
Arumi sudah terlelap saat Rafli diam-diam masuk ke kamar. Laki-laki itu menutup pintu dengan sangat hati-hati agar Arumi tak terbangun. Kemudian melangkah pelan dan duduk di samping tempat tidur, lalu membenarkan selimut yang sedikit melorot.
Seakan kerinduan dalam hati tak akan habis, Rafli begitu betah memandangi Arumi hingga menghabiskan beberapa jam. Wajah polos alami itu selalu berhasil membuat jantungnya berdebar.
Setelah melirik jam tangan, ia baru sadar sudah larut malam. Rasa kantuk pun mulai menyerang. Tanpa sadar Rafli tertidur. Melepaskan tubuhnya dari lelah setelah aktivitas seharian.
Pagi hari Arumi terbangun saat merasakan sesuatu yang berat menimpa perut. Begitu membuka mata, ia sempat terkejut mendapati seseorang tidur dalam posisi telungkup dengan menggunakan sebelah tangan sebagai pengganti bantal. Arumi yakin bahwa itu adalah Rafli hanya dengan melihat potongan rambutnya.
Tiba-tiba kenangan masa lalu berputar di kepala. Masih segar dalam ingatan Arumi pada hari kelahiran Aika. Rafli tidak pernah meninggalkannya dan terus menemaninya sepanjang malam. Bahkan selama beberapa hari setelah persalinan, Arumi tidak dapat melakukan apapun. Rafli membantu untuk mandi, mengganti pakaian, atau terbangun lebih dulu di malam hari saat Aika menangis. Kala itu Arumi merasa bahagia dan sedih di saat yang bersamaan. Dan berpikir, andai saja posisinya saat itu bukan sebagai penyamar, ia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia karena memiliki lelaki sempurna seperti Rafli dalam hidupnya.
"Kau menangis? Ada apa? Apa kau merasa sakit?" Rafli tiba-tiba terbangun dan panik melihat pipi Arumi basah. Sementara Arumi yang terkejut karena tidak menyadari bahwa Rafli sudah terbangun, langsung menyeka air mata.
"Aku tidak apa-apa."
"Kalau begitu kenapa kau menangis?" Rafli yang masih panik memeriksa beberapa bagian tubuh Arumi demi memastikan tidak ada yang sakit.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya sedang merindukan Aika saja."
Mendengar itu, Rafli pun bernapas lega.
"Dan kau tidak merindukanku?" tanyanya dalam hati.
"Kalau begitu aku akan membawa Aika ke sini hari ini."
"Tidak!" tolak Arumi cepat. "Aku tidak mau Aika melihatku dalam keadaan sakit seperti ini. Lagi pula dia pasti akan ketakutan kalau melihat wajahku yang mirip Yuna."
Rafli dapat melihat kesedihan yang memancar melalui tatapan Arumi. Keadaan ini memang berat bagi mereka bertiga. Aika harus mengalami trauma di usia balita, dan Arumi harus menyembunyikan wajahnya dari putrinya sendiri.
Arumi hanya mengangguk.
Tak lama berselang terdengar suara ketukan pintu. Rafli segera berjalan menuju pintu untuk membukanya. Suasana hatinya yang sedikit membaik mendadak harus rusak hanya dengan melihat sosok yang berdiri di ambang pintu dengan senyum menyebalkan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Dokter," sapa Alex.
"Selamat pagi. Ada keperluan apa sepagi ini ke rumah sakit?"
Sepasang alis Alex berkerut tipis mendengar pertanyaan bernada sindiran itu. Terlebih, sekarang Rafli berdiri kokoh di ambang pintu seolah tak memberinya jalan untuk masuk.
"Maaf, Dokter. Aku mau menjenguk orang sakit. Apa rumah sakit ini tidak mengizinkan pasien untuk dikunjungi?"
Rafli menatap buket bunga di genggaman Alex. Konon katanya mawar merah melambangkan cinta. Demi apapun ia tidak akan rela jika sampai Alex mendekati Arumi lagi.
Sok romantis sekali. Dia pikir Arumi akan senang hanya dengan seikat bunga?
"Tapi kenapa harus bawa bunga? Apa Anda tidak tahu kalau pasienku itu memiliki alergi terhadap serbuk bunga?"
Alex hanya menatap seikat bunga mawar merah di genggamannya. Setahunya, mawar tidak memiliki serbuk sari yang bisa terbawa hembusan angin, dan tentunya tidak akan mempengaruhi penderita alergi.
__ADS_1
Setelah memikirkan kesimpulan sendiri dalam benaknya, ia melirik sang dokter sedikit heran. Ingin protes pun tak berani, sebab Rafli sedang melayangkan tatapan menghujam kepadanya.
...****...