Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Bukan Pacar, Bukan Suami!


__ADS_3

Alex hanya mencibir dalam hati.


Seikat bunga mawar merah yang kata Rafli mengandung makna cinta itu harus berakhir menyedihkan di tempat sampah. Alex baru saja membuangnya demi terhindar dari perdebatan tak masuk akal dengan sang dokter yang posesif.


"Sekarang tidak ada halangan lagi untukku menemui orang sakit, kan?"


Rafli menghembuskan napas panjang. Kemudian melirik Arumi yang sedang menatap ke arah mereka. Tak ingin menimbulkan keributan dan mencederai statusnya sebagai dokter di rumah sakit itu, Rafli memilih mengalah untuk kali ini saja dan membiarkan Alex menemui Arumi.


"Licik sekali penjahat satu ini," gerutunya dalam hati, lalu berlalu pergi.


Sementara Alex segera mendekati Arumi. Ia masih sempat melirik ke arah pintu untuk memastikan tidak ada Dokter Rafli di sana.


"Oh ya, sebenarnya dokter itu siapamu? Aku merasa sikapnya sangat posesif dan aneh," tanya Alex semakin heran. Dua kali pertemuannya dengan Rafli selalu terjadi hal yang sama.


Arumi terdiam selama beberapa saat. Ada keraguan yang tergambar dalam tatapannya.


"Dia adalah Dokter Rafli. Ayah dari anakku."


Alex tampak cukup terkejut mendengar jawaban itu. Arumi memang pernah bercerita memiliki putri dengan seorang dokter. Tetapi Alex tidak menyangka bahwa lelaki yang dimaksud Arumi adalah Dokter Rafli.


"Jadi dia orang yang sudah menjualmu ke agen tenaga kerja ilegal?"


"Aku tidak tahu. Dia mengaku tidak tahu menahu tentang hal itu."


"Tentu saja dia akan mengaku tidak tahu apa-apa dan menyangkal perbuatannya. Mungkin saja dia tidak menyangka bahwa kau akan selamat dan kembali, kan? Aku sudah hafal laki-laki seperti itu."


Ada kepingan rasa keberatan saat Arumi mendengar ucapan Alex. Jauh di lubuk hatinya, ia meyakini bahwa Rafli bukanlah orang seperti itu.


"Sudahlah. Lagi pula, itu tidak penting lagi bagiku. Sekarang yang kupikirkan hanya anakku."


"Baiklah. Kalau butuh sesuatu, aku akan membantumu. Termasuk kalau kau mau menuntut hak asuh putrimu."

__ADS_1


Lagi, Arumi terdiam. Separuh hatinya seakan ragu untuk menuntut hak asuh Aika. Apalagi jika memikirkan trauma Aika yang belum sembuh.


"Terima kasih, Alex. Aku sudah berhutang banyak hal kepadamu."


"Tidak apa-apa, Arumi. Aku senang membantumu."


"Aku tidak akan bisa membalas kebaikanmu."


"Kau bisa membalasnya dengan cara lain, kan?"


Laki-laki itu menyeringai. Lalu menggenggam tangan Arumi, tetapi dengan cepat Arumi menepis.


*


*


*


Beberapa hari kemudian.


"Kau sudah siap?" tanya lelaki itu sembari melangkahkan kaki.


Arumi hanya menoleh sekilas dan mengulas senyum tipis. Sebuah koper berukuran kecil ia turunkan ke lantai.


"Sudah."


"Baiklah, berikan itu padaku." Alex meraih koper Arumi. "Tadinya aku mau membayar biaya perawatanmu selama di rumah sakit. Tapi ternyata sudah dibayar oleh Dokter Rafli."


"Iya, aku tahu itu dari perawat."


Keduanya beranjak meninggalkan ruangan itu. Namun, langkahnya terhenti saat telah berada di ambang pintu. Rafli sudah berdiri kokoh di sana dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Ayo, Arumi. Aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Rafli.


"Tidak usah repot-repot. Sudah ada Alex yang akan mengantarku."


"Tapi aku tidak akan membiarkanmu pulang dengannya. Lagi pula aku sudah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman untukmu dan Aika."


Arumi tak merespon ucapan lelaki itu. Beberapa hari ini Rafli memang sangat intens mendekatinya dan kerap memberi sinyal cinta. Bahkan setiap malam datang untuk menjaganya.


"Terima kasih. Tapi aku akan tetap pulang ke tempat tinggalku sebelumnya."


Rafli kehilangan kata-kata. Segala perhatiannya beberapa hari belakangan ini dibalas Arumi dengan sikap datar dan dingin. Hal yang membuat Rafli kalang kabut.


Tetapi, tentu saja keinginan Arumi itu sama sekali tak diindahkan oleh Rafli. Ia akan melakukan apapun sebisanya agar Arumi tidak kembali ke apartemen milik Alex.


"Ayolah, Arumi. Jangan keras kepala. Setidaknya pikirkan anak kita."


Suara Rafli yang menekan kata 'anak kita' menciptakan kerutan di kening Alex.


"Hanya karena kau adalah ayah dari anakku, bukan berarti kau bisa menentukan apapun dalam kehidupanku, kan?"


"Aku tidak mau tahu! Kau dan Aika akan tinggal di rumah yang sudah kusiapkan. Lagi pula mulai malam ini Aika akan tinggal bersamamu dan aku tidak mau anakku tinggal di tempat orang lain."


Rafli memposisikan diri tepat di hadapan Alex, lalu meraih koper milik Arumi.


"Osman, bawa koper Arumi." Ia menyerahkan koper milik Arumi ke tangan Osman. "Dan kau, Alex Erdogan, mulai sekarang belajarlah untuk jauhi Arumi."


Sikap Rafli yang terasa berlebihan itu menimbulkan tanda tanya di hati Arumi. Sejak beberapa hari belakangan ini, Rafli secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Alex dan terkesan ingin menjauhkan mereka.


Sementara Osman yang berdiri di belakang Rafli hanya terdiam dan menjadi penonton perdebatan itu.


"Lihat orang ini! Mantan bukan, suami bukan tapi cemburunya di level setan. Anda memang luar biasa, Tuan!" gerutu Osman dalam hati.

__ADS_1


...*****...


...Halo kesayangan aku, ini aku mengetik dengan hp karena laptop masih rusak. Kalau ada Typo nama, tolong kasih tau yaa. 🤗...


__ADS_2