
“Selamat Siang, Miss Eva. Maaf, saya agak terlambat datang menjemput Aika. Di jalan tadi macet.” Arumi tersenyum ramah kepada seorang guru yang berada di ruang kelas.
“Tidak apa-apa. Kebetulan saya masih menjaga anak-anak lain yang belum dijemput orang tuanya,” balas wanita itu.
“Ah iya, terima kasih, Miss.” Pandangan Arumi berotasi ke sekeliling. Di antara beberapa anak yang masih tersisa di ruang kelas, tak tampak Aika. Kursi tengah yang biasa ditempati putrinya juga kosong. Tas dan barang Aika tak ada satupun di sana. “Kalau begitu di mana Aika?”
“Bukankah dia sudah keluar beberapa saat lalu? Dia mengatakan mommynya sudah datang,” jelas wanita itu. Kurang dari 5 menit lalu, Aika memang meminta izinnya untuk keluar. Pintu ruang kelas yang berhadapan langsung dengan koridor, memungkinkan Aika untuk dapat melihat mommynya berjalan dari kejauhan.
“Tapi saya tidak melihatnya keluar.” Arumi langsung membalikkan tubuhnya. Menyorot setiap sudut halaman sekolah demi mencari keberadaan putrinya. Mungkin saja Aika sedang bermain dengan anak-anak lain. Tetapi, setelah mengamati taman bermain, Aika sama sekali tak terlihat.
Miss Eva pun beranjak melewati pintu ruang kelas. Kemudian mengedarkan pandangan ke segala penjuru. “Lalu dia ke mana? Padahal belum 5 menit meminta izin meninggalkan kelas.”
Rasa khawatir tiba-tiba memenuhi hati Arumi. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang. Arumi dan Miss Eva berjalan menelusuri beberapa kelas dan bertanya kepada anak-anak atau pun orang dewasa yang berada di sekitar. Tetapi, tak ada yang mengaku melihat Aika.
Kepanikan pun seketika mendominasi. Arumi segera melaporkan hilangnya Aika ke petugas keamanan. Semua orang pun ikut mencari di sekitar sekolah.
“Ke mana anakku?”
Arumi mulai risau setelah 15 menit mencari dan tak menemukan tanda keberadaan putrinya.
*
*
__ADS_1
*
“Apa maksudmu Aika tidak ada di sekolah?” Suara Rafli terdengar memekik di balik telepon. Arumi baru saja menghubunginya untuk memberitahu perihal hilangnya Aika dari sekolah. “Apa kau sudah memeriksa taman bermain? Mungkin saja dia ada di sana dengan anak-anak lain.”
“Aku dan beberapa orang sudah mencarinya, tapi Aika tidak ada di mana-mana.”
Rafli dapat mendengar dengan jelas suara Arumi yang panik bercampur isak tangis. Hal itu membuatnya seketika ikut panik dan khawatir.
“Cobalah untuk tenang, Arumi. Aku akan segera ke sana.” Di tengah rasa khawatir, Rafli berusaha menenangkan Arumi. “Sekarang minta bantuan dari pihak sekolah untuk memeriksa rekaman CCTV.”
“Baiklah. Tapi aku mohon cepat ke sini. Aku takut sekali.”
“Iya, aku akan menyusul sekarang.”
“Osman, aku baru dapat informasi bahwa Aika menghilang dari sekolah. Minta anak buahmu berpencar untuk mencari!” perintahnya sesaat setelah panggilan terhubung.
“Apa, Nona Kecil menghilang? Tapi bagaimana bisa?” balas Osman, terdengar sangat terkejut.
“Aku belum tahu penyebab pastinya. Tolong kau segera bergerak mencari!”
“Baik, Tuan!”
Rafli memutus panggilan dan segera naik ke mobil.
__ADS_1
Hanya butuh 15 menit perjalanan untuk tiba di sekolah, sebab ia berkendara dengan kecepatan tinggi. Dari depan gerbang besar tempatnya memarkir mobil, ia dapat melihat Arumi yang sedang menangis di pos security.
“Apa yang terjadi?” tanya Rafli.
Arumi langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya saat melihat Rafli datang. "Aku tidak tahu, Aika tiba-tiba saja menghilang." Ia menyerahkan ponselnya ke tangan Rafli.
Ada rekaman CCTV dari berbagai sudut yang telah dipindahkan ke ponsel miliknya. Rekaman itu memperlihatkan detik-detik Aika meninggalkan sekolah dengan tergesa-gesa. Menelusupkan tubuh kecilnya di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
"Tapi kenapa Aika pergi sendiri. Bukankah dia tahu bahwa kau akan menjemputnya?"
Arumi semakin tak kuasa membendung lelehan air mata. Rasa bersalah sekaligus takut begitu kuat membekuk hatinya.
“Tadi menuju kelas, cadarku sempat terlepas saat bertabrakan dengan seseorang. Aku rasa Aika tidak sengaja melihat wajahku dan ketakutan,” lirih Arumi, meyakini apa penyebab putrinya pergi meninggalkan sekolah.
Rafli seketika menghunus tatapan tajam. Pikirannya mendadak kalut dan dipenuhi ketakutan akan keberadaan putrinya. Aika masih terlalu kecil dan sendirian di luar sana sangat berbahaya untuknya.
“Kenapa kau bisa seceroboh ini, Arumi?”
Pertanyaan itu membuat seluruh tubuh Arumi meremang. Ia memberanikan diri mendongak demi menatap Rafli. Tatapan menghujam Rafli membuat seluruh tubuhnya meremang.
...****...
__ADS_1