Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Hanya Makan Roti


__ADS_3

"Daddy, aku takut," lirih Aika sambil membenamkan tubuhnya di pelukan sang daddy.


"Takut apa, Nak?"


"Takut tante galak itu ke sini lagi."


Rafli semakin mengeratkan pelukan pada tubuh kecil itu. Sepertinya Aika benar-benar ketakutan saat ini. "Dia tidak akan ke sini. Kan ada Daddy yang akan menjagamu."


"Benar, Daddy? Jangan biarkan dia masuk ke sini, ya."


"Iya, Nak. Tenang saja. Putri kecil ini akan aman karena ada daddynya di sini. Lagi pula di depan ada Om Osman yang berjaga. Dia akan menghalanginya kalau mau masuk."


"Hukum saja, Daddy. Tante itu galak dan jahat."


Selama beberapa saat, keduanya melepas rindu. Rafli mendengarkan semua ucapan Aika dengan baik, meskipun suara Aika masih sangat serak. Sementara Arumi hanya mengintip di luar. Ia menyeka air mata yang meleleh di pipi. Tak ada rasa bahagia lebih dari sekarang. Melihat putrinya sudah kembali dan berangsur membaik.


“Daddy, mau makan,” cicit Aika beberapa saat kemudian. Dari perutnya sudah terdengar suara keroncongan.

__ADS_1


“Kamu lapar, Nak?” 


Dengan gerakan yang masih lemah, Aika menganggukkan kepala. Seharian kemarin ia memang belum makan apa-apa dan hanya sesekali minum air putih. Karena itulah kondisi fisiknya sangat lemah. 


“Baiklah, tunggu sebentar. Daddy akan pesan makanan untukmu.” 


Rafli segera meraih ponsel yang semalam ia letakkan di atas nakas, lalu menghubungi restoran miliknya. Di restoran itu tersedia paket sarapan dengan menu utama bubur ayam yang juga merupakan menu kesukaan Aika.


Tak sampai satu jam, sarapan yang diminta Aika sudah tiba. Seorang karyawan restoran datang dengan membawa menu sarapan dan juga beberapa buah segar. Rafli meletakkan dua bantal di belakang punggung Aika agar dapat duduk bersandar.


Dengan penuh kasih Rafli menyuapi putrinya. Hampir saja ia menjatuhkan air mata melihat Aika makan seperti seorang anak yang kelaparan. Selain itu tubuh Aika terlihat lebih kurus dibanding beberapa hari lalu sebelum menghilang.


"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak."


"Enak, Daddy."


Rafli mengulas senyum. Sesekali mencium puncak kepala putrinya. "Apa mereka tidak memberimu makan?"

__ADS_1


"Kalau dapat uang banyak, aku dikasih makan sama Tante Gendut itu, Daddy. Kalau tidak dapat uang, tidak boleh makan." Dengan polosnya Aika mengadukan semua perbuatan Yuli kepadanya. Yuli memang sempat memberi ancaman, jika Aika tidak mendapatkan uang dari hasil mengemis, maka ia tidak akan diberi makan malam.


Mendengar ucapan polos Aika, kepingan rasa bersalah semakin besar di hati Rafli sebab merasa gagal menjaga putrinya. Dulu dengan Yuna, sekarang dengan Alex dan anak buahnya. Amarah di hati Rafli pun semakin melambung ketika Aika mengeluhkan sakit pada betis karena sering kelelahan berjalan jauh.


Rafli benar-benar tidak akan mengampuni Alex dan anak buahnya, yang memanfaatkan Aika untuk dijadikan pengemis di jalanan hingga jatuh sakit. 


Setelah sarapan, Rafli mengusap sisa makanan di bibir putrinya dengan selembar tissue. Aika terlihat lebih baik meskipun wajahnya masih sedikit pucat.


"Sayang, kenapa pergi dari sekolah? Bukankah akan ada mommy yang datang menjemputmu?"


Dalam hitungan detik, tubuh Aika langsung gemetar. Rafli tahu putrinya akan ketakutan setiap kali teringat Yuna. Tetapi, setelah kejadian ini, ia memutuskan akan memberi pengertian kepada Aika bahwa mommynya terlahir kembar. Meskipun mungkin hal itu akan sulit dimengerti anak sekecil Aika.


"Itu bukan mommyku, Daddy! Itu Mommy Yuna yang jahat."


Di balik jendela kaca, Arumi mengusap air mata yang meleleh di pipi. Ia dapat melihat ketakutan besar dalam tatapan Aika.


...****...

__ADS_1


__ADS_2