Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Penolakan Grey


__ADS_3

"Mungkin nanti, setelah dia pulang kerja," ucap Agatha pada Alicia.


"Oh, iya... jadi ini yang fiksnya ya?" tanya Aghata pada Alicia.


Alicia hanya mengangguk sembari tersenyum ke arah Agatha dengan pikiran yang masih bercabang kemana-mana, karena dia belum tahu betul bagaimana sifat dan penampilan sang suami. Hatinya masih terfokus dengan rasa cinta dan benci pada Marvel, apakah dia bisa melupakan Marvel dengan cara seperti ini?


"Alic, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini, Papa akan mengurus semua kebutuhan kamu sampai pendidikan kamu!" ujar Dominic yang sudah mengatur segala keperluan Alicia dengan cepat.


"Ah, hmm ... Om, tapi Alicia belum bisa untuk tinggal di sini!" ucap Alicia dengan ragu.


"Why?" Dominic dan juga Aghata langsung bingung dengan ucapan Alicia.


Alicia menjelaskan secara jujur kepada Dominic dan juga Agatha, kalau dia ingin mengurus surat-surat yang di gadai oleh ibu tirinya untuk mengamankan rumah peninggalan sang ayah.


"Oh, ok! Kalau begitu biar Papa yang mengantar kamu setelah kita makan siang bersama," ucap Dominic.


"Mama, ikut? Boleh?" Agatha melebarkan senyumannya di hadapan sang suami dan tentunya itu membuat Dominic tidak bisa menolak istri tercinta. "Oh ... thank you, Sayang!"


Tanpa ragu Agatha memperlihatkan kemesraan dirinya bersama Dominic di depan Alicia, hingga membuat wanita itu memalingkan wajahnya.


***


Kepulangan Alicia membawa kebahagiaan bagi Susan dan juga Pricilia, karena mereka sudah menunggu sejak kepergian Alicia malam itu. Mereka tidak sabar ingin merasakan hidup enak dari pernikahan Alicia dengan orang kaya tersebut.


"Silahkan di minum, Jeng!" ucap Susan dikala anaknya—Pricilia membawakan minuman untuk Agatha dan juga Dominic.


Dominic hanya terdiam sedangkan Agatha melirik ke arah Susan dengan wajah yang tidak suka, apalagi saat Pricilia mencoba untuk mengambil hati Alicia karena dia sudah mengetahui cerita dari sang suami yang menceritakan kehidupan Alicia.


"Alicia, Mama harap kamu menjadi menantu yang baik di sana ya, Nak! Harus patuh sama suamimu dan mertuamu!" ucap Susan saat Alicia manaruh cemilan di atas meja kecil.


Alicia menatap ke arah Agatha yang menunjukkan ekspresi wajah kalangan orang kaya yang enggan untuk menatap orang miskin, sedangkan Joshua memilih untuk tersenyum ke arahnya seraya mengambil kue yang dia bawa.


"Alicia, kamu benaran tidak mau ikut pulang bersama Mama?" tanya Agatha yang sudah tidak betah lama-lama berada di rumah tersebut.


"Tidak usah, Mah! Ada banyak hal yang mesti Alicia urus," sahut Alicia yang memanggil Agatha dengan sebutan mama dan itu berhasil membuat Pricilia dan juga Susan terkejut.

__ADS_1


"Ok, kalau begitu. Pah yuk, nanti keburu malam sampai di rumah!" ajak Agatha pada sang suami agar segera pergi dari sana karena sudah tidak betah dengan mulut manis Ibu sambung Alicia.


"Loh, nggak nginep aja Jeng? Siapa tahu kita klop bisa ngobrol bareng dan arisan bareng." Susan terus memaksakan dirinya agar bisa akrab dengan mertua Alicia, tetapi sayangnya dia sudah tidak ada muka di depan Agatha.


"Maaf ya, Jeng ... saya ini wanita karir jadi tidak ada waktu untuk mengobrol apalagi arisan yang tidak penting, karena saya kalau main arisan sukanya arisan Masion bukan sekedar uang," ucap Agatha yang menurunkan kacamata hitamnya dari atas kepala sembari melangkah kakinya keluar.


"Dasar orang kaya sombong! Liat aja nanti, aku kuras hartamu melalui Alicia!" ucap Susan dalam hati.


"Tante, Om, hati-hati di jalan!" ucap Pricilia yang berbasa-basi.


"Tidak usah terlalu mengkhawatirkan kami, khawatirkan saja hidup kalian di sini!" sindir Agatha dalam hati tetapi kenyataannya hanya tersenyum kecut melihat ke arah Pricilia.


Dominic hanya tertawa melihat tingkah konyol sang istri tercinta, dia pun berkata kepada Alicia. "Jaga diri baik-baik, tidak usah kembali bekerja! Cukup fokus pada pernikahan kamu, Papa dan Mama akan mengurus semuanya!"


"Iya ... Ingat, tidak boleh ganjen dengan lelaki lain, tidak boleh memiliki hubungan dengan laki-laki lain, Mama akan memantau kamu dengan teropong Mama dari sana!" ujar Agatha saat mencubit gemas pipi Alicia


"Iya, Mah ... iya, Pah! Alicia akan mengingat pesan Mama dan Papa." Alicia tersenyum ke arah calon mertuanya.


