
Osman meneliti sekitar tempat itu demi mencari keberadaan wanita yang tadi membawa Aika. Geram, kali ini ia tak akan membiarkan siapapun yang telah melakukan perbuatan jahat ini lolos begitu saja.
"Tetap cari wanita tadi dan tangkap dia!"
Osman mengibaskan tangan, memerintahkan anak buahnya untuk mencari.
Sementara dia sendiri segera berjongkok di hadapan Rafli dan meraih pergelangan tangan Aika. Osman dapat merasakan denyut nadi Aika yang sangat lemah. Selain itu, napasnya juga lebih cepat, menandai Aika sedang kesulitan meraup udara.
“Tuan, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit. Nona kecil butuh pertolongan secepatnya!”
Rafli yang masih duduk memeluk putrinya seketika tersadar. Benar kata Osman, mereka harus cepat membawa Aika ke rumah sakit. Sebab kini gadis kecil itu dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Tolong cepat siapkan mobil!” perintah Rafli.
Seorang anak buahnya dengan segera berlari ke tempat mereka memarkir mobil. Rafli bergegas membawa putrinya keluar dari kolom jembatan.
Dalam hitungan menit, mobil sudah siap. Arumi naik lebih dulu ke kursi belakang dan disusul Rafli yang memangku Aika. Mobil pun melesat cepat meninggalkan tempat itu.
Menahan tangis, Rafli membuka pakaian lusuh, sobek dan kedodoran yang dikenakan Aika. Kolom jembatan tempat Yuli membaringkannya tadi bertanah lembab sehingga membuat seluruh pakaiannya basah.
Tangis Arumi pecah seketika. Ia meneliti tubuh putrinya. Arumi baru sadar pakaian Aika sama persis seperti anak yang semalam dilihatnya di depan restoran.
“Jadi Aika adalah anak yang semalam aku lihat di depan restoran. Aku ingat pakaiannya sama persis.”
“Bukankah semalam kau melihat anak laki-laki?”
“Sepertinya mereka sengaja memakaikan pakaian anak laki-laki agar aika tidak mudah dikenali. Pantas saja semalam anak itu ketakutan saat melihatku.”
__ADS_1
Semakin deras saja air mata Arumi. Ia dengan cepat membuka cardigan rajutnya saat agar dapat digunakan untuk membalut tubuh Aika. Rafli juga melepas jas miliknya dan membungkus tubuh putrinya demi meminimalisir rasa dingin. Keduanya lantas memeluk Aika bersama.
“Cepat, Osman!” teriak Rafli.
Osman menekan pedal gas lebih dalam yang membuat mobil melesat cepat. Laki-laki itu tak peduli lagi dengan lampu lalu lintas dan menerobos lampu merah begitu saja. Beruntung tidak ada insiden di sana.
Selama perjalanan, berulang-ulang Rafli menciumi wajah Aika sambil berusaha menghangatkan tubuhnya. Melihat kondisi putrinya sekarang, ia benar-benar ingin melenyapkan orang jahat yang telah menyakiti putrinya. Terutama Alex.
*
*
*
Arumi duduk di depan sebuah ruangan berpintu kaca dengan tatapan kosong. Matanya sembab dan merah. Tangisnya perlahan reda menyisakan suara sesegukan.
Hingga tak lama berselang, pintu ruangan itu terbuka. Rafli keluar dengan masker dan pakaian berwarna hijau khas dokter. Arumi langsung berdiri dan mendekat.
“Bagaimana keadaan Aika? Dia baik-baik saja, kan?”
Tak tahan melihat Arumi kembali melelehkan air mata, Rafli mendekapnya. “Tenanglah, Aika pasti akan baik-baik saja. Tim dokter akan melakukan yang terbaik untuknya.”
Rasa bersalah semakin dalam mengakar di hati Arumi. Dirinya merasa sebagai penyebab semua keadaan ini.
“Maafkan aku. Semua ini karena kesalahanku. Seandainya saja aku lebih berhati-hati, Aika tidak akan pergi.”
“Sudahlah. Bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting sekarang Aika sudah ditemukan.”
__ADS_1
“Aku takut sekali. Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan anakku.” Arumi membenamkan wajahnya di dada Rafli.
“Tenanglah, Aika anak yang kuat. Dia pasti bisa melalui semua ini.”
Selama beberapa saat Rafli berusaha menenangkan Arumi yang terus menangis. Ia melirik ke sebuah arah, di mana terlihat Osman berjalan dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana Nona Kecil?"
"Sudah ditangani oleh dokter."
Osman bernapas lega.
“Oh ya, Tuan, saya baru menerima laporan bahwa wanita yang tadi membawa Nona Aika sudah ditemukan. Dia tertangkap bersama seorang mafia bernama Tuan brush. Mereka semua akan dibawa ke kantor polisi.”
“Pastikan semua bukti kejahatan mereka terkumpul. Laporkan juga pasti asuhan palsu itu. Mereka harus membayar mahal perbuatannya.”
“Baik.” Osman dapat membaca kemarahan yang terlihat jelas dalam tatapan tuannya, yang membuat seluruh tubuhnya merinding.
Belum pernah sebelumnya Osman melihat Rafli semarah sekarang.
"Dan kau ...." Rafli melepaskan pelukan. Membuat Arumi mendongakkan kepala demi menatap mata lelaki itu. "Apa kau masih mau menikah dengannya?"
Arumi membeku. Tatapan Rafli menghunus tajam dan membuatnya tak berkutik. Semalam ia baru saja memberitahu akan menikah dengan Alex dalam bulan ini.
Ketegangan yang sempat tercipta baru terurai setelah Rafli terkekeh, lalu kembali memeluk wanita itu. "Aku hanya bercanda. Berani menikah dengannya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!"
Bukannya terhenti, tangis Arumi malah semakin menjadi-jadi. Yang ia lakukan hanya membenamkan diri di pelukan Rafli.
__ADS_1
...***...