
Alex tersenyum puas melihat tubuh kecil yang sedang tidur dengan sangat nyenyak di sebuah kamar kecil. Hilangnya Aika dapat ia manfaatkan untuk membuat hubungan Arumi dan Rafli semakin renggang.
“Pertama, kau harus membuat anak ini melupakan namanya sendiri. Dia masih empat tahun, jadi tidak akan sulit bagimu untuk melakukan itu,” ucapnya kepada Yuli. “Dan jangan sampai dia melarikan diri. Kau bisa menakut-nakutinya secara halus.”
“Baik, Bos.”
"Ingat pesanku tadi, dandani dia seperti anak laki-laki. Dengan begitu tidak akan ada yang mengenalinya."
Yuli menganggukkan kepala patuh.
“Baiklah, aku akan pergi dulu.”
Setelah memastikan semuanya berjalan sesuai keinginannya, Alex meninggalkan kamar itu. Jo sudah menunggu di mobil sejak tadi.
“Kita jalan sekarang?” tanya Jo, yang sudah menyalakan mesin mobil.
“Ya, tapi sepertinya aku tidak jadi ke kelab malam.” Alex mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memainkan jemarinya pada layar. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada seseorang.
“Memangnya kenapa?”
“Aku harus bertemu dengan Tuan Brush.”
__ADS_1
Bola mata Jo seketika membulat penuh sesaat setelah mendengar nama yang disebutkan Alex. Betapa tidak, Tuan Brush adalah seorang mafia perdagangan anak yang sudah lama menjadi buronan polisi.
“Kau pasti sudah gila. Apa kau mau menjual anak itu kepada Tuan Brush?” tanya Jo.
Alex hanya menyahut dengan senyumnya yang khas. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan Arumi di sisinya.
*
*
*
Keesokan harinya
Sepanjang hari ini Rafli dan Arumi terus mencari. Namun, tak ada tanda keberadaan putrinya di mana pun.
Setelah lelah mencari seharian, Rafli membawa Arumi mampir ke sebuah restoran. Wajah Arumi terlihat sangat pucat dan lelah karena sejak kemarin belum beristirahat.
“Arumi, makanlah walaupun hanya sedikit. Kau sama sekali belum makan apapun sejak kemarin,” bujuk Rafli. Padahal dirinya sendiri belum makan apapun sejak putrinya menghilang.
“Aku tidak akan makan sebelum anakku ditemukan,” lirihnya, seraya mendorong hidangan yang tersaji di hadapannya.
__ADS_1
“Tapi kalau tidak makan kau bisa sakit. Bagaimana kau akan mencari Aika kalau sakit?”
Arumi tak menyahut. Malah membuang pandangan ke arah parkiran restoran yang dapat terlihat melalui dinding kaca tempatnya sekarang duduk. Di depan sana tampak beberapa anak jalanan yang sedang meminta-minta di sisi jalan. Ada yang sambil membawa kaleng, ada pula yang membawa tas kecil yang sobek di beberapa bagian.
Perhatian Arumi lantas tertuju kepada anak laki-laki berpakaian lusuh dan kedodoran yang duduk seorang diri di trotoar. Arumi bertanya dalam hati, mengapa anak malang yang ditebaknya seusia Aika itu harus menjalani kehidupan keras di usia sekecil ini.
Ia bahkan tak dapat membayangkan jika itu terjadi kepada Aika.
Tak tahan, sepasang mata Arumi melelehkan cairan bening.
“Ada apa?”
Arumi meraih selembar tissue dan mengusap air mata. “Tidak apa-apa. Aku hanya teringat Aika.” Ia melirik beberapa potong roti hangat yang ada di meja. Kemudian menoleh ke arah anak tadi. “Boleh aku berikan sebagian makanan ini kepada anak yang ada di depan itu?”
Rafli turut melihat ke arah yang berhasil mencuri perhatian Arumi. Dari sana ia dapat melihat seorang anak lelaki duduk seorang diri di trotoar. “Tentu saja boleh.”
Rafli mengangkat tangan dan memberi isyarat kepada seorang pramusaji. Meminta untuk memasukkan beberapa potong roti tersebut ke dalam kotak makanan. Arumi pun beranjak keluar dengan membawa paper bag di tangannya.
Anak laki-laki yang tadi dilihatnya masih terduduk seorang diri di trotoar. Entah mengapa hati Arumi seperti diremas tanpa ampun melihat anak itu dari kejauhan. Tubuh mungilnya terbalut pakaian lusuh dan kedodoran. Ada sobekan di beberapa bagian. Selain itu, kepalanya tertutupi oleh topi yang sama lusuhnya.
Perlahan Arumi berjalan mendekat.
__ADS_1
...****...