Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Segera Menyelamatkan Aika


__ADS_3

Kepalan tinju Rafli menghujam sempurna ke wajah Alex, membuat tubuhnya langsung terjerembab ke lantai. Laki-laki itu berusaha untuk bangkit dengan sebelah tangan bertopang ke lantai, sebab ngilu dari serangan mendadak Rafi seolah berhasil memburamkan penglihatannya. 


Dalam amarah yang masih berkobar, Rafli merangsek maju. Mencengkram kerah kemeja Alex dan kembali menghunuskan kepalan tinjunya bertubi-tubi. 


Alex tampak sangat kewalahan. Ingin membalas, tetapi Rafli mendominasi dan tak memberinya celah untuk sekedar bertahan. Tubuhnya pun harus terhempas menubruk guci antik hingga pecahannya berhamburan. 


Keributan itu berhasil mencuri perhatian semua orang di dalam gedung dan membuat gempar. Banyak di antaranya berbondong-bondong keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sementara Arumi masih berdiri di dalam jarak aman.


“Jadi kau yang telah menyembunyikan anakku dan berencana menjualnya?” teriakan Rafli menggema. 


Suasana sekitar menjadi semakin mencekam bagi Alex. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pembicaraannya di telepon dengan Yuli didengar oleh Rafli dan Arumi. Ia berusaha untuk mengasah otak dan mencari sebuah alasan.


“Jangan menuduh sembarangan! Kau adalah seorang dokter dan aku bisa saja melaporkanmu atas tindakan penganiaya—” 


Belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, kepalan tinju Rafli kembali menghujam. Membuat cairan merah segar mengucur dari lubang hidung Alex. 


Tanpa ampun Rafli kembali menyerang. Dua petugas keamanan yang berjaga tak mampu melerai. Rafli tak peduli lagi jika Alex akan patah tulang atau mati sekali pun. 

__ADS_1


“Hentikan, Tuan! Anda bisa membunuhnya dan itu akan merugikan Anda.” Osman mencoba untuk mengingatkan, sebelum Rafli bertindak lebih jauh. 


Melihat keadaan yang semakin tidak kondusif, beberapa petugas keamanan mencoba untuk mengamankan Alex dari amukan Rafli. Pengurus acara amal juga dibuat tercengang oleh tindakan brutal Rafli yang membuat keributan di tengah acara. Padahal setahu mereka, Dokter Rafli adalah seseorang yang sangat ramah dan tidak pernah membuat onar. 


“Lepaskan! Biarkan aku bunuh saja iblis itu!” Rafli memberontak. Murka. 


“Saya tahu Anda sangat marah. Tapi jangan kotori tangan Anda hanya untuk manusia tidak berguna sepertinya. Biarkan hukum yang bertindak. Lebih baik sekarang kita cepat menjemput Nona Aika. Bukankah dia barusan berkata bahwa Nona Kecil sedang sakit?” 


Mendengar nama putrinya sontak membuat emosi Rafli meledak. Dalam sepersekian detik bola matanya memerah memancarkan amarah. Membayangkan Aika yang sedang sakit dan berada di tangan orang-orang jahat yang tidak bertanggungjawab. Alex bahkan melarang anak buahnya untuk membawa Aika ke dokter dan meminta memberinya obat dalam dosis tinggi. 


"Maaf, ada apa ini?" tanya salah seorang pengurus acara.


Semua orang larut dalam suasana tegang. Alex beberapa kali memberontak untuk berusaha melepaskan diri. Tetapi, hantaman bertubi-tubi dari Rafli tadi membuatnya tak berdaya. Sekarang ia hanya berpasrah saat para petugas keamanan membekuknya. 


“Sekarang katakan di mana kau menyembunyikan anak Tuan Alvaro!” sembur Osman. Mengingat Alex memiliki beberapa panti asuhan dan juga yayasan. Pasti ia menyembunyikan Aika di salah satu tempat itu.


“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan! Aku tidak pernah menculik siapapun!” 

__ADS_1


Kedua tangan Rafli terkepal mendengar jawaban itu. Tetapi, kali ini ia memilih bermain pintar dan tidak ingin gegabah. 


“Osman, ambil ponselnya! Kita bisa melacak keberadaan Aika melalui ponselnya.” 


"Tunggu! Kalian tidak bisa seenaknya mengambil barang orang lain!"


"Kau tidak perlu banyak bicara, Tuan Alex Erdogan. Bisnis perdagangan manusia yang kau geluti sudah terbongkar dan kami punya bukti. Jadi jangan macam-macam!"


Alex tak berkutik lagi. Bagaimana Rafli dan anak buahnya tahu tentang bisnis yang ia jalani? Padahal selama ini ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Osman lantas menggeledah dan merebut ponselnya, meskipun ia sempat menolak dan memberontak. 


"Ayo, Tuan! Kita harus bergerak cepat!" ucap Osman, sambil memberikan ponsel Alex ke tangan Rafli. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang sudah siap untuk mengamankan Alex.


"Baiklah. Pastikan anak buahmu membawanya ke kantor polisi dan jangan sampai dia melarikan diri!"


Perhatian Rafli tertuju kepada Arumi yang sedang terisak-isak di sudut ruangan. Ia seperti kehilangan separuh tenaga mendengar apa yang terjadi kepada putrinya.


“Ayo, kita jemput Aika!” Rafli membenamkan wanita itu ke pelukannya.

__ADS_1


 


...**** ...


__ADS_2