
Rafli dapat bernapas lega setelah memastikan keadaan Aika cukup stabil. Beberapa jam lalu Aika sudah dipindahkan dari Instalasi Gawat Darurat ke ruang perawatan VVIP khusus anak.
Setelah berkonsultasi dengan seorang dokter ahli anak, Rafli kembali ke ruangan di mana Aika dirawat. Senyum mengembang di bibirnya melihat Arumi sedang berbaring di sisi Aika dan memeluknya.
Perlahan ia mendekat dan membenarkan selimut Arumi yang melorot. Arumi langsung membuka mata saat merasakan adanya sentuhan.
“Oh maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu.”
“Tidak apa-apa. Aku ketiduran.” Arumi mengucek mata, lalu menatap Aika yang masih terlelap dalam pelukannya.
“Tidur saja. Ini sudah larut. Kau butuh istirahat banyak.” Rafli mengecup kening putrinya, kemudian marik kursi dan duduk di samping Arumi. “Tadi ibu mau ke sini tapi aku bilang besok saja.”
“Iya. Ibu juga butuh istirahat. Beberapa hari ini ibu sering ikut dengan anak buahnya Osman untuk mencari Aika.”
Rafli meletakkan ponsel ke atas meja. Sekarang ia malah sibuk memandangi Arumi. Sangat lama. Hingga membuat pipi Arumi merona setelah menyadari dalamnya tatapan Rafli.
“Kenapa melihatku seperti itu?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan masa-masa empat tahun lalu.”
Selama beberapa saat keduanya larut dalam kebisuan. Hanya kenangan kebersamaan mereka empat tahun lalu yang terlintas dalam pikiran masing-masing. Rafli tersadar dan menggenggam tangan Arumi.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita mengulang masa-masa itu lagi. Tapi dalam hubungan yang sah menurut hukum dan agama?”
Arumi memberanikan diri menatap lelaki itu. “Apa kau sedang melamarku?”
“Emh ... haruskah aku juga mengancam akan menyerahkanmu kepada Madam Leova agar kau setuju untuk menikah?”
Sepasang mata Arumi refleks terbelalak mendengar nama yang disebutkan Rafli.
*
*
“Daddy ....”
Suara lemah itu membuat Arumi refleks membuka mata. Ia langsung melirik Aika yang terbaring di sisinya. Aika masih terpejam, hanya bibirnya yang terus memanggil. Takut Aika akan terbangun dan ketakutan melihat dirinya ada di sana, Arumi langsung turun dari tempat tidur. Lantas bergegas membangunkan Rafli yang masih tidur di sofa.
“Rafli, Aika memanggilmu,” bisik Arumi ke telinga Rafli sambil mengguncang bahunya pelan. Sesekali Arumi melirik ke arah Aika.
“Iya, sebentar.” Rafli yang masih dikuasai kantuk perlahan membuka mata dan mendapati Arumi duduk di sisinya. “Kenapa?”
“Aika memanggilmu. Aku harus cepat keluar. Kalau Aika melihatku di sini, dia bisa ketakutan.”
__ADS_1
“Daddy ....” Panggilan itu terdengar lagi, yang membuat keduanya langsung panik.
“Iya, Sayang,” jawab Rafli.
Keduanya tergesa-gesa membenahi diri. Rafli langsung beranjak menuju tempat tidur, sedangkan Arumi terburu-buru keluar dari ruangan. Ia hanya mengawasi Aika dari jendela kaca.
“Daddy di sini, Nak.”
Perlahan Aika membuka mata. Pandangan gadis kecil itu langsung mengarah kepada daddynya. Ia sempat mengucek mata, seperti hendak memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
Rafli memeriksa tubuh Aika secara menyeluruh demi memastikan bahwa kondisi putrinya sudah stabil. Ia bernapas lega karena suhu tubuh Aika sudah normal. Tidak demam seperti semalam lagi. Karena bahagianya, Rafli sampai menciumi pipi putrinya berulang-ulang.
“Daddy? Daddy sudah datang menjemputku?”
Suara Aika yang terdengar serak dan lemah membuat Rafli mendekatkan telinga agar dapat mendengar suaranya dengan jelas. Tak tahan, Rafli pun merebahkan Aika di pangkuannya dan memeluknya.
“Iya, Nak. Daddy sudah ada di sini bersamamu.”
Sekali lagi Aika memastikan tidak sedang bermimpi. Gadis kecil itu mengulurkan tangan untuk meraba rambut halus yang tumbuh di sekitar rahang daddynya. Rafli sempat terkekeh, sebab kebiasaan Aika ini benar-benar mirip dengan Arumi yang sangat suka mengusap rambut halus di rahangnya.
...****...
__ADS_1