"Pintar, nanti Mama akan suruh Keenan telepon kamu nanti malam setelah Mama dan Papa bicarakan soal pernikahan kalian," ucap Agatha.


"Dah, Sayang!" ucap Agatha yang melambaikan tangan pada calon menantunya.


Alicia pun melambaikan tangan ke arah mobil yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya, dia menutup gerbang lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Matanya melihat ke arah Pricilia di tengah tersenyum ke arahnya sembari membawakan minuman teh hangat untuk dia.


"Hai cerita dong sama Kakak! Dia ganteng gak, terus rumahnya bagiamana? Terus, terus, dia punya saudara laki-laki nggak?" tanya Pricilia dengan beruntun. Namun sayangnya tidak digubris oleh Alicia. "Eh Adek tiri, gue lagi ngomong sama lu! Lu denger nggak sih? Kuping lu congek ya?"


Alisi langsung menghentikan langkahnya sembari melihat ke arah Pricilia dan ternyata sikapnya benar-benar membuat dia jenuh, dia pun hanya menaikkan satu alisnya sembari menutup pintu kamar dengan keras.


"Eh, Anjriet! Dasar jallang gak tahu diri Lo, udah dibaikin juga. Keluar Lo! Bang sat!" maki Pricilia yang sudah menahan kesalnya karena dicuekin oleh Alicia.


"Pricil! Kamu itu apaan sih?" tegur Susan agar anaknya bisa bersabar lebih lama lagi menghadapi Alicia. "Sabar ... Kamu ngerti sabar nggak sih? Sekarang hidup kita tergantung sama dia, jadi kita harus baik-baikin dia, bersabar sedikit napa sih!"


"Ya, terus gimana nggak mau kesel coba Mah, dari tadi Prisil ngomong tapi dicuekin! Kurang ajar banget tuh anak, mentang-mentang di pinang sama orang kaya, sikapnya belagu! Lihat nanti, gua rebut suami lo!" ancam Pricilia yang menendang pintu kamar Alicia dengan sangat kencang.


"Pricil!" bentak Susan.

__ADS_1


***


Suasana di malam hari dengan udara yang menerpa wajah pria sedang berdiri tepat di atas balkon kamar, merasakan kegusaran ketika ingatannya terus mengingat betapa candunya wangi tubuh Alicia yang masih melekat diingatanya, rasa nikmat, senyuman, raut wajah penuh emosi, serta suara seksi yang keluar dari bibir manis mungil itu membuat Grey susah melupakan semua.


"Keenan, boleh Mama mendekat?" tanya Agatha ketika dia masuk ke dalam kamar anaknya sembari membawa minuman.


"Mah, sudah berapa kali! Jangan pernah panggil aku dengan nama kampungan itu!" ujar Grey yang masih menatap langit berwarna gelap dipenuhi oleh bintang-bintang.


"Maaf, Sayang ... tapi, mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan diri dengan sebutan nama itu, karena calon istri kamu tahunya nama asli kamu bukan nama identitas kamu!" ucap Agatha yang menaruh teh ke atas meja kecil.


"Jadi, Mama ke sini mau membahas soal pernikahan Grey?" tanya Grey pada Agatha.


"Iya, ini demi kebaikan kamu!" Dominic langsung datang menghampiri kedua orang yang tengah duduk di balkon kamar.


Grey menghembuskan napas dengan pelan dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, pikirannya masih terus ke arah wanita yang sudah dia renggut kesuciannya, terutama fokus dengan pada pembalasan dendam kepada Nicholas.


"Papa ingin kamu menikah dalam beberapa Minggu ini," ujar Domini yang duduk ikut bergabung dengan istri dan anaknya.


"Pah! Sudah Grey bilang berapa kali, jangan paksa Grey untuk menikah cepat! Grey sudah setuju sama Papa dengan rencana kencan buta, sekarang Papa sudah Grey kasih hati malah minta jantung," ucap Grey dengan kesal.


"Iya, karena memang tujuan Papa mengadakan acara kencan buta itu ... ya, Ma—"


Agata Langsung memelototi sang suami agar menutup mulutnya rapat-rapat, dia tidak mau kalau sampai sang anak tahu rencana soal kencan buta yang dia ajukan pada Dominic. Namun, tiba-tiba saja anaknya itu langsung bertindak dengan ucapannya.


"Sudah diduga! Semua rencana Mama kan? Terus, sekarang Mama minta sama Grey melalui Papa untuk menikahi gadis yang asal usulnya tidak jelas itu? Iya?" tanya Grey yang masih santai.


"Iya, Mama mau kamu cepat-cepat menikah, Nak! Mama sudah gak sabar mau punya cucu, apa kamu gak kasian sama Mama?" pinta Agatha sembari memasang wajah memelasnya.


"Pokoknya apapun itu Grey menolaknya! Dah ah ... Grey ngantuk!" Grey langsung bangun dari tempat duduknya.


"Grey!" bentak Dominic kepada sang anak ketika dia tidak kuasa melihat buliran air bening jatuh ke pipi Agatha.


To be continued...


Maaf ya baru up, semoga kedepannya sudah lancar, jangan bosen mengingatkan typo ya 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2