Arumi yang sudah rapi.


“Aku mau pergi mencari Aika. Tapi sebelumnya aku akan mengunjungi acara amal dulu. Hari ini ada doa bersama anak-anak yatim dan Aku ingin ke sana untuk mendoakan Aika bersama mereka.”


“Baiklah, aku akan menemanimu ke sana. Kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan penting.”


Arumi mengangguk saja.


Sepanjang jalan menuju sebuah gedung tempat diadakannya acara amal itu, ia memilih diam. Mimpi semalam seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi terhadap putrinya.


*


*


*


"Kita duduk di sana saja!" Alex menunjuk ke arah meja sudut. Dia merangkul Arumi dengan posesif.


Saat hendak duduk, perhatiannya teralihkan kepada meja paling depan. Ternyata di sana ada Rafli yang sedang duduk bersama beberapa orang. Terlihat jelas rahang Alex yang mengeras. Ia lantas menatap Arumi tajam.


"Kenapa Dokter Rafli ada di sini? Apa kau sengaja janjian dengannya?"


Arumi tersentak. Lantas melirik arah yang ditunjuk Alex. "Tidak. Aku tidak tahu kalau dia akan datang ke acara ini."


Perusahaan Rafli adalah donatur tetap untuk acara amal yang diadakan setiap tahun itu. Arumi masih ingat pernah menemani Rafli menghadiri acara amal ini. Tetapi, ia sendiri tidak menyangka jika Rafli akan menyempatkan diri untuk hadir di tengah kesibukannya mencari Aika.


"Tidak masalah. Yang penting kau menjaga jarak dengannya."


Alex menyandarkan punggungnya di kursi. Tak lama berselang, terdengar suara deringan ponsel. Alex buru-buru mengeluarkan benda pipih itu.

__ADS_1


Ada kerutan tipis di keningnya saat melihat nama Yuli pada layar ponsel. Mau apa wanita itu menghubunginya? Begitu pikir Alex.


Meskipun kesal karena panggilan Yuli cukup mengganggu, namun Alex berusaha untuk tak menunjukkan di hadapan Arumi. Apalagi Alex menebak jika Yuli menghubunginya pasti karena sesuatu yang berhubungan dengan Aika.


“Sebentar, aku akan jawab telepon dulu.”


Arumi hanya menyahut dengan anggukan. Alex pun segera beranjak dari ruangan itu. Sementara di tempatnya duduk, Rafli melirik Arumi. Sorot menghujam lelaki itu membuat tubuh Arumi terasa meremang.


“Tuan.” Panggilan Osman membuyarkan konsentrasi Rafli. Lelaki itu menoleh seketika.


“Ada apa? Kenapa kau menyusul ke sini?” protesnya, mengingat ia meminta Osman untuk melanjutkan pencarian Aika. Sekarang ia malah muncul secara tiba-tiba di acara amal ini. Rafli sendiri sengaja menyempatkan beberapa menit waktunya, sebelum melanjutkan mencari Aika.


“Saya akan segera melanjutkan pencarian setelah memberikan ini.” Osman menyerahkan sebuah map. “Ini data lengkap tentang Alex Erdogan beserta pekerjaan yang dia geluti selama ini.”


Rafli menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia tak begitu peduli dengan Alex dan pekerjaannya. Untuk saat ini ia hanya ingin fokus terhadap Aika dan Arumi. Dengan acuh tak acuh ia membuka map yang diberikan Osman. Sepasang matanya melotot membaca halaman demi halaman.


“Gila! Dia sindikat penjualan wanita dan anak-anak rupanya.”


"Dia benar-benar berbahaya," sambung Rafli.


"Bukankah Anda bisa menggunakan bukti ini untuk membebaskan Nona Arumi? Orang licik harus dihadapi dengan cara licik juga, kan?"


Sejenak Rafli melirik Arumi. Dari sana ia dapat melihat bahwa Arumi sedang menangis seorang diri.


"Kemana Alex Erdogan? Kenapa Arumi sendirian di sana?"


Rafli mengedarkan pandangan ke sekitar gedung. Dia melihat Alex baru saja keluar melalui pintu sambil meletakkan ponsel ke telinga.


*


*

__ADS_1


*


“Bos!” Suara Yuli terdengar panik di ujung telepon.


“Ada apa? Kenapa kau menghubungiku?” Nada Alex terdengar sangat kesal.


“Maafkan saya, Bos. Tapi ini sangat penting.”


“Memangnya ada apa?”


“Aika demam. Saya tidak tahu harus bagaimana.”


Alex menghembuskan napas kasar. Ia tak tahu mengapa untuk urusan remeh seperti itu saja Yuli harus menghubungi dirinya.


“Berikan saja obat penurun panas. Kau bisa membelinya di apotek, kan?”


“Sudah, Bos. Tadi saya sudah memberinya obat dan mengompresnya. Tapi demamnya semakin tinggi. Sejak tadi dia menggigil dan terus mengigau. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk dengannya.”


“Kalau begitu berikan saja dosis yang lebih tinggi. Tidak usah terlalu panik dan jangan berpikir untuk membawanya ke rumah sakit karena itu akan sangat berbahaya. Orang-orang Dokter Rafli dan polisi masih melakukan pencarian.”


“Ba-baik, Bos.” Suara Yuli terdengar gemetar.


“Malam ini orang-orang Tuan Brush akan datang untuk menjemput dan membawa anak itu ke luar negeri! Aku sudah sepakat harga yang bagus dengan mereka,” jelasnya panjang lebar. “Sekarang lakukan saja apa yang kuperintahkan. Tenang saja, kalau semuanya lancar, aku akan memberimu bonus.”


Tanpa permisi, Alex memutus panggilan. Kemudian menghela napas panjang. Dia harus memastikan semuanya aman malam ini untuk melakukan transaksi dengan Tuan Brush.


Laki-laki itu memasukkan ponsel ke saku blazer, lalu membalikkan tubuhnya. Manik hitamnya seketika melebar, jantungnya berdegup cepat saat menyadari Rafli sudah berada tepat di hadapannya dengan tatapan geram.


Seluruh tubuh Alex pun gemetar, nyalinya ciut. Tatapan Rafli tampak penuh amarah.


"Bugh!"

__ADS_1


...****...


__ADS_2