
“Kami hanya menjalankan perintah, bahwa siapapun tidak boleh menemui Nona Arumi.”
Amarah Rafli benar-benar melambung. Ia kembali mencengkram kerah kemeja laki-laki itu. Kepalan tinjunya sudah siap untuk menghujam. Tetapi, sebelum perkelahian terjadi, pintu sudah terbuka dan memunculkan sosok Alex. Cengkraman Rafli pun mengendur.
"Ada apa ini? Tolong jangan membuat keributan di sini! Aku bisa saja meminta petugas keamanan untuk menyeretmu keluar," ancamnya.
Geram, Rafli memposisikan diri tepat di hadapan Alex. Keduanya saling menatap dalam kebisuan yang menegangkan. Perhatian Rafli pun menerobos masuk. Arumi baru saja datang dari arah dalam setelah mendengar keributan.
"Arumi, ayo ikut aku pulang!" ajak Rafli. Namun, Arumi hanya diam mematung di balik punggung Alex.
"Ikut denganmu? Memangnya kau punya hak apa atas Arumi?" Alex berdecak seolah sengaja memancing amarah Rafli. Kemudian menoleh ke arah Arumi yang masih mematung di balik punggungnya. "Biarkan Arumi saja yang memilih," tambahnya.
Tak memiliki keberanian lagi untuk mengangkat kepala dan menatap Rafli, Arumi hanya menunduk. "Aku akan tetap tinggal di sini," lirihnya.
"Apa dia mengancammu?" Rafli melembutkan suara setelah melihat Arumi yang seperti sangat tertekan.
"Tidak. Tidak ada yang mengancamku di sini. Ini adalah keputusanku sendiri."
"Apa kau sudah gila?" pekik Rafli. Ia hendak menerobos masuk, namun segera didorong oleh Alex.
__ADS_1
"Aku mohon pengertianmu. Aku dan Alex sudah memutuskan akan menikah dalam bulan ini. Lagi pula, tidak ada hubungan apa-apa di antara kita selain karena keberadaan Aika."
Rafli hampir tak percaya mendengar jawaban Arumi. Entah bagaimana cara Alex meracuni pikirannya. Rafli benar-benar ingin meruntuhkan gedung apartemen itu.
"Kau dengar sendiri, kan? Tidak ada yang mengancam Arumi. Ini semua keputusannya sendiri."
Rafli hanya menatap Arumi dingin. Lalu tanpa kata, melangkah pergi. Kecewa dan marah bercampur satu.
Sementara Arumi menjatuhkan air mata setelah Rafli menghilang di balik pintu lift. Sesak terasa menghimpit dada. Beberapa menit lalu sebelum kedatangan Rafli, Alex sudah memberinya sebuah ancaman mematikan, yang membuat Arumi tak berkutik.
Alex lantas membalikkan tubuhnya dan menatap wanita itu dengan senyum kepuasan. "Apa yang tadi kau katakan itu adalah keputusanmu, atau itu hanya untuk menggertak Dokter Rafli agar pergi dari sini?"
Arumi terdiam beberapa saat, menarik napas dalam seolah sedang menguatkan hati.
“Sayangnya, aku tidak bisa menunggu lama-lama. Aku akan memberimu waktu satu minggu. Kalau sampai minggu depan anakmu belum ditemukan, kau harus menikah denganku.”
Arumi kembali menjatuhkan air mata. Pasrah. Ingin menjerit, tetapi tak seorangpun dapat menyelamatkannya dari cengkraman alex.
*
__ADS_1
*
*
Pagi hari Yuli masuk ke kamar dan menemukan Aika masih terbaring di ranjang. Padahal anak-anak lain sudah lebih dulu keluar untuk turun ke jalan. Wanita gendut itu menggelengkan kepala sambil berdecak. Sebab kemarin Aika selalu bangun lebih cepat dibanding anak lainnya.
“Hey, bangun! Kita harus segera berangkat!” ucapnya sambil menarik selimut.
Tak kunjung terbangun, ia mendekat dan menarik tangan kecil Aika. Namun, saat itu juga Yuli terkejut setelah mendapati permukaan kulit Aika terasa hangat. Dia meletakkan punggung tangan ke dah gadis kecil itu. Dan benar, suhu tubuh Aika cukup tinggi.
“Dia sakit?” Mendadak Yuli merasa khawatir. Lantas kembali menyelimuti anak itu. “Aduh, bagaimana ini?”
Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Yuli hanyalah mengompres Aika dan memberikan obat penurun panas yang ia beli dari warung. Berharap obat dapat bekerja pada tubuh Aika dan menurunkan demamnya.
Namun, apa yang diharapkan Yuli berbanding terbalik. Hingga beberapa jam berlalu, Aika tak kunjung membaik dan malah sekarang sudah mulai menggigil. Yuli tak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara mereka hanya berdua di panti.
“Daddy ....”
Yuli tercengung mendengar suara lemah Aika. Sudah beberapa kali gadis kecil itu mengigau memanggil daddynya. Wajah dan tubuhnya pun tampak semakin pucat. Dalam kebingungan bercampur takut, Yuli berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
__ADS_1
“Sekarang aku harus bagaimana? Kalau tidak dibawa ke dokter kondisinya bisa semakin buruk. Tapi kalau aku membawanya ke dokter, polisi bisa saja menemukannya dan aku pasti akan dipenjara.”
...****...