Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
meminta bantuan


__ADS_3

Grey menatap kedua sejoli yang sedang asyik bermesraan di muka umum penuh dengan api yang membara, sampai gelas yang ada di hadapannya pun menjadi korban cengkraman kuat dari tangan itu.


"Peter!" panggil Grey pada Peter dan asisten pribadinya itu langsung mendekat ke arahnya.


Grey membisik kata-kata yang hanya di mengerti oleh Peter, meski tatapannya terus menatap ke arah Alice dan juga Nicholas tetapi bibir terus berbicara memberikan perintah pada telinga asisten pribadinya itu.


Ya, Grey berada di situ karena mendapat perintah dari Dominic untuk menemui Clien penting, baru saja dia ingin masuk keruangan private tetapi matanya menangkap sosok wanita yang dia kenal.


Sehingga Grey memutuskan untuk duduk sejenak melihat romantisan Alice bersama laki-laki lain yang tak lain adalah tunangan wanita itu sekaligus musuhnya.


"Masih bisa tersenyum rupanya! lihat saja nanti, seberapa lama senyum itu ada di bibirmu Alice!" Grey pun bangun lantas memilih pergi dari sana untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.


****************


"Al, jangan lupa sebelum tutup toko, kamu buang sampah ini sekalian!" ucap Kamila selaku pemilik toko kue tempat Alicia bekerja.


"Baik, maaf Nyo—"


Belum sempat Alicia untuk berbicara, mata sudah melihat bagiamana wanita yang berusia 48 tahun itu langsung pergi keluar dari pintu itu meninggalkan tokonya dan masuk ke dalam mobil.


Alicia menghela napasnya, ketika niat dia ingin berbicara empat mata dengan Kamila sirna sudah. Sapu yang dipegang pun jatuh begitu saja saat dia berjongkok seraya menahan tangisannya.


"Ya Tuhan, aku harus mencari ke mana lagi uang sebanyak itu?" Alicia putus asa ketika waktu yang ditentukan untuk membayar semua hutang hanya tinggal menghitung jari.


Alicia bekerja di toko kue sebagai penghasilannya selama ini untuk memenuhi kebutuhan dan membayar rentetan hutang yang ada, tubuhnya benar-benar lelah sampai dia berpikir untuk menyerah.


Suasana di dalam toko yang sudah sepi karena tutup lebih awal, membuat Alicia melampiaskan rasa sedihnya seorang diri di dalam sana. Cukup lama hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari tokoh tersebut menguncinya usai membuang sampah.


Alicia berjalan tanpa semangat menuju halte bus, dia duduk di sana sembari menyandarkan kepalanya di tiang besi baliho yang menjadi tempat sandaran kursi halte. Namun, tiba-tiba saja dia mengeluarkan kartu berbentuk persegi kecil, tertera nama Dominic Elmer dan nama perusahaan.

__ADS_1


"Apakah dia bisa membantuku?" Gumam Alicia yang masih terus menatap pada kartu nama tersebut, dia melirik jam tangan yang masih menunjukkan pukul sore. Lantas kakinya pun mulai melangkah maju ke depan saat mobil bus yang dia tunggu sudah tiba.


Alicia duduk paling belakang sembari termenung melihat kartu yang masih dia genggam, pikirannya ragu untuk meminta bantuan pada Dominic tetapi tidak ada salahnya juga dia mencoba mencari keberuntungan.


Perasaan yang dimiliki oleh Alicia saat ini sudah bertekad bulat, dia pun menghentikan bis mobil tersebut lalu bergegas untuk turun. Kakinya pun melangkah semakin cepat pantas kemudian melewati zebra cross penyeberangan.


Kaki jenjang putih mulus itu terus berlari sampai tiba di depan perusahaan terbesar di kota tersebut. Ya, perusahaan Mega Z, perusahaan terbesar nomor dua untuk saat ini yang bersaing dengan perusahaan Nusa. Kedua perusahaan itu dalam sebulan terakhir bersaing menduduki nomor satu. Siapa lagi pemilik dari perusahaan Nusa kalau bukan Nicholas.


Alicia melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan tersebut lalu kemudian dia pun menghampiri kemeja informasi, percaya dirinya begitu tinggi sehingga dia langsung menanyakan keberadaan Tuan Dominic.


"Maaf, Mbak! Tuan Dominic lagi ada rapat sedang tidak bisa diganggu!" Ucap salah satu resepsionis.


