Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Dia Seperti Sedang Tertekan


__ADS_3

Arumi seperti kehilangan nyali dibuatnya. Ia bahkan belum berani mengeluarkan sepatah kata pun. Manik hitam tajam menusuk milik Alex berhasil membuat tubuhnya kehilangan energi.


Melalui gerak tubuhnya, Rafli mampu melihat betapa Arumi mendadak kikuk karena kedatangan Alex secara tiba-tiba. Ia sendiri pun tak tahu mengapa Alex dapat menemukan tempat tinggal baru Arumi secepat ini.


Apa jangan-jangan kemarin dia mengikuti kita? Begitu pikiran Rafli menebak.


Tak peduli akan seperti apa pandangan Alex terhadap mereka, Rafli mengetatkan lilitan handuk di pinggang, lalu mengayunkan kaki mendekat. Sebelah tangannya mengulur dan menarik pergelangan tangan Arumi, hingga tubuh wanita itu tertarik ke belakang punggungnya. Rafli dapat merasakan tangan Arumi yang gemetar dan dingin. Hal itu menciptakan keyakinan dalam hatinya bahwa ada sesuatu yang tidak beres antara Arumi dengan Alex.


"Mau apa bertamu sepagi ini?" Tatapan Rafli menghujam lebih tajam. Tubuhnya yang berdiri kokoh nyaris menghalangi pandangan Alex dari Arumi.


"Aku ada urusan pribadi dengan Arumi," balas Alex.


"Semua urusan yang menyangkut Arumi adalah urusanku."


Ucapan Rafli hanya disambut Alex dengan tawa sinis. Sebisa mungkin lelaki itu berusaha tenang di tengah sikap arogan yang ditunjukkan Rafli. "Apa Anda suaminya? Atau kakaknya? Kalau bukan, maka ...."


"Tergantung situasi. Aku bisa jadi apapun untuknya." Rafli memotong cepat sebelum mulut tajam lelaki menyebalkan itu membuat Arumi semakin tertekan. "Jadi, karena ini masih pagi, silahkan tinggalkan rumah ini."


Alex bergeming. Sepenuhnya menyadari bahwa rumah yang sekarang dihuni Arumi memang adalah rumah Dokter Rafli. Tetapi ia pun tak ingin kalah begitu saja, sebab merasa memiliki hak penuh terhadap wanita itu.


"Arumi, aku perlu bicara berdua denganmu sekarang juga."

__ADS_1


Arumi yang berdiri di belakang Rafli segera tersadar dari lamunan. Ia memberanikan diri untuk menghadapi Alex. Tetapi jangan senang dulu, karena Rafli kembali menjadi penghalang.


"Sepertinya kau harus membangunkan Aika. Bukankah dia harus sekolah pagi ini," ucap Rafli.


"Arumi." Satu panggilan terakhir dari Alex berhasil melumpuhkan Arumi. Wanita itu pun menggeser posisi, hingga berdiri bersisian dengan Rafli.


"Aku perlu bicara dengannya. Aku mohon," ucap Arumi, seraya menatap Rafli penuh harap.


Menyelami tatapan Arumi, Rafli dapat membaca kesedihan yang seperti ingin ditutupi oleh Arumi. Ia pun sadar, sikap arogannya sekarang dapat berdampak buruk bagi Arumi.


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama."


Sebelum meninggalkan ruang tamu, Rafli menghujamkan tatapan tajam kepada Alex. Kemudian pergi meninggalkan kedua orang itu.


"Aku tidak akan lama, aku hanya mau menyampaikan sesuatu yang kurasa penting." Alex memilih duduk di sofa ruang tamu. Sekilas pandangannya meneliti setiap bagian rumah itu.


"Maafkan aku."


"Aku datang bukan untuk mendengar maaf darimu." Kali ini Alex menatapnya lebih serius. "Aku ingin mengingatkanmu pada perjanjian kita. Mungkin saja sekarang kau lupa."


Kedua bola mata Arumi kembali berkaca-kaca. Menikah dengan Alex adalah salah satu isi perjanjian yang telah ia setujui demi mendapatkan kebebasan dari perbudakan.

__ADS_1


"Aku ingat." Suara Arumi sedikit bergetar. "Tapi aku masih butuh waktu untuk mendekati Aika. Kau lihat sendiri aku masih menyembunyikan wajahku darinya. Kau bisa menunggu sedikit lagi, kan?"


Alex tak merespon dengan berlebih, selain sikap dingin yang ia tunjukkan kepada Arumi.


"Kalau begitu, aku akan memberimu waktu tiga hari untuk meninggalkan rumah ini dan kembali ke apartemen."


Arumi memberanikan diri mendongak demi menatap laki-laki itu.


"Aku tidak masalah dengan putrimu. Tapi aku minta jauhi dokter itu."


Baru saja Alex menyelesaikan kalimatnya, sudah terdengar panggilan dari dalam, disusul dengan kemunculan Aika yang masih menggunakan piyama. Gadis kecil itu langsung menabrakkan tubuhnya pada sang mommy. Memeluknya sangat erat seolah tak ingin membaginya dengan siapapun.


"Mommy, ayo cepat, aku mau sekolah," ucapnya manja. Kemudian melirik lelaki yang duduk tak jauh dari mereka.


"Iya, Sayang. Tunggu sebentar, ya. Mommy sedang ada tamu," bujuk Arumi lembut. Tetapi, Aika tak mau tahu. Ia tetap merengek kepada Arumi untuk dimandikan. Hingga membuat Arumi pasrah dan mengikuti kemauan putrinya.


"Maaf Alex, aku harus ke dalam. Kita akan bicara lain kali."


Alex hanya menatap si kecil Aika yang berusaha menyeret mommynya meninggalkan ruang tamu. Entah mengapa Alex yakin bahwa kedatangan Aika yang menganggu pembicaraan mereka adalah campur tangan Rafli.


"Anak dan daddynya sama saja. Monster kecil ini pasti dikirim daddynya."

__ADS_1


...****...


__ADS_2