Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Perjanjian Itu Membuatnya Tertekan


__ADS_3

Alex meninggalkan rumah itu dengan memendam perasaan kesal. Betapa tidak, Rafli berhasil mengusirnya secara halus dengan memanfaatkan Aika. Tentu saja Aika adalah kelemahan terbesar Arumi. Dan wanita itu sanggup melakukan apapun untuk putrinya. 


Jika Alex sedang kesal, maka Daddy Keong sedang berpuas hati. Ia berhasil membuat Alex meninggalkan rumah itu. Dari jendela kamar, Rafli sedang melihat mobil Alex meninggalkan halaman rumah. 


“Paman tadi sudah pergi, Daddy!” Aika tiba-tiba masuk ke kamar. Rafli membungkuk dan merentangkan tangan demi menyambut putrinya. Aika terlihat manis dengan seragam sekolah. Rambutnya dikuncir dua yang menambah kesan imut padanya. 


“Bagus, anak daddy ini memang sangat pintar.” Rafli memeluk tubuh kecil itu dan menciumi pipinya berulang-ulang. 


“Memangnya paman itu siapa, Daddy?” 


“Dia itu virus berbahaya yang harus dijauhkan dari mommy.” Sambil memasang wajah seram dan menakutkan. 


“Virus itu apa, Daddy?” Aika menatap bingung. Pertanyaan polos itu membuat Rafli ingin menggigiti pipinya saking gemasnya. 


“Virus itu monster berbahaya. Mommy bisa sakit kalau dekat dengannya. Karena itulah, kalau paman tadi datang lagi, pastikan agar mommy tidak dekat-dekat dengannya. Mengerti?” 


Tubuh Aika bergidik ngeri. Sepertinya sang daddy berhasil meracuni otak polosnya. “Baik, Daddy!” 


“Aika Sayang, ayo sarapan. Jangan sampai terlambat ke sekolah.” Panggilan Arumi terdengar dari luar kamar. 


Rafli meraih tubuh kecil Aika dan menggendongnya keluar kamar. Menuju meja makan tempat Ibu Riana dan Arumi sedang duduk bersama. Rafli mendudukkan putrinya di antara dirinya dan Arumi. Kemudian berandai-andai dalam hati. Jika saja dulu ia tak gegabah dan terhasut oleh Yuna, tentu sekarang mereka akan menjadi keluarga paling sempurna dengan beberapa anak yang lucu. 


“Mommy ...,” panggil Aika di sela-sela sarapan. 


“Iya, sayang.” 


“Mommy jangan biarkan paman tadi datang lagi.” Aika merengek dengan menarik lengan sang mommy. 


“Memangnya kenapa, Sayang?” 


“Paman tadi itu jahat, Mommy. Dia itu virus menakutkan. Mommy bisa sakit kalau dekat-dekat.” Aika menunjukkan wajah seolah ketakutan. 


Dahi Arumi berkerut mendengar ucapan polos putrinya. “Sayang, siapa yang memberitahumu tentang itu?” 


Baru saja mulut Aika akan terbuka untuk menjawab, Rafli sudah menutup bibir kecilnya dengan menggunakan telapak tangan. 


“Aika punya imajinasi yang tinggi. Selain itu, anak kecil pasti tahu mana yang tulus dan tidak. Iya kan, Sayang.” 


Aika menyahut dengan anggukan kepala. Terlebih setelah mendapat tatapan serius dari daddynya. 

__ADS_1


Sarapan pun berlangsung hangat pagi itu. Mom Riana memindai Rafli dan Arumi secara bergantian. Sepertinya ia harus menjadi penengah di antara mereka. Sebab Arumi dan Rafli bersikap seperti orang asing yang baru bertemu. 


“Oh ya, Rafli, Arumi ... kenapa kalian tidak membicarakan hubungan kalian baik-baik. Bukankah Aika membutuhkan kalian berdua?” 


Arumi memilih bungkam. Tak tahu harus menjawab apa. 


“Bagus, Bu. Cecar terus.” Rafli memasang wajah datar, tetapi dalam hati bersorak. 


