Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Menikah Dengan Daddy!


__ADS_3

Rafli memasang wajah sedih terbaiknya. Di titik ini, satu-satunya yang dapat ia lakukan hanyalah menunggu sebuah keajaiban. Kata orang bijak, banyak jalan menuju Roma. Tetapi Rafli justru menemui jalan buntu menuju Arumi.


Sangat menyedihkan!


"Sepertinya tidak bisa, Sayang."


"Kenapa tidak bisa, Daddy?" Aika melirik Arumi. "Mommy, apa boleh daddy tinggal bersama kita di sini? Kasihan daddy tinggal sendirian."


Sejenak Arumi terdiam. Entah harus memberi jawaban apa yang mungkin dapat dimengerti anak seusia Aika. Untuk tinggal bersama pun tidak mungkin, karena mereka tidak memiliki ikatan apapun.


Melihat kecanggungan yang ada, Mom Riana mencoba membuka suara dan menjelaskan kepada Aika. "Belum boleh, Sayang. Untuk sementara daddymu akan tinggal sendiri di rumah."


"Jadi kapan daddy bisa tinggal di sini, Oma?"


"Nanti kalau sudah waktunya." Wanita paruh baya itu melirik Arumi yang masih mematung di tempat. Meskipun sebagian wajahnya tertutupi cadar, namun Mom Riana dapat melihat bagian yang tidak tertutupi tampak sedikit pucat. "Arumi, istirahatlah dulu. Kau masih belum pulih benar."


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu aku ke kamar sebentar." Ia segera beranjak menuju kamar di mana tadi Osman memasukkan kopernya.


Wanita itu terpaku saat menginjakkan kaki untuk pertama kali. Kamar yang sangat nyaman dan indah dengan cat dinding warna kesukaannya. Selain itu, ada beberapa foto Aika yang menambah kesan manis.


Ia menjatuhkan tubuhnya di tepi pembaringan. Kemudian menatap pemandangan taman belakang melalui jendela.


Memikirkan permintaan putri kecilnya.


*


*


*


"Lebih baik secepatnya membicarakan tentang hubungan kalian. Tidak mungkin kalian akan seperti ini terus, kan?" ucap Mom Riana memberi saran.


"Aku juga berpikir seperti itu," balas Rafli.


"Kalau begitu ajaklah Arumi menikah secepatnya agar kalian memiliki status yang jelas."


Mendengar itu, Rafli menghembuskan napas panjang. "Tidak semudah, Bu. Arumi masih marah dan belum memberiku maaf."


"Kau benar. Tapi sekarang bukan saatnya lagi untuk memikirkan diri kalian saja. Kasihan Aika, dia membutuhkan kedua orang tuanya."


"Aku akan bicara dengan Arumi nanti, setelah kondisinya membaik."


"Itu lebih baik."


"Daddy, aku mau es krim!" Permintaan itu mengalihkan perhatian Rafli. Ia melirik putri kecilnya.


"Baiklah, ayo kita beli. Bu, aku antar Aika sebentar."


"Baiklah. Ibu juga mau beres-beres pakaian Aika."

__ADS_1


Rafli menggendong Aika menuju mobil dan mendudukkan di kursi depan. Kebetulan di depan kompleks perumahan mereka ada sebuah minimarket.


Satu kotak es krim habis diborong sebagai sogokan. Dengan harapan Aika dapat bermanis-manis terhadap Arumi layaknya es krim yang manis.


*


*


*


"Aika Sakura Leichira, anak Daddy yang manis ...," panggil Rafli. Saat ini mereka masih berada di depan minimarket setelah membeli banyak es krim.


"Iya, Daddy."


"Benar kamu mau mommy dan daddy tinggal bersama?"


"Benar!" jawab Aika sambil menancapkan stick kayu ke dalam cup es krim.


"Ada satu cara supaya Daddy dan mommy bisa tinggal bersama. Tapi ini rahasia antara kita dan tidak boleh diketahui orang lain. Mau tahu tidak?"


"Mau."


Sebuah ide licik baru saja merasuk ke otak ayah satu anak itu. Ia agak menyesal mengapa tak sejak kemarin manfaatkan kelemahan Arumi yang satu ini. Ya, Aika adalah kelemahan paling utama bagi Arumi.


