Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Tidak Ada Di Sini!


__ADS_3

Yuli semakin ketakutan melihat kondisi Aika yang tak kunjung membaik setelah ia melakukan beberapa upaya. Aika masih terus mengigau dan memanggil daddynya.


“Sekarang aku harus bagaimana?” Yuli melirik obat penurun panas yang tadi dibelinya dari toko obat. Ia agak ragu memberi obat dalam dosis tinggi seperti perintah Alex tadi, mengingat usia Aika yang masih terbilang balita. “Kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya, aku pasti akan dapat masalah besar.”


Sekarang Yuli mencoba membangunkan Aika untuk membujuk makan, sebab ia belum makan apapun seharian ini dan hanya sesekali terbangun untuk minta minum jika tenggorokannya terasa kering.


“Apa aku berikan saja obatnya lagi?”


Baru saja wanita itu akan meraih obat, sudah terdengar suara beberapa mobil yang terhenti. Disusul dengan debuman pintu yang cukup keras.


“Ada apa di depan?”


*


*


*


Suasana tegang tercipta di panti asuhan itu setelah Rafli dan Osman menggedor pintu dengan cukup keras. Semua penghuni yang ada di sana tampak sangat terkejut dan takut. Ditambah lagi dengan kehadiran beberapa pria berpakaian hitam yang cukup menyeramkan. Mereka sedang memeriksa satu persatu anak-anak yang ada di sana.


“Ada apa, Tuan?” Salah satu wanita memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


Osman menyorot tajam wanita itu sambil menyerahkan selembar foto. “Kami mencari seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang hilang 3 hari lalu. Katakan di mana kalian sembunyikan dia!”


Sejenak wanita itu menatap foto. Raut wajahnya menggambarkan ekspresi terkejut. “Tapi di sini tidak ada anak seperti ini, Tuan!” jawabnya dengan suara gemetar.


“Dan kau pikir kami akan percaya? cepat katakan!” Osman melirik beberapa anak buahnya yang sedang berkeliling ke sekitar. “Periksa setiap sudut tempat ini. Mereka pasti menyembunyikan Nona Kecil di salah satu ruangan!”


“Tapi saya benar-benar tidak pernah melihat anak itu, Tuan.”


Ucapan wanita itu semakin memicu amarah Rafli. Jika saja ia seorang pria, mungkin sudah babak belur seperti Alex tadi.


“Katakan di mana anakku atau kalian semua akan berhadapan dengan hukum!”


Semakin gemetar saja tubuh wanita itu. Ia seperti berada dalam dilema antara ancaman Alex dan juga ancaman lelaki di hadapannya.


Rafli menghembuskan napas panjang. Menatap Osman dan mimik geram. “Osman, bakar tempat ini dan seret mereka semua ke kantor polisi!”


“Tidak! Tidak! Saya mohon jangan, Tuan!” Wanita itu berlutut di hadapan Rafli dan mengatupkan kedua tangan di depan dada.


“Kalau begitu cepat katakan! Sepertinya kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Bos mu saja sudah tertangkap dan kau masih berusaha menutupi kejahatannya?”


“Ba-baiklah, saya akan tunjukkan di mana anak itu. Dia sedang sakit di dalam.”

__ADS_1


“Cepat tunjukkan!” bentak Osman.


Wanita itu segera beranjak menuju sebuah ruangan. Osman, Rafli dan Arumi mengikuti dari belakang. Sejak tadi Arumi tampak menahan air mata. Mengkhawatirkan putrinya yang sedang dalam keadaan sakit.


“Yuli, tolong buka pintunya!” Wanita itu mengetuk pintu berulang-ulang. Namun, tak ada jawaban dari dalam sana.


Kehilangan kesabaran, Osman mendorong wanita itu dan segera membuka pintu. Ketiganya langsung masuk untuk mencari Aika. Namun, apa yang mereka harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sebab kamar itu kini dalam keadaan kosong.


Pandangan Rafli menyapu seisi ruangan. Kemarahan dalam hatinya semakin melambung tatkala melihat kamar yang baginya tak layak huni. Hanya ada sebuah kasur lantai yang sudah usang. Udara dalam kamar itu juga terasa sangat pengap. Rafli tak sanggup membayangkan bagaimana putrinya tinggal selama berhari-hari di kamar itu.


“Tidak ada siapa-siapa di sini! Apa kau sedang berusaha membodohi kami?” bentak Rafli semakin geram.


“Tidak, Tuan, saya tidak akan berani berbohong. Sekitar 15 menit lalu Yuli dan anak itu memang masih ada di sini.”


“Siapa itu Yuli?”


“Wanita yang menemukan dan membawa anak itu ke panti asuhan ini.”


Kedua tangan Rafli terkepal semakin geram. Sebuah jendela yang terbuka setengah mengalihkan perhatiannya. Dia beranjak menuju jendela dan membukanya. Di kejauhan, tampak seorang wanita berjalan tergopoh-gopoh dengan menggendong seorang anak kecil.


“Berhenti!”

__ADS_1


...****...


__ADS_2