
Arumi merasakan getaran pada seluruh tubuhnya saat Rafli menghimpit tubuhnya ke dinding. Tubuh polos dan kekar itu menguncinya dengan begitu ketat hingga tak dapat bergerak lagi. Bahkan saat Arumi ingin memberi ruang bagi dirinya untuk memberontak, Rafli tak memberi celah.
Ciuman hangat tetapi menuntut, serta kelembutan yang tercipta dari setiap sentuhan itu membuat Arumi mabuk kepayang. Menghilangkan akal sehatnya. Tanpa sadar Arumi mendesahkan napas ketika bibir Rafli yang basah mulai menjelajahi lekukan leher, sementara tangannya menjalar ke tempat-tempat tersembunyi di balik pakaian.
Mendadak Arumi merasa seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia bahkan tak sadar lagi sejak kapan Rafli merebahkan tubuh mereka ke tempat tidur, dalam posisi Rafli berada tepat di atas dan mengungkung tubuhnya.
Sepasang mata Arumi terpejam. Napasnya memburu. Tubuhnya tersentak ketika Rafli memberikan serangan di dada yang membuatnya tak berkutik. Satu-satunya yang dapat dilakukan Arumi hanya menjambak rambut suaminya itu.
“Apa ini? Kenapa dia jadi seperti ini?” Pertanyaan itu terbesit di benak Arumi. Belum pernah sebelumnya Rafli bermain dengan liar seperti sekarang. Dulu ia sangat lembut dan berhati-hati. Mungkinkah ini pelampiasan setelah perpisahan empat tahun?
Entahlah.
Arumi kembali dibungkam oleh ciuman yang lebih mendesak dibanding sebelumnya. Jemari Rafli mulai bergerak ke bawah melepas sisa kancing pakaian yang membalut tubuh Arumi. Dalam hitungan detik, keduanya telah dalam keadaan polos dan hanya terbalut selimut. Udara dari pendingin ruangan berhembus menusuk kulit, tetapi anehnya suasana malah semakin memanas.
Rafli berhenti sejenak. Memberi ruang bagi mereka untuk mengatur napas yang memburu. Apalagi setelah menyadari Arumi begitu kesulitan mengimbanginya.
“Kau lelah?” bisiknya ke telinga.
“Ti-tidak ... i-iya,” jawab Arumi secara spontan dan gugup.
Rafli mengulas senyum dan mengusap lelehan keringat yang membasahi dahi istrinya. Kemudian mengecup kening. Dalam dan hangat.
“Kalau begitu istirahat saja malam ini. Masih ada waktu besok. Kita tidak usah terburu-buru.”
Arumi merasakan seluruh tubuhnya meremang. Tak dapat dipungkiri sebenarnya ia menginginkan lebih. Rafli telah berhasil membangkitkan hasr@t yang sejak tadi berusaha ditahan Arumi sekuat tenaga. Dan saat segalanya terasa dipuncak, ia malah mengakhiri.
Ah, Rafli memang pandai memporak-porandakan hati Arumi. Wanita itu tidak akan rela jika semua harus tertunda.
__ADS_1
“Kenapa besok?”
“Bukankah kau sedang kelelahan? Simpan dulu energimu untuk besok.”
Sepertinya sudah kepalan tanggung bagi Arumi. Ingin sekali ia menjambak rambut suaminya itu. Atau menggigit bibirnya yang begitu lihai menjamah tubuhnya. Dibalut rasa kecewa, Arumi mendorong dada Rafli yang masih berada di atas tubuhnya.
“Aku mau tidur di kamar Aika!”
“Kenapa?” Rafli langsung menarik lengan Arumi dan merebahkannya lagi di sisinya.
“Lepaskan! Aku tidak mau tidur di sini!”
Sekarang malah Rafli yang panik. Niatnya menjahili Arumi berbalik menyerangnya.
"Jangan! Aku hanya bercanda tadi." Tak tahan, ia kembali membungkam Arumi dengan ciuman yang menuntut. Arumi harus kembali kepayahan mengimbangi.
Hingga pada saat segalanya terasa melayang, Rafli mempercepat tempo. Keduanya pun terkulai lemas dengan posisi rafli masih di atas.
Untuk beberapa saat mereka diam melepas lelah dengan napas terengah-engah. Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Rafli dan Arumi saling tatap, seolah menanyakan siapa yang ada di luar sana.
“Mommy ... Daddy!”
“Itu Aika!” Rafli langsung bangkit dari posisinya yang masih mengungkung tubuh Arumi. Keduanya tampak sibuk membenahi pakaian masing-masing. Belum lagi tempat tidur yang sangat berantakan sisa aktivitas melelahkan tadi.
Arumi yang panik langsung memakai kembali pakaiannya, sementara Rafli membantu memasang seprai baru dan membenahi bantal dan selimut yang berantakan.
Ketika Arumi beranjak menuju pintu, Rafli memilih masuk ke kamar mandi setelah mengambil piyama di lemari.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang?” tanya Arumi sesaat setelah membuka pintu.
Aika tampak berdiri di depan pintu sambil memeluk sebuah boneka beruang.
“Aku mau tidur dengan Mommy dan Daddy.”
"Baiklah, Sayang. Ayo masuk." Arumi langsung berjongkok dan memeluk putrinya. Ia gendong dan membaringkan ke tempat tidur. Dalam hitungan menit Rafli keluar dari kamar mandi dan ikut berbaring.
Aika memilih memeluk mommynya. Tetapi, sesuatu berhasil mencuri perhatian gadis kecil itu.
“Mommy ....”
“Iya, Sayang.”
“Kenapa di leher Mommy ada merah-merahnya?” tanya Aika polos.
Kala Arumi tampak kebingungan memikirkan sebuah jawaban masuk akal yang dapat diterima anak seusia Aika, Rafli malah tertawa.
"Mommy habis disengat lebah, Nak!" jawab Rafli.
Ya, mommy memang habis disengat lebah. Lebah paling beracun di dunia. ^_^
*
*
*
__ADS_1
TAMAT