
“Aika?” Air mata Arumi semakin menganak sungai. Hampir tak percaya melihat Aika berada tepat di hadapannya.
Sementara Mom Riana bernapas lega. Setelah sempat menghalangi Arumi dengan berbagai cara, akhirnya Rafli datang tepat waktu. Sebelum semuanya terlambat dan Arumi benar-benar pergi untuk kedua kalinya.
Lain halnya dengan Aika yang refleks menyembunyikan diri di balik tubuh daddynya begitu melihat Arumi muncul dari balik pintu. Sedikit rasa takut masih terlihat dalam tatapannya meskipun tidak sebesar sebelumnya. Biasanya, Aika akan gemetar jika melihat wajah Arumi. Tetapi kali ini tidak lagi.
“Sayang, jangan begitu. Bukankan kamu mau ke sini untuk bertemu mommy?”
Sejenak Aika mendongak menatap daddynya. Melihat tingkah putrinya, Rafli tersenyum sambil membelai rambut. Aika masih terlihat malu-malu dan hanya sesekali mencuri pandang.
Tatapan penuh tanya diarahkan Arumi kepada Rafli. Takjub melihatnya tiba-tiba datang membawa Aika. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa Arumi sangat takut jika putrinya akan ketakutan lagi.
“Aika ingin bertemu dengan mommynya.”
Arumi membeku. Nyaris tak percaya dengan pendengarannya. Detik-detik kepergiannya, justru Aika datang untuknya.
“Ayo, Sayang. Jangan malu-malu,” bujuk Rafli sekali lagi. Perlahan, Aika keluar dari persembunyian. Kakinya melangkah maju sedikit-sedikit.
__ADS_1
Melihat gestur putrinya, Arumi berusaha menekan perasaan menggebu. Ingin rasanya memeluk Aika seerat-eratnya demi melepas rindu. Tetapi, tentu saja niat itu urung. Mengingat betapa Aika begitu ketakutan jika melihat wajahnya.
“Mommy ....” Panggilan lembut itu meruntuhkan pertahanan Arumi. Dengan linangan air mata ia berjongkok tepat di hadapan Aika dan membenamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Awalnya Aika menunjukkan reaksi penolakan dengan tubuhnya yang kaku. Tetapi, pada saat yang bersamaan merasakan hangatnya pelukan sang mommy. Benar kata daddy, bahwa mommy yang ini hanya memiliki wajah yang sama dengan Yuna, tetapi keduanya berbeda.
“Kau mau pergi?” tanya Rafli, sembari melirik koper milik Arumi.
Arumi terdiam sejenak. Sesekali masih terdengar isak tangis. “Aku hanya mau pergi menenangkan diri. Terlalu banyak hal yang terjadi selama ini.”
“Lalu bagaimana dengan Aika. Kau akan meninggalkannya?”
“Apa Mommy mau pergi?” cicit Aika, memberanikan diri menatap mommynya.
Arumi membelai puncak kepala putrinya. Lalu menciumi keningnya berulang-ulang. Entahlah, rasanya ia tak pernah puas memeluk dan menciumi putrinya.
“Iya, Sayang. Mommy mau pergi ke tempat yang baru. Apa boleh?”
__ADS_1
Gelengan kepala dipilih Aika sebagai jawaban. Jemari kecilnya terulur demi mengusap lelehan air mata yang membanjiri pipi Arumi. Dan hal kecil itu saja mampu membuat Arumi merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
“Kenapa Mommy mau pergi? Apa mommy takut kalau Mommy Yuna akan menukar mommy lagi?”
Dalam tangis Arumi terkekeh. Memikirkan bagaimana Aika mendapatkan pikiran seperti itu.
"Iya, Sayang. Mommy sangat takut."
"Jangan takut, Mommy! Daddy bilang Mommy Yuna sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Mommy tidak usah pergi, karena ada daddy yang akan menjaga Mommy. Iya kan, Daddy?"
"Bagus Aika! Katakan yang manis-manis!"
Rafli menahan senyum. Ternyata aika sangat cepat tanggap. Semua yang dibisikkan Rafli selama perjalanan tadi terekam dengan sempurna di memorinya.
"Iya, Nak. Kita akan menjaga dan melindungi Mommy bersama-sama."
“Daddymu ini bisa kena diabetes mellitus mendengar ucapanmu, Nak!”
__ADS_1
...*****...