Wanita Samaran Untuk Dokter

Wanita Samaran Untuk Dokter
Aku Tidak Pernah Mengasingkanmu


__ADS_3

Selama beberapa saat Rafli terdiam. Kepingan rasa bersalah dan sesal datang menghantam bertubi-tubi dan menciptakan sesak di dada.


"Arumi, tolong dengarkan aku dulu." Rafli menjeda ucapannya dengan tarikan napas. Ia butuh mendinginkan kepala untuk mengungkap keadaan sebenarnya kepada Arumi. "Aku sama sekali tidak tahu tentang kau yang dikirim keluar negeri. Aku baru mengetahuinya beberapa hari lalu saat meminta Osman menyelidikinya." 


Penjelasan Rafli tak begitu saja diterima Arumi. Sebisa mungkin ia membentengi hati agar tidak mudah terpedaya. Sebab mungkin saja Rafli sedang berusaha untuk mencuci tangan dari perbuatan jahatnya di masa lalu. 


Melihat Arumi tak memberi respon, Rafli kembali bersuara. "Aku memang mengusirmu dari rumah dan merebut hakmu untuk mengasuh Aika. Aku bersalah dan aku sangat menyesali hari itu. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi setelahnya." 


"Apa kau pikir aku bodoh? Di surat perjanjian jual-beli atas diriku ada tanda tanganmu," sambar Arumi. 


"Aku berani bersumpah demi apapun kalau itu bukan tanda tanganku. Aku yakin seseorang sudah memalsukannya." 


Menatap ke dalam mata Rafli, Arumi mencari tanda kebohongan di sana. Satu tahun hidup bersama membuatnya mengenal dengan baik seperti apa lelaki itu. Tetapi, yang ia temukan hanyalah tatapan penuh penyesalan. Sama sekali tak terlihat kebohongan. 


"Lalu bagaimana dengan orang-orangmu yang menghadangku di depan rumahmu dan langsung membawaku ke bandara?" 


"Aku tidak pernah memberi perintah seperti itu. Lagipula kau mengenal semua orang yang bekerja untukku. Apa yang membawamu ke bandara memang adalah orang-orangku?"


Sejenak ingatan Arumi tertuju pada kejadian malam itu. Ia baru sadar bahwa tak seorang pun dari mereka yang ia kenal. 


"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya." 


Rafli menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Arumi. Dan kali ini tidak ada penolakan seperti tadi. 


"Saat itu aku memang sangat marah dan kecewa karena kau membohongiku. Tapi aku sama sekali tidak membencimu. Apalagi sampai berniat mengasingkanmu." 


"Kalau begitu siapa yang melakukannya?" lirih Arumi.


"Aku hanya mencurigai satu orang, yaitu Yuna. Hanya dia yang memiliki alasan untuk melakukan semua kejahatan ini."

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri oleh Arumi bahwa saudara kembarnya itu memang sangat jahat bak iblis dari neraka. Yuna bahkan tega menyakiti Aika, yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


"Maafkan aku. Dalam hal ini akulah yang bersalah karena mudah terhasut. Yuna bahkan berhasil memanipulasi perjodohan kita." 


Tatapan Arumi kembali mengarah kepada Rafli. "Kau sudah tahu tentang perjodohan itu?" 


Rafli mengangguk. 


"Aku sudah tahu semuanya, bahkan alasan kenapa kau mau menyamar dan menggantikannya selama satu tahun."


Tanpa dapat dikendalikan, rasa sakit dari pengkhianatan Yuna kembali terbayang dalam ingatan Arumi. Semua hanya demi mengamankan posisinya di keluarga Alvaro.


"Yuna membohongiku. Dia bilang ibu kami baik-baik saja. Tapi ternyata ibu tidak tertolong."


Rafli menghapus air mata yang meleleh di ujung mata Arumi. "Kau tenang saja. Yuna sekarang sudah ditahan dan pasti akan mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya." 


"Oh ya, tadi Aika merengek mau ikut ke sini. Dia sudah sangat merindukan mommynya." 


"Aika? Dia baik-baik saja, kan?"


"Iya. Di rumah ada ibu yang menjaganya. Kau tenang saja," ucap Rafli, membuat Arumi bernapas lega. "Aku juga sudah memberitahunya bahwa mommynya yang sebenarnya sudah kembali. Dia sangat senang." 


"Kau tidak akan menghalangi lagi kalau aku mau sering bertemu Aika, kan?"


Kalimat itu membuat Rafli terkekeh sekaligus merasa hatinya seperti tercubit.


"Tentu saja tidak. Malah aku akan memanfaatkan Aika untuk menjeratmu," tambahnya dalam hati.


"Setelah keadaan membaik, kau boleh menghabiskan waktu bersama Aika sebebasnya." Rafli mengulas senyum. "Oh ya, kondisimu masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat. Masih banyak waktu untuk membicarakan semuanya." 

__ADS_1


Rafli tidak ingin egois untuk dirinya sendiri. Rafli akan menunggu sampai kondisi Arumi benar-benar pulih. Setidaknya Arumi sudah tahu bahwa bukan dirinya yang telah menjualnya ke agen tenaga kerja ilegal. 


*


*


*


Setelah memastikan Arumi baik-baik saja, Rafli menuju salah satu cabang kafenya. Ia sedang membuat janji dengan Osman. Sepertinya akan ada tugas baru yang cukup berat.


"Aku ingin kau menyelidiki seseorang yang sangat menggangguku."


"Seseorang yang sangat mengganggu Anda? Siapa, Tuan? Bukankah Nona Yuna sudah ditahan?"


"Bukan dia. Hari ini Ada seorang pria yang menemui Arumi di rumah sakit. Aku lihat tatapannya kepada Arumi tidak beres."


"Memangnya siapa laki-laki itu?" tanya Osman.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan memintamu untuk menyelidikinya!"


"Apa jangan-jangan orang itu adalah calon suami atau kekasih Nona Arumi?"


Sesaat setelah menyelesaikan kalimat itu, Osman merasakan seperti ada lubang besar tak berujung di bawah kakinya. Karena Rafli sedang melayangkan tatapan tajam kepadanya.


"Maaf, Tuan. Saya hanya bercanda. Dia pasti hanya orang yang diam-diam menyukai Nona Arumi. Lagi pula, saya yakin Nona Arumi hanya memikirkan Anda."


"Ya, memikirkan Anda. Memikirkan akan menenggelamkan Anda di samudra mana," gerutu Osman dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2