
Suara tawa Alicia memecahkan keheningan saat Alice dan Jacob bingung dengan sikap wanita berambut hitam panjang, seakan mereka tengah membicarakan hal yang lucu.
"Bisa seperti itu ya? Nama kita mirip, wajah kita mirip tapi dari keduua orang tua yang berbeda." Alicia masih tertawa dengan logikanya sendiri.
"Memangnya kedua orang tua kamu di mana?" tanya Alice dengan penasaran.
"Ibu kandung aku sudah lama meninggal saat aku masih kecil, sedangkan ayah ... belum lama meninggal." Alicia merubah raut wajahnya menjadi murung mengingat tentang sosok ayah tercinta.
"So–sorry, aku gak maksud untuk membuatmu sedih," ucap Alice, dia meraih tangan Alicia untuk menenangkan kembarannya itu. "Kalau aku, Papa kandung sudah lama meninggal sama sejak umurku masih kecil, sedangkan Momy sudah mendapatkan pengganti Papa, meksi Daddy adalah Papa sambung aku, dia baik banget, memberikan kasih sayang yang selama ini aku tidak dapatkan dari ayah kandung."
"Aku ikut senang melihat keluarga kamu lengkap," sahut Alicia dengan senyuman.
"Tentu kamu juga bisa menganggap mereka seperti kedua orang tua kamu, anggap aja kita kembar tapi tidak seiras!" Alice tertawa memberikan saran seperti itu pada wanita yang begitu mirip dengannya.
Mereka pun berbincang sembari menikmati sepotong kue bersama, sedangkan Jaco pun hanya bisa mendengar percakapan kedua wanita dengan wajah yang mirip. sesekali dia pun ikut menimbun ucapan yang ditanyakan oleh kedua wanita tersebut.
Sampai pada akhirnya, Alice meminta tolong pada Alicia untuk menggantikan posisinya. Alice ingin Alicia pergi menggantikan posisinya mengikuti acara selama tiga hari, dia juga akan menjamin keselamatannya Alicia dan Jacob bisa sebagai Bodyguard barunya menemani ke acara tersebut.
"Please ya, Alicia! Kamu tinggal ikut bersama orang tua aku, cuma tiga hari ... Please!" pinta Alice pada Alicia.
Alicia tidak mengerti kenapa Alice tidak mau ikut bersama kedua orangtuanya, justru meminta dia untuk menggantikan posisinya selama tiga hari.
Berbagai macam cara Alice membujuk agar Alicia mau menolongnya, dia mencoba menjelaskan pada wanita itu kenapa dirinya tidak mau ikut pada acara tersebut karena Alice ingin pergi berlibur bersama tunangannya yaitu Nicholas.
"Please," ucap Alice yang memohon tetapi tetap saja permintaannya ditolak mentah-mentah oleh Alicia.
Alice pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika permintaannya ditolak oleh Alicia, sedangkan Jacob berpikir sejenak jika Alicia mau menerima tawaran dari wanita itu, maka dia memiliki kesempatan bersama Alicia untuk berdua.
Akhirnya dengan berani Jacob, memberikan saran kepada Alicia agar menerima tawaran dari Alice. Dia juga memberitahu bahwa Ini kesempatan untuk wanita yang berstatus sebagai istri Grey bisa merasakan memiliki kedua orang tua lengkap walaupun hanya tiga hari.
Alicia berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menerima saran dari Jacob untuk menggantikan posisi Alice selama tiga hari, kesepakatan pun telah disetujui bersama bahwa Alicia hanya mengikuti acara tersebut dan memainkan alur yang diarahkan oleh Alice.
...----------------...
Di sebuah supermarket ternama Alicia bersama dengan Jacob tengah berbelanja bulanan, usai menyetujui persetujuan dengan Alice dan berbelanja kebutuhan style selama tiga hari untuk menjadi diri Alice.
"J, apakah menurut kamu keputusanku sudah benar?" tanya Alicia masih ragu dengan keputusan yang sudah dia ambil.
