
Air mata Arumi semakin menganak sungai mendengar nada Rafli yang seakan menyalahkan dirinya. Lelaki itu terkesan menilainya sangat ceroboh. Arumi hanya dapat menundukkan pandangan sambil menyeka air mata. Tubuhnya terasa kehilangan tenaga hingga terduduk lemas di kursi.
Melihat pancaran penuh luka dari sepasang mata Arumi, Rafli seketika tersadar. Berulang-ulang ia menghirup udara demi mendinginkan pikirannya dari ledakan emosi. Akal sehatnya menuntun untuk tak gegabah, yang akhirnya akan berbuntut penyesalan seperti beberapa tahun lalu.
Rafli pun berjongkok di hadapan Arumi dan menggenggam tangannya. Menatap wajah wanita itu sendu. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu.” Sebelah tangannya mengulur membelai puncak kepala Arumi yang tertutupi kerudung. “Aku benar-benar minta maaf.”
Arumi yang masih sesegukan hanya menganggukkan kepala. Ingin sekali Rafli memeluknya dan meminta maaf atas pengendalian diri yang buruk, sehingga tanpa sadar membentak.
“Tenanglah, Aika pasti akan ditemukan. Aku sudah meminta Osman dan anak buahnya mencari,” bujuknya melembutkan suara.
“Aku mau ikut mencari Aika,” lirih Arumi. Memberanikan diri menatap Rafli penuh harap.
“Baiklah, ayo kita cari sama-sama.” Rafli membantu Arumi untuk berdiri, karena wanita itu seperti kehilangan energi.
Sebelum beranjak pergi, pihak sekolah sempat meminta maaf dan berjanji akan turut membantu mencari keberadaan Aika.
*
*
*
“Bagaimana?” Sambil mengemudikan mobilnya, Rafli menghubungi Osman. Sudah hampir dua jam ia dan Arumi berkeliling untuk mencari putrinya.
__ADS_1
“Kami masih berpencar mencari, Tuan.” Jawaban Osman membuat Rafli mendesahkan napas panjang. Tak dapat dipungkiri keadaan ini membuatnya frustrasi. Terlebih, karena Aika sama sekali tidak pernah keluar rumah seorang diri. Tentu saja balita seusianya belum tahu jalan untuk pulang.
“Baiklah, teruskan pencarian. Kalau ada informasi sekecil apapun segera laporkan kepadaku,” pintanya.
“Baik.”
Setelah panggilan terputus, Rafli melirik Arumi yang duduk di samping. Wanita itu sedang memperhatikan setiap sudut jalan yang dilewati dengan bola mata berkaca-kaca.
“Tenanglah, Arumi.”
“Bagaimana aku bisa tenang? Anakku sendirian di luar sana. Bagaimana kalau dia sedang ketakutan, atau sedang kelaparan?”
Memikirkan itu, rasanya Arumi ingin menghukum dirinya sendiri atas kecerobohannya. Seharusnya ia mempersiapkan antisipasi untuk kemungkinan terburuk. Seperti saat pertama kali menyamarkan wajahnya dengan makeup di hadapan Yuna agar tak dikenali.
“Ayolah, sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri,” bujuknya lembut, sambil membelai punggung wanita itu.
“Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau terjadi sesuatu terhadap Aika. Seharusnya sejak awal aku jelaskan kepadanya bahwa aku dan Yuna memiliki wajah yang sama agar dia tidak salah paham.”
Rafli paham akan hal itu. Namun, ia juga tahu seperti apa trauma yang dialami Aika. Jangankan melihat wajah Yuna, mendengar namanya saja Aika sudah ketakutan. Dan butuh waktu untuk memberi pemahaman kepada anak seusianya.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Seseorang pasti sudah menemukan Aika dan membantunya. Lagi pula Osman sudah melaporkan hilangnya Aika ke polisi."
Bukannya tenang, ucapan Rafli malah membuat Arumi semakin terisak. Arumi merasa semua ini tak adil untuknya. Belum selesai urusan dengan Alex, ia harus menemui ujian baru dengan hilangnya Aika.
__ADS_1
*
*
*
“Daddy ... Daddy di mana? Aku takut, Daddy,” lirih Aika.
Kakinya melangkah melewati sebuah jalan sempit dan sepi. Pakaiannya mulai kotor, rambut acak-acakan dan keringat membasahi tubuhnya. Sudah beberapa jam ia berjalan seorang diri mencari sang daddy.
"Aku mau pulang ke rumah daddyku!"
Di sekolah tadi, gadis kecil itu sangat terkejut setelah mendapati kenyataan bahwa sosok wanita yang selama ini bersembunyi di balik cadar, tidak lain adalah Mommy Yuna yang sangat jahat. Sehingga ia memilih pergi dari sekolah untuk pulang ke rumah daddynya.
“Aku haus, Daddy! Aku lapar!”
Aika menyeka air mata yang mengaliri pipinya. Tubuhnya mulai terasa lemas. Setelah lama berjalan, ia memilih duduk di trotoar untuk melepas lelah. Sesekali ia melirik jalan yang baru saja dilalui.
Setelah beristirahat selama beberapa menit. Aika kembali berjalan dengan sisa tenaga. Ia tak tahu harus pergi ke mana dan lewat jalan yang mana untuk bisa pulang. Yang ia lakukan hanya berdoa semoga cepat bertemu dengan daddynya.
Tiba-tiba tubuh kecil Aika terhempas ke belakang saat menabrak sosok tubuh besar. Perlahan ia mendongak untuk menatap sosok tersebut.
...****...
__ADS_1