Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Menemukan Aika!


__ADS_3

Yuli membaringkan Aika di bawah sebuah jembatan kecil. Sebuah kain tipis ia gunakan sebagai alas di antara bebatuan.


Napasnya tersengal hebat. Berlari menghindari kejaran orang-orang tadi sangat menguras tenaga. Beruntung Yuli tahu sebuah jalan pintas yang jarang dilalui orang, karena hanya ada semak belukar setinggi pinggang. Sekarang wanita itu merasa gatal luar biasa pada betis akibat gigitan semut.


“Tadi bos bilang transaksi dengan Tuan Brush di jembatan ini, kan?”


Wanita itu melirik ke sana ke mari. Sepertinya sudah aman, sebab orang-orang tadi sudah tidak terlihat. Sekarang Yuli harus memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tak ingin sampai tertangkap polisi dan dipenjara dalam waktu yang lama. Apalagi melihat kondisi Aika yang semakin memburuk.


“Aika, tunggu di sini sebentar, ya. Aku akan pergi dulu mencari bantuan. Aku akan segera kembali menjemputmu!”


Sebelum beranjak meninggalkan Aika seorang diri, wanita itu hendak memastikan keadaan sekitar aman untuknya.


*


*


*


Kegelapan mulai menyelimuti Bumi ketika Rafli, Arumi dan beberapa anak buahnya berlari-lari menelusuri jalan sunyi yang tampak mulai gelap.


Beberapa menit lalu, Rafli mendapati seorang wanita berbadan gemuk sedang berlari meninggalkan panti asuhan dengan menggendong anak kecil dan ia yakin itu adalah Aika.


“Cepat berpencar di sekitar tempat ini! Jangan beri celah sedikit pun untuk wanita tadi melarikan diri!” teriakan Osman menggema di udara.


Rafli berjalan sambil mengamati keadaan sekitar. Mulai terlihat panik dengan keringat mengucur di kening.


“Aika, jawab Daddy, Nak! Daddy datang untuk menjemputmu!” teriaknya, sambil mengarahkan pandangannya ke segala arah. Tetapi, sama sekali tak ada sahutan.

__ADS_1


Beberapa menit mereka mencari namun tak juga menemukan tanda keberadaan Aika dan wanita tadi. Gerimis yang jatuh membasahi Bumi semakin menambah rasa khawatir. Arumi sudah terlihat lemas. Ingin rasanya Arumi menukar nyawanya sendiri, jika itu bisa mengenbalikan putrinya.


“Tuan, sepertinya mereka tidak ada di sekitar sini. Bagaimana kalau kita cari di tempat lain,” usul salah satu anak buahnya.


“Tidak!” potong Arumi cepat. “Aku yakin mereka masih ada di sekitar sini! Wanita itu tidak mungkin bisa pergi jauh dengan menggendong anak kecil, bukan!” lirih Arumi. “Aku mohon cari sekali lagi di sekitar sini.”


Entah mengapa naluri keibuannya seperti merasakan Aika ada di sekitarnya. Batin Arumi dipenuhi dengan harapan akan menemukan putrinya di tempat itu.


“Sepertinya mereka memang sudah pergi, Arumi. Ayolah, kita harus bergerak cepat. Wanita tadi tidak mungkin tetap berada di tempat yang sama,” bujuk Rafli berusaha meyakinkan. "Lagi pula mereka akan tetap berpencar mencari."


Arumi kembali terisak-isak. Sambil menahan sesak di dada, ia berjalan ke tepi jembatan kecil dan berpegangan pada pembatas jembatan. Di sana ia menangis sejadi-jadinya.


“Ke mana orang-orang jahat itu membawa anakku,” lirihnya pelan.


Rafli mencoba untuk menenangkan Arumi dengan memeluknya. Bagaimana pun juga, Rafli merasakan sakit yang sama. Ketika rasa takut kehilangan seolah melumpuhkan akal sehat.


"Daddy ...." Suara lemah itu mengalihkan perhatian Arumi dan Rafli. Keduanya saling tatap dan mencari sumber suara.


“Itu suara Aika!” Rafli mengarahkan pandangan ke sumber suara. Tergesa-gesa menyalakan lampu dari ponsel dan mengarahkan ke bawah jembatan tempat mereka sekarang berpijak.


Sepasang mata Rafli mendadak penuh oleh cairan bening ketika indera penglihatannya menangkap sosok tubuh kecil terbaring seorang diri di kegelapan hanya dengan beralaskan kain tipis.


“Aika!” teriak Rafli membuat semua orang menoleh kepadanya.


Dengan gerakan cepat, Rafli melompati pagar pembatas jembatan. Kemudian membungkukkan punggung demi meraih tubuh kecil itu dan membawa ke pangkuannya.


Dan benar, itu Aika.

__ADS_1


Seluruh pakaiannya basah, tubuhnya menggigil kedinginan. Wajah pucat dan bibir mulai membiru. Tak tahan, Rafli membenamkan tubuh kecil itu ke pelukannya.


“Aika, bangun, Nak! Daddy sudah datang untuk menjemputmu!”


Semua orang yang ada di sana ikut turun ke jembatan. Arumi ikut turun dengan bantuan salah satu pengawal. Ia langsung bersimpuh di hadapan Rafli sambil menangis.


"Aika! Ini benar Aika?" Arumi memeluk tubuh putrinya yang basah. Air mata tak tertahankan lagi.


Sementara Rafli masih berusaha membangunkan Aika dengan memeluk dan menciumi wajahnya.


"Bangun, Nak! Buka matamu!"


Suara tak asing itu memaksa Aika untuk membuka mata secara perlahan. Meskipun penglihatannya buram, tetapi sayup-sayup masih dapat mendengar suara daddynya.


“Daddy ... dingin, Daddy!” lirihnya lemah.


“Iya, Nak. Tunggu sebentar. Daddy akan membawamu pergi dari sini.”


"Dingin, Daddy!" lirihnya lagi dengan suara yang lebih lemah. Bahkan Rafli harus mendekatkan telinga ke bibir Aika agar dapat mendengar suaranya dengan jelas.


Aika menarik napas dalam. Rafli dapat melihat betapa putrinya berusaha meraup udara dengan susah payah. Lalu, dalam hitungan detik sepasang mata Aika terpejam. Ia tak sadarkan diri lagi.


“Aika, bangun, Nak! Ayo, bertahan sebentar lagi. KIta akan pergi dari sini.”


Semua orang panik seketika. Dalam tangis, Rafli dan Arumi memeluk tubuh Aika erat.


Dan dalam hitungan detik, sudah terdengar suara isak tangis bercampur jeritan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2