Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Kenapa Tidak Tinggal Bersama Saja?


__ADS_3

Mobil yang berada di bawah kendali Osman melaju pelan di keramaian jalan siang itu. Sejak 10 menit lalu, keheningan mendominasi. Arumi memilih diam dan hanya melirik ke sisi jalan yang dilalui.


Seolah tahu betul kelemahannya, Rafli berhasil memaksanya untuk ikut dengan memanfaatkan nama Aika.


"Mulai sekarang jangan dekat-dekat dengan temanmu itu. Buatlah jarak sejauh mungkin dengannya. Aku rasa dia bukan orang baik-baik," ucap Rafli, sambil melirik ke belakang.


"Dan menurutmu kau adalah orang baik, begitu?"


"Setidaknya aku tidak sejahat dia."


Arumi menolehkan kepala hingga kini saling bertatapan dengan Rafli. "Kau baru mengenalnya beberapa hari dan merasa bisa langsung menilainya dengan begitu yakin. Sementara yang bersamamu satu tahun tidak bisa kau nilai dengan baik."


Telak! Ucapan Arumi beberapa detik lalu berhasil menjatuhkan mental lelaki yang duduk di depan.


"Kau akan tahu nanti sejahat apa dia," balas Rafli.


"Menurutku tidak ada yang lebih jahat dibanding seorang ayah yang tega memisahkan bayi yang masih menyusu dari ibunya. Iya kan, Osman?"


Kala Osman mengatupkan bibir demi menahan tawa, tatapan menghujam pun dihadiahkan Rafli. Membuat Osman memilih fokus mengemudi.


"No komen, Tuan." Sambil menerbitkan senyum getir.


Berselang beberapa menit, mobil memasuki halaman sebuah rumah. Pandangan Arumi berotasi ke sekitar. Rumah yang disiapkan Rafli tampak sangat asri dan indah. Dari luar tidak begitu mewah, namun nyaman.


Sepasang mata Arumi tiba-tiba tergenang kristal bening setelah mendapati si kecil Aika sudah berdiri di depan pintu bersama Omanya. Ternyata benar kata Rafli sebelum meninggalkan rumah sakit tadi. Aika sudah ada di rumah dan menunggu. Hal yang membuat Arumi luluh dan batal pulang ke apartemen Alex.

__ADS_1


Begitu mobil terhenti, Arumi langsung memakai cadar demi menyamarkan wajahnya.


Rafli menatapnya sedih. Ia tahu betapa Arumi sangat terluka karena harus menyembunyikan wajahnya dari Aika.


"Itu mommmyku, Oma! Mommyku sudah pulang!"


Kalimat penuh semangat dari pemilik suara menggemaskan itu berhasil melelehkan air mata Arumi. Kerinduan yang menggunung membuatnya segera turun dari mobil.


Seperti tak sabar untuk memeluk wanita yang kata daddy adalah mommy yang sebenarnya, Aika berlari cepat. Arumi berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Disusul perasaan hangat kala tubuh kecil putrinya terbenam ke dalam pelukannya.


"Anakku, mommy sangat merindukanmu," bisiknya lembut dengan pelukan semakin erat.


"Apa mommy sudah sembuh?"


Panggilan mommy yang disematkan Aika menciptakan rasa bahagia tak terkira di hati Arumi.


"Mommy tidak akan pergi lagi, kan?"


"Tidak, Sayang. Mommy akan selalu ada di sini untuk menemanimu."


Aika masih memeluk mommynya. Seakan tak ingin terpisah lagi. Ia bahkan tidak mau melepas pelukannya. Rafli pun segera mendekat, sebab kondisi fisik Arumi belum sepenuhnya pulih dan belum bisa memangku Aika dalam waktu lama.


"Aika, sini Daddy saja yang gendong. Mommynya belum bisa," bujuk Rafli.


Arumi lantas bangkit dari posisi berjongkok kala Mom Riana menghampirinya. Keduanya saling memeluk penuh haru. Ini adalah pertemuan pertama sejak malam Arumi diusir dari rumah empat tahun lalu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu, Arumi? Kau sudah merasa lebih baik, kan?" tanya wanita paruh baya itu.


"Aku merasa lebih baik, Bu. Terima kasih sudah menjaga Aika selama ini."


"Kau ini bicara apa, kenapa harus berterima kasih? Aika adalah cucuku."


Setelah melepas kerinduan, mereka memasuki ke rumah. Rafli memeriksa keadaan sekitar dan memastikan rumah itu nyaman untuk Arumi dan Aika.


"Tunggu, kenapa ada dua koper di sini?" tanya Rafli saat melihat dua koper di dekat pintu masuk. Satu milik Aika, terlihat dari motif boneka dan satu lagi entah milik siapa.


"Koper ibu."


"Kenapa Ibu juga bawa koper?"


"Karena ibu akan tinggal di sini bersama Arumi dan Aika."


Jawaban itu membuat sepasang mata Rafli membulat penuh. Padahal tadinya ia pikir mengizinkan Aika tinggal bersama Arumi sebagai senjata hanya untuk meluluhkan Arumi.


"Berarti mulai sekarang aku akan tinggal sendirian di rumah."


"Agar kau mengerti bahwa sendirian itu tidak enak," ucap Mom Riana sambil tersenyum.


"Daddy pulang saja dulu dan ambil koper juga. Biar bisa tinggal di sini bersama mommy!"


Seketika Arumi dan Rafli saling lirik.

__ADS_1


"Bagus, Aika! Ayo, lebih ngotot lagi memintanya. Kalau perlu paksa daddy-mu ini!" jerit Rafli dalam batin.


...***...


__ADS_2