Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Kedatangan Polisi


__ADS_3

...Halo ghaysss harap bersabar yaa. Jadi konflik ini sebenarnya ada tujuannya. Melalui Aika lah kejahatan Alex ini akan terbongkar dan membebaskan Mommy Arumi dari perjanjian. Jadi mari kita bedah satu persatu....


...Hihi beberapa bab ini kita terdarting-darting deh. Yang Syabaarrr. Orang sabar pasti kesel....


...😅😅😅...


*


*


*


Arumi memandangi seorang anak yang duduk di trotoar dari jarak kurang dari lima meter. Tubuh anak itu terlihat lesu dan tak bertenaga. Arumi menebak bahwa ia sedang lapar atau lelah.


“Hai, Nak. Apa kamu sedang sendirian di sini?”


Suara Arumi sontak membuat anak kecil itu menoleh. Ia tampak cukup terkejut dan hanya terpaku di tempat. Tak pula menjawab sapaan Arumi.


“Aku punya sesuatu untukmu. Ayo, ambil ini.” Arumi melangkah semakin dekat dengan sebelah tangan mengulur untuk memberikan paper bag. Namun, anak lelaki itu masih mematung di tempat sambil menundukkan kepala. Kakinya mundur perlahan.


“Maaf, Nyonya, ada apa?”


Seketika perhatian Arumi teralihkan kepada sosok wanita gendut yang baru saja menyapa. Dahinya berkerut tipis saat anak kecil tadi langsung bersembunyi di belakang tubuh besar wanita itu.


“Aku mau memberikan ini untuk anak itu. Tapi sepertinya dia takut padaku.” Arumi mengulas senyum ramah.


“Oh, ini anakku. Dia memang agak pemalu, Nyonya. Maafkan dia,” terang wanita itu sambil melirik benda di tangan Arumi.

__ADS_1


“Kalau begitu tolong berikan ini untuknya.” Arumi menyerahkan paper bag ke tangan wanita itu. Sesekali ia masih berusaha melihat anak yang tengah bersembunyi di belakang tubuh besar ibunya. Entah mengapa Arumi merasa tertarik dengan anak lelaki itu.


“Terima kasih banyak, Nyonya. Anda baik sekali.”


“Sama-sama.”


“Kalau begitu saya permisi. Kami harus segera pulang karena ini sudah malam.”


"Baiklah, silahkan."


Wanita itu menggendong anaknya meninggalkan pelataran restoran. Arumi dapat melihat betapa anak tadi berusaha menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher sang ibu.


"Apa yang kau lihat?" Suara Rafli membuyarkan lamunan Arumi.


"Aku sedang melihat anak itu. Dia baru pergi bersama ibunya."


"Sekarang ayo kita masuk. Kau sama sekali belum makan." Rafli hendak merangkul Arumi kembali ke restoran. Tetapi wanita itu malah terpaku di tempat. "Ada apa?"


“Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan dengan anak laki-laki tadi.”


*


*


*


Setibanya di panti asuhan, Yuli mendudukkan Aika pada sebuah kursi tua. Sepanjang jalan tadi ia terus menggerutu sebab Aika malah diam dan bersembunyi saat seorang wanita baik hati menghampirinya untuk memberi makanan.

__ADS_1


“Seharusnya tadi kamu minta sedikit uang dari wanita itu. Bukannya malah pergi. Sepertinya wanita tadi orang kaya. Pakaian dan penampilannya sangat berkelas.”


“Takut, Tante.”


“Takut apa? Wanita tadi itu sangat baik karena memberimu makanan yang mahal,” omelnya lagi.


Aika terdiam dan hanya menunduk. Tubuhnya masih gemetar setelah tadi melihat wanita yang dipikirnya adalah Mommy Yuna.


Sambil menghela napas panjang, Yuli mengeluarkan beberapa potong roti lezat dari paper bag. Aika meneguk saliva saat indera penciumannya menghirup aroma lezat dari roti-roti itu. Perutnya tiba-tiba terasa kosong. Siang tadi ia hanya makan makanan yang dibeli Yuli untuknya di pinggir jalan.


“Ambil ini untukmu.” Yuli memberikan sepotong roti untuk Aika. Sementara beberapa potong lagi ia masukkan kembali ke dalam paper bag. “Dan yang ini semua untukku. Kamu pasti akan kenyang makan satu saja, kan?”


Aika mengangguk, lalu memakan roti dengan lahap. Yuli menyambar handuk yang menggantung di pintu kamar. Hari ini terasa sangat melelahkan. Tetapi, ia merasa sangat senang. Sebab gadis kecil yang ia temukan kemarin benar-benar membawa keberuntungan baginya.


"Terima kasih, Aika. Sudah dua hari ini aku dapat uang banyak karenamu."


Tersadar dari lamunan, Yuli segera beranjak menuju pintu. Tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar.


“Eh, ada apa di depan? Kenapa ribut-ribut?”


Baru saja hendak keluar untuk memeriksa, seorang wanita penghuni panti asuhan sudah membuka pintu kamar. Ia terlihat sedikit panik.


“Di depan ada polisi. Mereka sedang mencari seorang anak yang hilang.”


Sepasang manik hitam Yuli membulat sempurna. Ia yakin setiap helai rambut keritingnya sudah berdiri semua saking gemetarnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2