
"Ada apa?" tanya Dominic melihat ke arah sekertaris wanita yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Gre—”
Sekertaris itu langsung berhenti bicara ketika Dominic menyuruh Reno untuk menemui anak bungsunya itu lebih dulu, lalu setelah itu dia menyusul Reno menemui Grey usai berbicara empat mata dengan Alicia.
Alicia menelan saliva-nya dengan kasar lantas mengutarakan niat tujuan dia datang ke perusahaan Mega Z, rasa khawatirnya pun mencuat ketika wajah Dominic yang awalnya ramah berubah menjadi datar apalagi ketika sorot mata itu melihat pria paruh baya yang sangat disegani oleh karyawan yang berada di perusahaan tersebut terdiri.
Jantung Alicia berdegup kencang saat dia menerka-nerka bahwa Dominic pasti akan mengusirnya, tetapi pikirannya salah besar pria paruh baya itu membawa sebuah kertas yang berupa cek lalu menyodorkannya di depan dia bersamaan dengan pulpen berwarna emas.
"Tulislah, jangan sukan-sukan!" ujar Dominic yang kembali duduk di kursi sofa tersebut.
Alicia ragu, apakah ini benar? Apakah semua ini mimpi? Pertanyaan yang begitu banyak segudang dalam relung hatinya mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa semua yang terjadi bukanlah mimpi semata.
"Apakah i–ini serius? A-atau ...."
"Tidak usah cemas, tulis berapa nominal yang kau mau!" perintah Dominic kepada Alicia.
Masih dengan perasaan yang sulit dipercaya, Alicia memberanikan diri untuk menulis nominal pada kertas selembar kosong tersebut sesuai dengan semua hutang-hutangnya, lalu memberikan kepada Dominic.
"Apakah segini cukup?" tanya Dominic yang memastikan sekali lagi.
Alicia menjadi ragu, dirinya benar-benar takut apakah tindakan dia yang diambil saat ini adalah benar? Walaupun harga dirinya hancur saat ini tapi dia terpaksa demi menyelamatkan satu-satunya harta dari mendiang sang ayah.
"Iya," ucap Alicia dengan mantap.
"Ok, kalau begitu!" Dominic langsung menambahkan angka nol pada selembar kertas tersebut lalu menandatanganinya.
__ADS_1
Alicia menerima kertas lembaran cek tersebut dari tangan Dominic, lantas melihat cek tersebut. Begitu terkejutnya dia saat melihat angka nol yang menjadi banyak di belakang angka nol lainnya, apakah dia salah lihat atau salah menulis?
"Ma–maaf, Tuan, sepertinya ada yang salah dalam angka yang tertera dalam kertas ini." Alicia menyodorkan kembali kertas ke hadapan Dominic.
"Tidak ada yang salah, semua ini untuk kamu! Anggaplah sebagai imbalan karena kamu sudah menyelamatkan nyawa saya," ujar Dominic.
"Tapi, ini terlalu banyak! Saya tidak akan sanggup untuk mengulanginya," ucap Alicia yang berkata jujur.
"Tenang, kamu tidak perlu membayarnya! Saya tidak jadi masalah, karena ini hak kamu! Hanya saja ...."
Dominic langsung menghentikan ucapannya saat sorot mata melihat ke arah Alicia yang menanti ucapan dia selanjutnya, dia pun mengenal napas ketika menebak bila wanita itu tidak akan mungkin mau membantunya lagi.
"Hanya saja apa, Tuan?" tanya Alicia yang masuk ke dalam perangkap lelaki tua itu.
"Saya ingin, kamu bersedia makan malam bersama anak saya, hanya sekedar makan malam tidak lebih!" ucap Dominic yang ragu-ragu takut bila gadis itu tersinggung dan marah.
"Makan malam? Bersama anaknya?" ucap Alicia dalam hati yang mengulang ucapan Dominic.
"Baik, saya mau!" jawab Alicia dengan tegas.
"Apa kamu serius dengan ucapan kamu?" Dominic sungguh tidak percaya bila penawarannya diterima oleh gadis itu.
Ya, entah mengapa Dominic sudah kepincut oleh hati nurani Alicia yang begitu baik, dari cara tutur katanya membuat hatinya tersentuh. Penampilan Alicia yang simple meyakinkan dia bahwa wanita yang dia pilih kali ini bukanlah wanita sembarangan seperti wanita lainnya yang hanya mengincar harta Grey.
