Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Menikah Denganku!


__ADS_3

“Aika Sayang, kita masuk ke kamar dulu, ya. Biarkan mommy dan daddy bicara berdua,” bujuk Mom Riana. Wanita paruh baya itu mengerti bahwa Rafli dan Arumi butuh waktu berdua untuk membicarakan hubungan mereka. 


“Tidak mau, Oma! Nanti mommyku akan pergi lagi!” Aika melingkarkan tangan pada tubuh  mommynya. Memeluknya sangat erat. 


“Tidak, mommymu tidak akan ke mana-mana. Mommymu akan tinggal di sini bersama kita,” tambah Rafli.  


“Tapi mommy bawa koper, Daddy!” Gadis kecil itu semakin membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Arumi. 


Membuat Arumi mengusap puncak kepalanya penuh kasih. “Sayang, mommy tidak akan pergi. Karena sekarang sudah ada Aika di sini bersama mommy.” Kali ini Arumi ikut membujuk putrinya. Namun, Aika tak langsung percaya begitu saja. Pikiran polosnya tetap menduga bahwa mommynya akan pergi meninggalkannya. 


Aika turun dari pangkuan mommynya. Masuk ke kamar dengan tergesa-gesa dan keluar kurang dari dua menit dengan membawa borgol mainan berwarna pink miliknya. Rafli dan Arumi saling lirik. Entah apa yang akan dilakukan Aika kali ini. 


“Mommy tidak boleh pergi!” Satu borgol ia lingkarkan pada pergelangan tangan Arumi, lalu satunya lagi ia lingkarkan pada pergelangan tangan daddynya. Membuat semua orang yang ada di sana menahan senyum. “Sekarang Mommy tidak bisa ke mana-mana lagi,” ucapnya sangat puas. 


Mom Riana terkekeh melihat kepolosan cucu kesayangannya itu. Padahal borgol mainan itu hanya terbuat dari bahan plastik yang sangat mudah untuk dilepas meskipun menggunakan kunci. 

__ADS_1


“Ayo, Sayang. Kita ke kamar.” 


Akhirnya Aika menuruti ajakan omanya untuk ke kamar. Meninggalkan Rafli dan Arumi berdua. Ada sangat banyak hal yang harus mereka bicarakan. Salah satunya mungkin menyambung kembali tali perjodohan yang telah dikacaukan oleh Yuna. 


“Kalau borgolnya dilepas, Aika pasti akan marah.”  Rafli membuka suara setelah pintu kamar Aika tertutup. “Jadi bagaimana?”


“Bagaimana apanya?” 


“Tawaranku tempo hari masih berlaku. Mungkin kau tertarik untuk menerimanya.” 


Masih segar dalam ingatan Arumi tawaran Rafli untuk menikah beberapa hari lalu. Kala itu ia memang belum memberi jawaban karena ragu. Untuk beberapa saat Arumi terdiam seperti memikirkan sebuah jawaban. 


Arumi tertawa kecil mendengar ancaman itu. Ia menatap borgol kecil yang membelenggu tangan mereka. 


“Mari kita menikah dan memulai semuanya dari awal lagi. Bersama Aika.” 

__ADS_1


Dalam hitungan detik bola mata Arumi sudah dipenuhi cairan bening. Setelah melalui perjalanan panjang hidupnya yang menyedihkan, apakah ini adalah waktunya untuk bahagia? 


Rafli mengusap lelehan air mata yang membanjiri pipi Arumi. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu dan mengungkapkan betapa Arumi sangat berharga baginya. 


Selama beberapa saat keduanya saling tatap. Mengalirkan cinta yang tersimpan dalam hati masing-masing.


"Apa aku harus mengulang pertanyaan yang sama? Kenapa setiap aku mengajakmu menikah kau tidak menjawab?"


Arumi mengulas senyum dan menatap mata Rafli. “Baiklah. Aku akan menikah denganmu.” 


Jawaban itu membuat Rafli melukis senyum tipis di bibirnya. Lantas mencium punggung tangan Arumi. Segala beban yang selama ini tersimpan perlahan menghilang. “Tapi kau harus bersiap-siap,” ucapnya.


“Bersiap-siap apa?” Kedua alis Arumi salon bertaut.


“Aku berencana punya anak setiap tahun. Apa kau sanggup?” 

__ADS_1


Arumi menghela napas panjang. Cubitan keras pun mendarat ke pinggang Rafli. Membuat lelaki itu melenguh kesakitan. Tak tahan, Rafli pun menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Melepaskan kerinduan yang menguasai hatinya. 


...****...


__ADS_2