Selepas sarapan, Arumi menggandeng Aika menuju mobil. Pagi ini Rafli yang akan mengantar Aika ke sekolah. 


“Mommy yang akan menjemputku, kan?” pinta Aika dengan manja. 


“Iya, Sayang. Mommy yang akan menjemputmu.” 


Aika memeluk Arumi, sebelum akhirnya naik ke mobil. Arumi hanya melambaikan tangan menatap mobil yang sudah meninggalkan halaman rumah.  


Ketika kembali ke dalam untuk merapikan kamar Aika, ponsel miliknya berdering. Arumi membuka pesan yang baru saja masuk. 


“Kita perlu bicara siang ini.” 


Wanita itu membuka cadar yang menutupi wajahnya, lalu menghembuskan napas panjang. Napasnya terasa berat. Arumi menjatuhkan tubuhnya di tepi pembaringan. Menangis sejadi-jadinya. 


*


*


“Tuan, ini gawat!” Suara Osman terdengar serius di ujung telepon. Rafli yang sedang berada di rumah sakit mengerutkan dahi mendengar ucapan asisten pinjamannya itu.


“Gawat apanya, bicara yang jelas!” 


“Saya sudah menemukan informasi dari orang terpercaya tentang hubungan Nona Arumi dengan Alex Erdogan.” Semalam setelah berbicara dengan Arumi, Rafli memang memerintahkan Osman untuk mencari tahu hubungan antara Arumi dan Alex. Seperti biasa Osman bekerja dengan cepat menemukan informasi-informasi penting.


Raut wajah Rafli seketika berubah serius mendengar ucapan Osman. “Jadi apa yang kau temukan?” 


“Menurut sumber yang bisa dipercaya, Nona Arumi terikat perjanjian atas pembebasan dirinya dari perbudakan. Alex Erdogan lah yang sudah membelinya dengan harga yang sangat mahal.” 


“Lakukan sesuatu untuk menebus Arumi dari penjahat itu!”


“Masalahnya, ini bukan tentang uang saja, Tuan. Tapi isi perjanjian itu.”

__ADS_1


“Memang apa isi perjanjiannya?” Sepertinya pembicaraan semakin serius.


Osman menarik napas dalam sebelum menjawab, “Nona Arumi bisa bebas dengan syarat harus menikah dengan Tuan Erdogan, kalau dia melanggar, maka dia akan diserahkan ke tangan Madam Leova.” 


“Madam siapa?” Kening Rafli tertekuk semakin dalam. 


“Madam Leova, Tuan. Pemilik prostitusi online terbesar di Eropa.” 


Mendadak hawa panas terasa merambat ke seluruh tubuh Rafli. Botol air mineral di tangan ia remas kuat hingga remuk. Sekarang ia dapat menebak apa yang membuat Arumi begitu tertekan. 


*


*


*


Siang harinya 


Arumi baru saja tiba si sekolah dengan diantar seorang sopir. Ia turun dari mobil dengan sedikit tergesa-gesa. Kemacetan jalan siang ini membuatnya sedikit terlambat dan ia takut Aika akan bosan menunggu.


"Sebentar ya, aku akan masuk dulu," ucapnya kepada sang sopir.


"Baik, Nyonya."


Arumi mempercepat langkah. Saat berjalan di koridor sekolah untuk menuju ruang kelas Aika, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita, yang membuatnya nyaris terjengkang ke belakang hingga tali pengikat cadarnya terlepas. Beruntung ia masih berpegang pada pilar, sehingga tidak sampai tersungkur.


“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap seorang wanita yang menabraknya. 


“Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena berjalan terburu-buru,” balas Arumi ramah, lalu membenarkan cadar yang menutupi wajahnya. 


"Baiklah kalau begitu. Permisi."


"Silahkan." Arumi masih menunjukkan sikap ramah.


Tanpa ia sadari sepasang mata tengah menatapnya dari kejauhan dengan penuh ketakutan. 


Aika membeku di tempatnya berdiri. Perlahan senyum cerah di bibirnya meredup melihat sosok wanita di balik cadar.


*** 

__ADS_1


__ADS_2