
Rafli meninggalkan kamar Arumi setelah mendengar pembicaraan yang membuatnya ingin menenggelamkan diri di dasar Samudera Atlantik. Bukannya berjalan lancar, Aika yang polos malah membongkar kelakuannya tepat di hadapan sang mommy.
Mau disembunyikan di mana wajah Rafli sekarang. Mendadak ia merasa ingin menjadi tokoh misterius di balik topeng dalam film The Man in the Iron Mask.
Sekarang laki-laki itu gusar sendirian di balkon rumah. Berharap dirinya mengalami amnesia anterograde, amnesia retrograde, amnesia disosiatif atau amnesia jenis apapun demi menghilangkan rasa malu.
"Ternyata Aika sama saja seperti bocah seusianya," gumamnya seraya menghembuskan napas panjang.
Rafli mengeluarkan ponsel dari saku celana. Tiba-tiba ingin menghubungi saudara kembar beda cetakannya, yaitu Evan. Seseorang yang paling mengenal dirinya di muka Bumi.
"Ada apa?" Pertanyaan ketus itu menjadi sambutan pertama bagi Rafli saat panggilan terhubung.
"Aku sedang sakit! Aku butuh berkonsultasi," jawab Rafli tanpa basa-basi.
"Apa kau sedang hamil?" celetuk Evan.
Sesaat setelah mengajukan pertanyaan konyol itu, Evan terkekeh geli di balik telepon. Membuat Rafli merasa ingin ganti profesi menjadi pembunuh bayaran.
"Ya, dan aku ingin konsultasi akan melahirkan dengan metode apa," balas Rafli sedikit kesal.
"Itu mudah, kau bisa melakukannya dengan membelah diri. Aku khawatir bayimu sungsang."
"Hentikan ocehan konyolmu, Keong!" sambar Rafli cepat. Setelah menyadari obrolan mereka sangat unfaedah.
"Lagi pula kau sendiri tahu aku dokter kandungan. Kalau sakit kenapa menghubungiku? Kau ini ajaib sekali."
"Aku tidak peduli. Lebih baik sekarang kau lakukan sesuatu untukku!"
"Memangnya apa yang harus kulakukan untukmu?"
"Aku sedang mengalami masalah dengan Kulit wajahku. Saat ini aku merasa kepanasan dan tidak nyaman," ucapnya mengingat rasa yang ditimbulkan oleh pembicaraan Arumi dan Aika di kamar.
__ADS_1
"Maaf, Tuan Rafli Dylan Alvaro. Sepertinya Anda salah tempat dalam berkonsultasi. Aku bukan dokter ahli kulit dan kelamin!"
"Kau memang teman tidak berguna!"
Evan kembali tertawa. "Sudah lah. Basa-basimu terlalu panjang. Jadi sebenarnya kau mau apa sampai menghubungiku?"
Rafli bernapas panjang setelahnya. Ia hampir lupa tujuan utamanya menghubungi Evan. "Apa kau sedang membutuhkan Osman? Aku masih ingin meminjamnya untuk melakukan sesuatu."
"Untuk apa lagi? Lagi pula kau ini orang penting, kenapa tidak punya asisten pribadi seperti kebanyakan tokoh novel?"
"Kalau bisa pinjam kenapa harus sewa?" balas Rafli. "Aku masih perlu menyelidiki sesuatu yang penting."
"Alex Erdogan, si penjahat kecilmu itu?"
"Hemm ... aku sedang mencurigai sesuatu yang tidak beres tentangnya."
"Sebenarnya kau sedang curiga atau cemburu?"
Lagi, ucapan Evan membuat Rafli ingin menjadi assassin.
Keduanya pun mengobrol panjang lebar, hingga menghabiskan waktu berjam-jam. Rafli layaknya bocah yang sedang mengadu kepada ayahnya.
.
.
Waktu berlalu sangat cepat.
Rafli masih betah bertamu di rumah orang dan sama sekali tak berniat untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Bahkan sedang menumpang makan dan menikmati hidangan makan malam yang lezat. Meskipun masakan kali ini bukan buatan Arumi, karena wanita itu belum boleh melakukan aktivitas berat setelah keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Dan, bukan hanya Rafli yang merasa menjadi orang paling bahagia di dunia dengan kembalinya Arumi. Aika pun tak kalah bahagia.
Dalam pandangannya, Arumi sangat berbeda dengan Yuna. Lembut dan perhatian, baik ada Daddy di sekitar mereka ataupun tidak. Sementara Yuna hanya bersikap baik jika di hadapan Daddy saja. Aika benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu dari Arumi..
"Daddy ...," panggil Aika di sela-sela makannya.
"Iya, Nak," balas Rafli sambil menyeruput sup asparagus yang terasa nikmat di lidah.
"Apa Daddy mau pulang setelah makan?"
Rafli tak menyahut dan hanya menatap putrinya.
Apa kau sedang mengusir daddymu? gerutu Rafli dalam hati.
"Memangnya kenapa, Sayang? Apa kau mau ikut pulang bersama daddymu?" tanya sang Oma.
"Tidak, Oma."
"Lalu kenapa sedih?" tanyanya lagi, setelah melihat wajah Aika tertekuk.
"Daddyku pasti sepi tinggal sendiri, Oma."
"Daddy tidak apa-apa, Aika," ucap Rafli cepat sebelum Aika membuatnya malu untuk kedua kali.
Sementara Arumi yang sedang menyuapi Aika hanya menjadi pendengar dalam pembicaraan itu.
"Apa Daddy tidak akan kesepian kalau tinggal sendirian?" Aika kembali menatap daddynya.
"Tidak, Sayang." Rafli mengulas senyum getir yang terlihat menyedihkan di mata Aika.
"Jangan sedih, Daddy! Aku tidak memberitahu mommy tentang rahasia kita tadi."
__ADS_1
Seketika Rafli tersedak sup asparagus yang baru akan tertelan. Ucapan polos Aika telah berhasil merubah rasa asparagus menjadi aspirin.
...***...