"Seriusan Mbak nggak bisa?" Alicia sekali lagi bertanya pada resepsionis tersebut tetapi tetap saja hasilnya nihil wanita yang menjaga bagian informasi tersebut enggan untuk memberikan dia kesempatan bertemu dengan Dominic.


"Mbak, coba tanya sekali lagi! Alicia ingin bertemu dengannya," ujar Alicia yang tidak mau putus asa karena ini satu-satunya harapan yang dia punya.


"Ya udah kalau gitu, makasih ya mbak!" Alicia sungguh berat melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


Kesempatan dan harapan dia satu-satunya telah sirna sudah, apakah dia harus merelakan rumah peninggalan sang ayah yang satu-satunya dia miliki, kalau sampai rumah itu diambil oleh rentenir lalu bagaimana dia tinggal? Apakah dia akan menjadi gelandangan?


"Alicia!" Panggil seseorang yang tidak jauh jaraknya dari Alicia.


Alicia pun menengok ke arah belakang melihat siapa yang menyebut namanya, dia pun terkejut ketika melihat pria yang dia kenal ada di depan matanya.


"Tuan!" Alicia meneteskan air mata ketika melihat ternyata Dominic yang memanggil dirinya.


"Sedang apa kamu di sini? Apa kau ke sini mencariku?" Tanya Dominic yang melihat penampilan Alicia begitu pilu.


"Sa–saya ... Maaf tuan bila saya lancang tapi saya ke sini bermaksud ingin memenuhi Tuan Dominic!" Ucap Alicia dengan secara jujur.

__ADS_1


Dominic akhirnya tersenyum mendengar ucapan dari wanita yang selama ini dia tunggu-tunggu kehadirannya, dia langsung menyuruh Reno agar meng-cancel semua jadwal yang sudah disiapkan.


"Saya sudah menunggu kamu, mari ikut saya!" Dominic dengan senang menyuruh Alicia untuk mengikutinya menuju ruangan dia.


Langkah kaki Alicia terus mengikuti ke mana arah pergi Dominic menuntunnya, sorot matanya pun tidak lepas dari pandangan melihat ke arah bangunan yang menjulang tinggi tersebut, memiliki interior yang begitu luar biasa.


Bangunan megah yang menjadi pusat perhatian kota, di mana seluruh orang berbondong-bondong datang untuk melamar pekerjaan di perusahaan tersebut, karena perusahaan itu begitu menjanjikan kehidupan bagi siapa saja yang melamar di sana.


Tidak heran bila perusahaan Nusa pun menawarkan agar bagi siapa yang mau melamar dan bekerja di perusahaan tersebut akan mendapatkan jaminan yang tidak kalah menggiurkan dari perusahaan Mega Z.


Alicia masih setia membuntuti Dominic hingga sampai ke sebuah lantai yang paling tinggi yaitu ruangan Dominic, pria paruh baya itu menyuruh sekretaris untuk melarang siapapun yang masuk atau mengganggunya di saat dia sedang bersama Alicia.


"Silahkan duduk!" Dominic memberikan sebuah minuman kaleng kepada Alicia. Lantas dia duduk di seberang Alicia yang dibatasi oleh meja lantas berkata, "Apa yang bisa saya bantu?"


Deg, jantung Alicia langsung berdegup dengan kencang dia tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari apa, ketika hatinya mengatakan bila dia membutuhkan uang dalam jumlah yang tidak banyak. Akan tetapi, tidak mungkin baginya langsung berterus terang kepada Dominic bahwa dia sangat-sangat membutuhkan uang.


"Tidak usah terlalu gugup, minum lah dulu!" Dominic masih tersenyum dengan ramah melihat ke arah Alicia.


Alicia pun tersenyum getir saat tangannya mencoba untuk meraih minuman kaleng tersebut, dia pun membukanya lalu menenggaknya sampai tandas.


"Hmmm, Maaf sebelumnya ... saya tidak tahu harus ngomong dari mana mungkin kesannya terlihat sangat tidak tahu malu! Tapi—”


"Jangan sungkan untuk berbicara pada saya, katakanlah apa yang bisa saya bantu!" Ucap Dominic yang begitu ramah kepada Alicia dia tahu betul bila wanita itu datang menemuinya saat ini pasti sangat memerlukan bantuannya.


"Saya ... hmmm, saya ke sini untuk meminta bantuan kepada tuan Dominic—”


"Permisi," ucap suara seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum Alicia mengatakan sesuatu.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2