
Alex sangat terkejut setelah menemukan fakta bahwa anak yang digendong Yuli ternyata adalah Aika, putri Dokter Rafli dan Arumi yang menghilang tadi siang. Masih dengan raut terkejut, lelaki itu menatap beberapa anak buahnya satu-persatu.
“Yuli, bawa anak itu ke kamar dulu, lalu temui aku di ruanganku,” perintahnya.
“Baik, Bos!”
Meskipun sedikit terheran, tetapi Yuli tak menyanggah perintah sang bos. Ia langsung membawa Aika menuju sebuah kamar untuk membaringkannya. Aika sangat kelelahan karena berjalan seharian, sehingga dalam perjalanan tadi tertidur dan Yuli harus menggendongnya pulang.
Seulas senyum tipis terbit di sudut bibir Alex. Seperti baru saja mendapatkan senjata ampuh. Sementara Jo menatapnya penuh tanya.
“Ada apa? Apa kau kenal anak tadi?” tanyanya, setelah melihat perubahan wajah Alex yang semula terlihat kesal menjadi sangat senang.
“Kau akan terkejut kalau tahu.”
“Memangnya siapa anak itu?” Jo semakin penasaran.
Membuat Alex tertawa sinis. “Tadi Arumi memberitahuku bahwa anaknya menghilang di sekolahnya.”
Sebelah alis Jo terangkat tipis. Seringai terbit di sudut bibirnya saat mampu menebak ke mana arah pembicaraan sang bos. “Maksudmu anak yang baru saja ditemukan oleh Yuli adalah anaknya Arumi?”
Alex menganggukkan kepala diiringi senyum lebar. Ia sama sekali tak menyangka bahwa akan semudah ini menyingkirkan batu sandungan dalam kehidupannya.
“Ya ampun, dunia memang sempit.”
__ADS_1
“Ya, kau benar. Sangat sempit.”
Jo ikut tertawa. Kini ia mengerti mengapa mood Alex langsung membaik setelah melihat anak kecil yang dibawa Yuli ke panti asuhan itu.
“Lalu apa rencanamu? Apa kau akan mengembalikan anak itu dan menjadi pahlawan untuk Arumi?”
“Kita lihat saja nanti. Aku mau lihat sampai di mana Arumi bisa bertahan.” Alex melirik ke arah pintu sebelah di mana Yuli baru saja keluar. “Oh ya, tunggu sebentar, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Yuli.”
“Baiklah, aku akan menunggu.”
*
*
*
“Di jalan, Bos. Dia sedang berjalan seorang diri dan menangis ketakutan. Makanya saya membawanya saja.” Yuli menatap penuh khawatir. Sebab Alex tiba-tiba mengajaknya berbicara empat mata. Dan bosnya itu terlihat sangat serius. Seolah sedang ada masalah besar. “Memangnya ada apa, Bos? Apa ada masalah?”
“Tidak ada. Hanya saja—” Alex menjeda ucapannya dengan hela napas. “Aku ingin kau melakukan sesuatu.”
“Apa itu, Bos?”
“Sebelum aku katakan, kau harus tahu lebih dulu kalau anak itu sedang dalam pencarian pihak kepolisian.”
__ADS_1
Sontak saja ucapan Alex membuat wanita di hadapannya itu merinding. Dalam hitungan detik wajah Yuli sudah berubah pucat. Dia agak menyesal mengapa tidak meninggalkan anak tadi di jalan setelah merampas perhiasan mahalnya.
“Di ... dicari polisi?” Sepasang mata Yuli membulat sempurna. Suaranya terdengar gemetar menyiratkan rasa takut.
“Iya. Asal tahu saja dia bukan anak orang sembarangan. Kalau anak itu ditemukan, kau pasti akan terlibat masalah besar.”
Semakin gemetar saja tubuh Yuli dibuatnya. Keringat tiba-tiba mengucur di kening. Sekarang ia sedang memikirkan bagaimana cara keluar dari masalah ini.
“Saya harus bagaimana, Bos. Apa saya kembalikan saja anak itu ke tempat saya menemukannya?”
“Tidak! Tidak!” potong Alex cepat. “Kau tidak perlu mengembalikannya. Kau hanya perlu melakukan satu hal untuk mengamankan dirimu.”
“Apa itu, Bos?” tanyanya. Masih dengan ekspresi takut-takut.
“Jangan sampai ada yang mengenali wajah anak itu. Kalau seseorang menemukannya, kau mungkin akan berakhir di penjara.”
“Lalu bagaimana caranya?” Yuli agak bingung bagaimana agar tidak ada yang mengenali anak itu. Ia memang telah mengganti pakaiannya dengan pakaian lusuh dan kumal. Tetapi, bagaimana dengan wajahnya.
“Kau mungkin bisa mendandaninya seperti anak laki-laki. Dengan begitu akan sulit untuk mengenalinya.”
“Baiklah, itu mudah saja, Bos.”
...****...
__ADS_1