"Tidak apa-apa, Nyah. Selama ada aku, aku siap menjaga keselamatan Nyonya!" Jacob memberikan senyum manisnya sembari mendorong keranjang belanjaannya.
__ADS_1
"Menurut kamu, buah semangka enakkan kuning apa merah?" tanya Alicia ketika kini merak berada di tempat buah.
Jacob terdiam sembari berfikir, kemudian menunjukkan buah semangka warna kuning kesukaannya. Ya, apapun pilihan yang ditanyakan oleh Alicia adalah kesukaan Jacob sendiri.
"Nyah, mau ini?" Jacob menawarkan buah alpukat kesukaan Alicia.
Benar saja, Alicia langsung mengangguk dan memasukkannya ke dalam keranjang. Sampai semua terisi penuh dengan berbagai jenis barang belanja yang mereka beli.
"Ya ampun, J ngantrinya panjang," ucap Alicia ketika mereka ingin membayarnya.
Jacob pun melihat antrian yang begitu panjang, lalu menyuruh Alicia untuk duduk menunggunya yang rela berdiri untuk mengantri.
"Nyonya tunggu sebentar, ya?" Jacob memberikan satu bungkus es krim kepada Alicia sebagai pelepas jenuh menunggu dia.
"Thank you!" jawab Alicia dengan senyum manisnya sembari menerima es krim yang ditawarkan oleh bodyguard-nya.
Alicia pun menikmati es krim yang sudah dibuka oleh Jacob, matanya pun terus memperhatikan bodyguard-nya yang selalu tersenyum ke arah dia saat mata mereka saling tatapan menatap.
Seakan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan, itulah yang Alicia rasakan. Namun, dia menepis semuanya karena Jacob sudah dianggap sebagai Kakaknya sendiri.
Sampai tiba Alicia melihat seseorang yang sangat dia kenal tengah berjalan mesra dengan seorang wanita dengan penampilan yang terbuka, siapa lagi kalau bukan suaminya—Grey bersama wanita yang pernah dia lihat di dalam kantor.
Deg, perasaan sakit pun langsung timbul seketika, matanya langsung meneteskan air mata. Melihat suaminya begitu mesra dengan senyum yang merekah saat tangan kekar itu digandeng dengan hangat oleh sang wanita.
Benar saja, sang suami tidak melihatnya, justru telinga Alicia mendengar bahwa Grey akan membelanjakan kebutuhan wanita itu selama di kapal pesiar.
"Kapal pesiar? Apa jangan-jangan yang di maksud Grey tiga hari tidak pulang ingin menghabiskan waktu dengan wanita itu pergi berlibur? Kebangetan kamu Grey!" Alicia langsung mengikuti ke mana langkah kaki Grey pergi, hingga masuk ke dalam sebuah toko baju wanita dengan berbagai macam model.
Akan tetapi, Alicia justru tidak melihat Grey dengan wanita itu. "Bukannya tadi mereka masuk sini ya?"
Alicia pun mengeluarkan ponsel untuk merekam bukti perselingkuhan Grey dengan wanita lain, dia berniat mengirim bukti tersebut kepada Dominic yang nantinya akan mempermudah dia meminta bercerai pada Grey.
Namun, saat langkah kakinya ingin kembali, Alicia justru menangkap basah Grey yang tengah beradu kecupan bibir dengan panas dalam ruangan ganti baju, dia pun meneteskan air mata sembari mengangkat ponselnya.
Tangan yang gemetar membuat Alicia menyudahi rekaman tersebut, dia memasukkan ponselnya saat matanya masih tertuju melihat adegan panas secara nyata.
Ya, hordeng itu tidak tertutup rapat hingga Alicia masih bisa melihat bagaimana Grey dan wanita simpanannya bergulat saling memberikan sensasi berbeda.
Sampai pandangan gelap pun Alicia dapatkan, tubuhnya berputar dan mendapatkan pelukan hangat dari seseorang yang dia kenal betul wangi parfumnya.
