Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Terikat Sebuah Janji


__ADS_3

Arumi tengah merasakan kebahagiaan tak terkira. Bisa memeluk putrinya menjelang tidur adalah hal yang sangat diinginkannya selama empat tahun berada dalam pengasingan. Hidup dalam kerinduan yang seakan mampu membunuhnya setiap hari.


Dan sekarang ia dapat memeluk Aika sesukanya. Memberikan perhatian dan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak pernah didapatkan Aika.


"Kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Arumi setelah Aika tak kunjung memejamkan mata. Padahal rasa kantuk sudah terlihat jelas di matanya.


"Kalau aku tidur nanti Mommy akan pergi lagi." Ucapan polos itu membuat hati Arumi seperti disayat.


"Tidak, Nak. Mommy akan tetap di sini menemanimu."


"Janji, Mommy!"


Arumi mengulas senyum tipis. Sejak kembali dari rumah sakit, entah sudah kali ke berapa Aika mengatakan hal yang sama.


"Janji, Sayang. Sekarang tidur, ya. Sudah malam. Besok mau sekolah, kan?"


Aika semakin membenamkan tubuhnya ke pelukan sang mommy. Pelukan yang ia rasakan begitu hangat dan nyaman.


"Mommy, apa daddy boleh tidur di sini bersama kita?"


Sejenak Arumi terdiam. Memikirkan sebuah jawaban yang dapat diterima Aika. "Belum boleh, Sayang."


"Kenapa, Mommy?"


Arumi menatap putrinya penuh selidik. Setiap ucapan polos Aika seperti mengandung sebuah misteri. "Apa ini rahasiamu dengan daddy lagi?"


"Bukan. Daddy tidak bilang tentang rahasia ini, Mommy."


"Baiklah, Sayangku. Kalau begitu biar ini jadi rahasia kita. Sekarang tidurlah, mommy akan ceritakan sebuah kisah."


Bermaksud mengalihkan perhatian Aika, gadis kecil itu langsung mengangguk setuju. Arumi menceritakan sebuah kisah dari negeri dongeng yang berhasil mengantarkan Aika ke alam mimpi.

__ADS_1


"Selamat tidur, anakku." Ia membenamkan ciuman di pipi dan membalut tubuh kecil itu dengan selimut.


Setelah memastikan Aika benar-benar sudah tidur, Arumi melepas cadar yang seharian ini menutupi wajahnya. Kemudian beranjak keluar kamar menuju dapur. Berbicara panjang lebar dengan Aika tadi membuatnya agak haus.


Saat melewati ruang televisi, sosok yang terbaring di sofa berhasil mencuri perhatiannya. Hey, ternyata tuan arogan Rafli belum pulang juga.


Sekarang lelaki itu malah ketiduran di sofa. Posisi tidur yang menurut Arumi sangat tidak nyaman, tetapi anehnya Rafli malah terlihat sangat lelap. Sebelah tangan menutupi sebagian wajah, sementara tangan satunya memegang remote kontrol televisi dengan tayangan sepak bola.


"Kebiasaannya belum berubah juga." Arumi masih ingat kebiasaan Rafli yang satu ini. Ia gemar menonton olahraga sepak bola hingga larut dan akhirnya ketiduran di sofa.


Perlahan Arumi mendekat. Selama beberapa saat, ia begitu betah memandangi wajah lelaki itu. Melihat kaki Rafli yang masih menggunakan sepatu, ia pun membantu melepasnya. Kemudian masuk ke kamar dan mencari selimut di lemari. Dalam hitungan menit, Arumi sudah kembali dan memakaikan selimut.


Tanpa disadari olehnya, senyum tipis terbit di sudut bibir Rafli.


"Dia sama sekali tidak berubah sedikit pun," ucapnya dalam hati.


Baru saja Arumi akan kembali ke kamar, Rafli sudah menarik tangannya. Membuat langkah Arumi terhenti.


"Tidak. Aku benar-benar ketiduran. Aku terbangun karena kau melepas sepatuku," jawabnya, lalu merubah posisi yang semula terbaring menjadi duduk.


"Jangan salah paham padaku. Aku tidak sedang menunjukkan perhatian. Aku hanya tidak mau sepatumu mengotori sofa."


"Aku tahu," balas Rafli. "Bisa kita duduk bersama untuk bicara sebentar?" Ini adalah kesempatan bagi Rafli untuk berbicara serius dengan Arumi. Kebetulan penghuni rumah yang lain sudah tidur.


Arumi menghela napas panjang, kemudian duduk di sudut sofa lainnya. "Kau mau membicarakan tentang apa?"


"Tentang rahasia yang tadi diberitahukan Aika."


Rafli menggeser posisi duduk hingga keduanya berada dalam posisi sedikit lebih dekat.


Selama beberapa saat Rafli terdiam. Seolah memilih sebuah kalimat yang tepat. Cukup sudah perpisahan selama empat tahun, yang menjadikannya gudang rindu. Sekarang ia tak ingin kehilangan lagi dan akan melakukan apapun demi mendapatkan pengampunan dari Arumi.

__ADS_1


"Aku tahu kau mungkin belum bisa memaafkan kesalahanku. Malam itu aku sangat marah dan kecewa saat menemukan kenyataan bahwa orang yang tinggal bersamaku selama satu tahun ternyata adalah orang asing."


Arumi pun sadar bahwa keadaan ini bukan kesalahan Rafli seutuhnya. Rafli hanyalah seorang lelaki yang telah ditipu mentah-mentah.


"Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya dibahas lagi."


Rafli menggenggam tangan Arumi. Wanita itu langsung menarik tangannya, namun Rafli menggenggamnya sangat erat. Hal yang membuat jantung Arumi terpompa cepat.


"Kalau begitu bisakah kita memulai semuanya dari awal? Mari menikah dan membesarkan Aika bersama." 


Arumi terdiam. Sama sekali tak pernah terpikir bahwa Rafli akan segamblang ini dan memintanya menikah.


"Tidak usah menjawab sekarang. Aku tidak akan memaksa. Aku tahu kita semua butuh waktu. Seandainya saja Yuna tidak memanipulasi perjodohan kita mungkin hari ini semuanya akan berbeda."


Dalam hitungan detik, sepasang bola mata Arumi sudah tergenang cairan bening. Teringat semua kejahatan yang dilakukan Yuna kepadanya. Mulai dari menjebaknya di malam pertama pernikahan dengan Rafli, membohonginya perihal ibu mereka, hingga memutar balikkan fakta dan membuatnya terusir dan diasingkan.


Seandainya saja saudara kembarnya itu tidak jahat, mungkin sekarang Arumi sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Rafli menghapus air mata yang membanjiri kedua sisi pipi Arumi. Wanita itu masih terisak-isak selama beberapa saat.


"Maafkan aku," bisik Rafli.


"Bukan salahmu sepenuhnya. Hanya saja aku tidak bisa menikah denganmu."


Tubuh Rafli seperti terdengar aliran listrik mendengar jawaban Arumi. Ia berharap apa yang didengarnya hanya candaan Arumi semata.


"Kenapa tidak bisa? Kita bisa memberi Aika sebuah keluarga dan membesarkannya bersama."


Arumi menyeka sisa air mata. Menarik napas dalam-dalam. Tetapi anehnya, air mata itu semakin deras saja. Rafli sampai dibuat bingung.


"Semuanya sudah terlambat. Aku sudah terikat sebuah perjanjian yang tidak bisa kulanggar," ucap Arumi, masih terisak-isak.

__ADS_1


...****...


__ADS_2