"Caranya adalah mommy harus mau menikah dengan Daddy dulu. Kalau tidak, kita bertiga tidak akan bisa tinggal bersama."


"Menikah itu apa, Daddy?"


"Aku mau, Daddy!" ucapnya penuh semangat.


"Tapi ini rahasia antara kita berdua. Janji jangan beritahu siapapun."


Anggukan kepala pun dipilih Aika sebagai jawaban.


"Jadi saat pulang nanti, minta kepada mommy agar mau menikah dengan daddy supaya kita bisa tinggal bersama. Tapi ingat, jangan bilang kalau daddy yang memberitahu. Mengerti?"


"Mengerti, Daddy!"


"Mengerti apa?" tanya Rafli hendak memastikan. Di sinilah ia akan menguji IQ putrinya itu.


"Aku akan minta supaya mommy mau menikah dengan Daddy."


"Anak pintar! Tapi jangan sampai mommy tahu kalau idenya dari Daddy karena ini rahasia," pintanya dengan nada sedikit menekan.


Lagi, Aika mengangguk penuh semangat. Membuat Rafli bernapas lega. Ah, tidak percuma menyogok dengan sekotak es krim jika hasilnya memuaskan seperti ini.


*


*

__ADS_1


*


Setibanya di rumah, Arumi langsung membawa Aika ke kamar. Sebab dress pink yang dikenakan putrinya sudah berubah warna menjadi cokelat akibat lelehan es krim. Hampir satu jam dihabiskan Rafli di depan minimarket hanya untuk mendoktrin otak Aika.


Setelah mengganti pakaian, Arumi menyisir rambut dan kemudian ia kuncir dengan hiasan pita yang manis.


"Anak mommy ini memang cantik seperti boneka," ucapnya seraya membenamkan ciuman di pipi.


"Mommy, kenapa wajahnya ditutup ini?" Aika menunjuk cadar yang menutupi wajah sang mommy.


"Tidak apa-apa, Sayang. Wajah mommy sedang terluka, jadi belum bisa diperlihatkan."


"Minta Daddy mengobatinya saja, Mommy. Daddyku kan dokter."


Di balik cadar, Arumi mengulas senyum melihat kepolosan putrinya. "Baiklah. Nanti mommy akan memintanya."


"Daddy bisa merawat mommy setiap hari dan mengobati wajah mommy."


"Benarkah?"


"Benar, Mommy!"


Tanpa disadari oleh Arumi bahwa Rafli sedang berdiri di depan kamar dan mendengarkan pembicaraan antara mereka.


"Bagus, Anakku. Kau memang anak keong yang genius," puji Rafli dalam hati.


Semakin lama, pembicaraan antara Arumi dan Aika semakin menarik bagi Rafli untuk menguping.


"Mommy, aku punya rahasia. Mau tahu tidak?"


"Rahasia apa, Sayang?"


"Kalau Mommy mau cepat sembuh, menikah dengan Daddy saja. Supaya daddy bisa tinggal bersama kita dan merawat Mommy. Itu rahasianya, Mommy!"


Kening Arumi terlihat berkerut. Sedikit heran bagaimana balita sekecil Aika mengerti sesuatu tentang pernikahan.


"Menikah? Wah rahasianya menarik sekali. Lalu siapa yang mengajarimu rahasia penting ini, Sayang?"


Seketika kelopak mata Rafli membulat. Ia yang masih berdiri di depan kamar mulai panik. Dalam hati mengucapkan mantra apapun agar Aika tidak membocorkan rahasia di antara mereka.


"Mommy tidak boleh tahu!"


"Kenapa?"


"Daddy bilang, ini rahasia! Makanya aku tidak boleh beritahu mommy kalau ini ide dari daddy."


Bibir Arumi terkatup rapat demi menahan tawa.


Sementara di balik dinding kamar, Rafli menepuk dahinya. Ternyata sogokan es krim tak membuahkan hasil yang manis. Malah berakhir dengan memalukan.

__ADS_1


Bunuh saja daddymu ini, Aika!


...****...


__ADS_2