__ADS_1
"Kita pulang!" ajak Jacob yang menghapus air mata Alicia lalu menggandengnya.
Sementara itu di posisi Grey, sudah seberusaha mungkin dia mendorong tubuh Flora agar tidak menciumnya tapi wanita itu terus memaksanya, sampai terpaksa Grey pun mengigit bibir Flora.
"Aaakhh ... Grey!" pekik Flora karena bibirnya merasakan sakit luar biasa.
"Kamu gila, Flo! Aku sudah bilang sama kamu, saat ini kita cuma sahabat dan kamu sudah janji itu!" ucap Grey yang mengingatkan perjanjian mereka.
"Tidak ada sahabat yang mengajak untuk berlibur selama tiga hari dan membelanjakan apa yang diperlukannya, Grey!" tegas Flora.
"Apa kamu sudah lupa Flo? Aku bakalan terima bersahabat sama kamu asal kita punya batasan! Aku mengajak kamu karena kita sama-sama saling membutuhkan, kamu membutuhkan tanah yang akan dilelangkan dalam acara itu kan? Dan aku membutuhkan kamu dalam acara itu untuk mendapatkan apa yang aku perlukan pada perusahaanku!" Grey mengingatkan kembali tujuan mereka bersama.
"Ingat Flo, kalau sampai kamu seperti ini lagi, persahabatan kita berakhir!" ancam Grey yang meninggalkan Flora dalam ruangan ganti baju.
***
Sepanjang perjalanan, Alicia terus melamun menatap jalanan yang diguyur oleh hujan. entah kenapa rasanya begitu sesakit ini, apakah karena dia sudah mencintai suaminya? Tidak, itu karena Grey terus melakukannya dengan dia tetapi juga dengan wanita lain.
Sesak yang Alicia rasakan sampai kelopak matanya tak mampu menampung air mata, pandangannya benar-benar kosong sampai akhirnya mereka tiba di apartemennya.
Jacob yang terus memperhatikan Alicia hanya melamun sembari meneteskan air mata, membuat pria itu menahan rasa sakit melihat wanita yang dia cintai menangisi pria lain.
"Apa kamu sudah mencintainya?" tanya Jacob yang mencengkram kuat kantong belanjaan saat kini mereka sudah berada di dalam lift.
"Tidak!" jawab Alicia dengan cepat saat air mata nya semakin menetes.
"Lalu kenapa kamu menangisinya?" tanya Jacob.
"Karena aku lelah dengan diriku sendiri yang tidak bisa menentukan kebahagiaanku sendiri! Aku kesal J ... ini tubuhku, tapi bukan aku yang mengaturnya!" Alicia langsung mengeluarkan segala kegundahannya pada Jacob.
Trauma yang dulu mantan Alicia kasih, kini terulang kembali. Lebih menyakitkan karena Grey sudah menjadi suaminya, Grey sudah merenggut kehormatannya dan sekarang dia seperti seorang wanita yang tidak punya harga diri.
Alicia menangis dengan perasaan kesal, lalu lelaki itu langsung menariknya untuk masuk ke dalam dekapan. Sampai tiba di mana telinga dia mendengar apa yang Jacob katakan.
"Aku akan membuatmu bahagia Alicia, pisahlah dengan dia secepatnya dan menikahlah denganku!" ujar Jacob yang mengeratkan pelukannya sembari mengecup pucuk Alicia.
Alicia pun tercengang, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bodyguard itu, kemudian menjauhkan tubuhnya dari Jacob dan berlari keluar dari pintu lift saat pintu terbuka dan bergegas membuka kata sandi apartemennya.
Akan tetapi, saat Alicia ingin menutup pintu apartemen, Jacob menghalanginya dengan menggunakan tangan dan kaki untuk mengganjal pintu, dia terkejut saat pria itu menahan kemudian menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Jika tidak mau berpisah darinya, apa kamu mau mencoba untuk membalas apa yang dia perbuat?" tanya Jacob yang mengajaknya untuk berselingkuh dari Grey dengannya.
To be continued...