"Ya," sahut Alicia yang membuat Dominic tertawa senang.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang!" ajak Dominic pada Alicia.
__ADS_1
Alicia mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud dari ucapan pria tua itu, dan dia berkata dalam hatinya. "Pergi sekarang? Ke mana? Apakah malam ini?"
"Alicia, ayo!" panggil Dominic yang membuyarkan lamunan Alicia.
"Memangnya, ma–mau ke mana kita, Tuan?" tanya Alicia dengan gugup.
Dominic hampir lupa, bila ini terlalu mendadak untuk Alicia sehingga terlihat seberat ketakutan di wajah gadis itu. Dia berupaya langsung menenangkan Alicia bila dia hanya ingin mengajaknya untuk pergi menyiapkan keperluan makan malam esok lusa.
Alicia sungguh tidak percaya atas apa yang di ucapakan oleh Dominic, dia hanya mengikutinya dari belakang, lantas melihat bila pria tua itu berbicara pada wanita cantik dengan balutan baju yang sungguh ketat memperlihatkan kedua aset yang paling berharga.
"Bilang sama Reno untuk segera menyiapkan mobil, tidak usah meladeni cecunguk. Biarkan anak nakal itu menunggu saya berjam-jam! Bila perlu usir dari kantor saya!" ucap Dominic kepada sekretarisnya yang masih terdengar oleh Alicia meskipun suaranya sudah sangat.
"Baik, Pak!" Sahut sekretaris itu yang langsung menelpon Reno memberi kabar pada asisten pribadi Dominic agar segera menjalankan tugasnya.
Sementara di posisi Grey, dia begitu kesal terhadap sang ayah. Bisa-bisanya Dominic menyuruhnya untuk menunggu berjam-jam setelah itu mengusirnya begitu saja. Padahal ayahnya sendiri yang menyuruhnya datang untuk memberikan hasil laporan saat bertemu dengan klien siang tadi.
Sekarang giliran waktu sudah menunjukkan langit yang gelap Dominic menyuruhnya untuk segera pulang, usai dia menunggu sang ayah yang sedang menemui tamu penting.
"Siapa tamu itu? Seberapa pentingnya dia? Aakhh, si al! Dasar Kakek-kakek!" ucap Grey yang begitu kesal saat Reno dengan seenak jidatnya menyuruh untuk dia pulang. "Peter cari siapa tamu penting lelaki tua bangka itu temui!"
Grey langsung menghubungi Peter disaat hatinya belum bisa menerima bila dia diperlakukan seperti itu, baru kali ini Grey diacuhkan oleh Dominic. pasalnya seberapa penting pun tamu ayahnya itu pasti dia yang selalu menjadi prioritas utamanya.
"Si al! Bisa-bisanya tua bangka itu bisa melakukan seperti ini!" Grey benar-benar kecewa kali ini dengan sang ayah. Dia menendang ban mobilnya sendiri kemudian berjingkrak kesakitan akibat pulangnya sendiri.
"Anjriet, sakit kaki gua! Ini ban dari karet apa dari batu?" Grey memukul mobil itu dengan kencang melampiaskan emosinya tetapi tangannya pun menjadi korban akibat pukulannya sendiri, hingga dia berteriak, "Aaaakkk ... sakit! Gila nih mobil, minta gua jual kali ya!"
Grey meniup seraya mengibaskan tangannya yang mulai kebas akibat pukulan yang dia daratkan ke arah badan mobil, hari ini kekesalannya sungguh sempurna dari pagi hingga malam telah tiba. Bukan hanya dengan pikiran dan hatinya yang lelah, tetapi tangan dan kakinya pun menjadi korban kepedihan dia hari ini.
__ADS_1
"Awas loh ya, gua jual baru tahu rasa! Mau Lo gua jual? Gua gadein? Sekalian sama BPKB Lo? atau mau Lo gua buang biar jadi barang rongsok? Masih untung gua adopsi dari dealer! Huuuh!" kesal Grey yang melampiaskan dengan berbicara pada mobilnya sendiri seperti orang bodoh, hingga orang yang berada di sekitar tersebut tertawa melihat ke arahnya
To be continued...