Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Kenapa Disembunyikan?


__ADS_3

Empat hari berselang ....


Setelah beberapa hari dirawat intensif di rumah sakit, Aika sudah diizinkan untuk pulang. Selama itu pula Rafli, Arumi dan Mom Riana bergantian menjaga. Arumi baru bisa masuk ke kamar jika Aika sedang tidur. Karena hanya saat tidur Arumi dapat memeluk atau sekedar mencium putrinya. Usaha Rafli untuk memberi pemahaman bahwa mommynya kembar rupanya belum dapat diterima Aika. Sehingga yang mereka lakukan hanya bersabar sambil menjelaskan secara perlahan.


Sekarang Rafli sudah membawa Aika ke rumah keluarga Alvaro. Sedangkan Arumi tetap di rumah pemberian Rafli beberapa waktu lalu.


“Arumi, pikirkan lagi keputusanmu. Pergi bukan jalan terbaik.”


Sudah berulang-ulang Mom Riana mencoba membujuk Arumi agar membatalkan niatnya untuk pergi. Tetapi, setelah melihat perkembangan Aika, ia memilih untuk tidak egois.


“Aku tidak mau ambil resiko, Bu. Kejadian kemarin membuatku takut. Aku akan kembali suatu hari nanti, saat Aika sudah lebih besar dan bisa memahami semuanya.”


“Tapi kenapa kau tidak tinggal di sini saja? Kenapa harus pergi?”


Apa yang diucapkan Mom Riana memang benar adanya, dan Arumi pun sadar bahwa keputusan pergi untuk sementara bukan jalan terbaik. Tetapi, jika terus berada di sini, Arumi tidak pernah tahan untuk tidak melihat putrinya.


“Aku takut akan melakukan kecerobohan yang sama seperti saat Aika pergi.” Arumi menyeka air mata, lalu memasukkan lembar demi lembar pakaiannya ke dalam koper. “Aku tidak mau itu terjadi lagi, Bu. Aika adalah satu-satunya alasan kenapa aku bertahan hidup dan aku akan melakukan apapun untuknya.”


Mom Riana yang berdiri di belakang punggung Arumi hanya menatapnya nanar. Harapannya untuk melihat Rafli, Arumi dan Aika hidup bahagia akan sirna dengan kepergian Arumi. Wanita paruh baya itu lantas keluar kamar dan mengeluarkan ponsel. Satu-satunya yang dapat mencegah kepergian Arumi sekarang hanyalah Rafli.

__ADS_1


*


*


*


Sementara itu di rumah


Rafli sangat khawatir setelah mendapat telepon dari Mom Riana yang memberitahu perihal niat Arumi untuk pergi. Rafli sendiri tidak yakin akan mampu membujuk Arumi, sebab wanita itu lumayan keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu.


“Bu, tolong tahan Arumi dulu. Aku akan melakukan sesuatu dulu.”


“Baiklah, tapi jangan lama, Rafli. Ibu takut tidak bisa mencegah Arumi.”


Panggilan terputus. Rafli tampak frustrasi. Demi apapun ia tidak akan rela jika Arumi sampai pergi meninggalkannya lagi seperti empat tahun lalu.


Kebodohan itu tidak boleh terulang. Harapan satu-satunya sekarang adalah Aika. Sebab hanya Aika yang mampu mencegah kepergian mommynya.


Maka langkah pertama yang dipilih Rafli adalah membujuk Aika. Sebelum itu, ia menuju ruang baca dan mencari album foto lama. Salah satu Album berisi foto kenangan saat Arumi mengandung Aika hingga kelahiran.

__ADS_1


Rafli bersyukur karena tidak melenyapkan album foto tersebut. Padahal kala itu ia dalam keadaan dikuasai amarah dan hampir membakar habis foto apapun yang menyangkut Arumi. Bahkan foto resepsi pernikahan dengan Arumi sudah habis dibakar.


“Hai, Sayang.” Rafli mengulas senyum saat memasuki kamar putrinya. Aika sedang duduk di lantai sambil bermain boneka ditemani seorang asisten rumah tangga. “Lisa, kau boleh keluar dulu. Biar aku yang temani Aika.”


“Baik, Tuan.” Lisa segera beranjak keluar meninggalkan mereka.


Sementara Rafli langsung menggendong putrinya dan mendudukkan di sofa. Kemudian meletakkan album foto di hadapan Aika.


“Apa itu, Daddy?”


Rafli membelai puncak kepala putrinya penuh kasih. “Di buku ini ada fotomu bersama mommy. Kamu mau lihat?”


Rafli membuka halaman pertama, di mana terlihat Arumi sedang berpose dengan perutnya yang buncit. Melihat itu, Aika langsung menggeleng sebagai tanda penolakan dan mendorong album foto menjauh. Ia memilih bersandar di dada daddynya.


“Tidak mau, Daddy!”


“Kenapa tidak mau? Itu mommymu, Nak. Lihat di perutnya ini ada Aika yang sedang tumbuh.”


Aika memberanikan diri menatap foto itu. Terlihat jelas Arumi sedang tersenyum sambil membelai perutnya yang membesar.

__ADS_1


“Kenapa mommy menyembunyikan aku di perutnya, Daddy? Apa mommy suka makan anak kecil seperti monster?”


...****...


__ADS_2