Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Hubungan Kita Berakhir


__ADS_3

Alicia pun masih setia menemani pria paruh baya yang masih dilakukan pemeriksaan oleh dokter, Dominic hanya terluka pada bagian kaki yang mengalami sedikit pergeseran tulang. Selebihnya semua masih dikategorikan sehat, sedangkan sopir pribadi Dominic mengalami luka ringan di bagian kepala.


Tidak lama kemudian asisten pribadi Dominic yang bernama Reno langsung datang mendekati Alicia, dia pun berdiri tegap ketika mengetahui ada seorang dokter yang masih memeriksakan kondisi kesehatan atasannya tersebut.


Setelah dokter selesai memeriksakan kondisi ketua perusahaan Mega Z, sang dokter pun langsung berpamitan kepada kedua orang yang menemani Dominic.


"Terima kasih, Dok!" ucap Reno yang dibalas senyuman oleh sang dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!" Pamit Alicia yang mengetahui bila pria itu sudah ada yang menjemputnya.


"Tunggu dulu, Nak Alicia! Biar saya antar pulangnya!" Dominic menyuruh Reno untuk memapah dia duduk di kursi roda.


"Tidak perlu, Tuan! Saya naik bis aja,"ucap Alicia yang menolak dengan sopan.


"Jangan menolak, jam segini tidak ada bis yang lewat! Setidaknya biar saya mengurangi sedikit balas budi, Nak Alicia." Dominic tersenyum lalu mengulurkan tangannya agar wanita itu mau berjalan lebih dulu.


Alicia yang tidak bisa menolak, dia melirik ke arah pria yang tengah berdiri di belakang Dominic seraya bersiap untuk mendorong pria tua itu. Langkahnya pun hanya pasrah mengikuti sampai di depan halaman parkir rumah sakit tepat di mobil Dominic.


Reno membukakan pintu untuk Alicia dan juga Dominic, lalu dia pun masuk ke kursi pengemudi. Mobil pun perlahan mulai menjauh dari rumah sakit berbaur dengan jalanan di ibu kota.


"Di mana alamat rumahnya?" tanya sang pemilik mobil.


Alicia memberitahu bahwa rumahnya berada di jalan gang rafflesia, alamat tidak terlalu jauh dari titik lokasi rumah sakit. Mobil itu langsung menuju ke arah jalan yang di arahkan oleh Alicia.


Selama perjalanan menuju rumah wanita yang sudah menolong dirinya, Dominic selalu bertanya tentang kehidupan apa saja yang dilakukan oleh Alicia, mungkin terkesan kurang sopan tetapi lelaki pria paruh baya itu berusaha untuk mengorek informasi dari malaikat penolongnya.


Dominic berharap kalau Alicia termasuk ciri-ciri kategori menantu idamannya, karena itu dia tidak peduli bila kesan pertama langsung menanyakan hal-hal mengenai tentang Alicia.

__ADS_1


setiap yang dijawab oleh Alicia membuat Dominic melebarkan senyumannya karena semua termasuk daftar calon istri untuk anaknya yang bernama William Grey. pemilik pun memberi isyarat kepada Reno agar asisten pribadinya itu bisa memasukkan Alicia sebagai daftar kencan Grey yang ke-25.


Tidak terasa obrolan mereka yang penuh dengan candaan hangat kini harus terhenti ketika Reno menghentikan mobilnya tepat di rumah Alicia, bayangan Dominic langsung hancur seketika saat melihat rumah itu yang ternyata hanya sebuah rumah sederhana.


"Alicia, apakah ini benar rumahmu?" tanya Dominic yang kurang yakin pasalnya Alicia dari segi penampilan dia terlihat terurus cantik dan mempesona walaupun memang dari cara berpenampilannya wanita itu sangat simpel dan sederhana.


"Bukan, tapi lebih tepatnya rumah mandiang Ayah saya!" ucap Alicia dengan jujur. Dia pun tahu dari sorot mata orang tua tersebut terlihat segurat kekecewaan yang terlukis di wajahnya.


"Oh, baiklah ... kalau begitu ini kartu nama saya! Jika ada yang kamu inginkan tinggal katakan dan hubungi saya!" Dominic menyerahkan kartu namanya yang berwarna gold itu berarti bahwa Alicia orang khusus yang bisa menemuinya kapan saja.


Alicia sedikit ragu menerima kartu nama tersebut, tetapi Pria tua itu langsung ngambil tangannya untuk menerima kartu itu, terpaksa Alicia menerima walaupun dalam hatinya masih tersimpan keraguan, akankah dia bisa menggunakan kartu ini untuk meminta tolong padanya?


"Masuklah, hari semakin malam. Saya tahu Anda pasti capai setelah bekerja seharian," ucap Dominic.


"Terima kasih, Tuan!" Alicia menundukkan kepala sebagai bentuk hormat kepada pria yang lebih tua darinya.


"Jalan!" perintah Dominic kepada Reino mobil pun segera menjauh dari rumah Alicia.


Sementara di posisi Alicia, baru saja langkah kakinya ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dia mendengar suara yang memanggil namanya.


"Alicia!" teriak Marvel yang langsung membuka pagar rumah itu.


Sontak saja Alicia terkejut karena mengenali suara itu, suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dalam ingatannya. Tubuhnya enggan untuk berbalik karena itu dia pun memilih melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Alicia!" Marvel menarik tangan Alicia sebelum wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Lepasin! Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Alicia dengan ketus.

__ADS_1


"Siapa yang mengantarmu?" Marvel justru balik bertanya dengan intonasi nada suara yang tidak kalah emosinya.


Alicia mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Marvel, dia pun berkata, "Apa peduli kamu?"


"Kamu? Jelas aku peduli, karena kamu, pacar aku! Lelaki mana yang tidak marah melihat pacarnya turun dari mobil mewah? Hah!" bentak Marvel ketika tangannya masih menggenggam erat tangan Alicia.


"Cih! Pacar? Kamu masih ingat aku, pacar kamu? Hah!" Alicia berusaha memberontak agar cakalan itu bisa terlepas dari Marvel.


Marvel langsung memegang keningnya saat tangan satunya lagi masih terus mencekal tangan Alicia, dia pun menyadari kesalahannya kalau saat Alicia berulang tahun dia justru bersama dengan Veronica selama dua hari.


Akan tetapi, Marvel justru tidak tahu bila kebusukannya telah diketahui oleh Alicia, sehingga dia masih dengan mudahnya percaya diri membohongi kekasihnya tersebut.


"Ma–maaf, aku tidak ada maksud untuk lupa dengan ulang tahunmu! Hanya saja, Papa menyuruhku untuk menjemput Tante Amora di bandara dan selebihnya... kamu tahu sendiri bagaimana sikap Papa kalau aku menentang pergi saat Tante Amora datang?" kilah Marvel dengan seribu macam jurus mautnya.


Alicia membulatkan matanya dengan sempurna, apa yang di ucapkan oleh Marvel membuat dirinya ingin sekali muntah di wajahnya. Bisa-bisanya pria itu berdusta dengan sangat hebat, berarti selama ini dia dibohongi dengan bodoh oleh pria yang ada di hadapannya.


"Oh, ya? Tapi maaf Marvel ... Aku tidak seperti Alicia yang dulu yang bisa saja kau tipu dengan bodohnya, karena mulai detik ini hubungan kita telah berakhir!" tegas Alicia dengan lantang.


"Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi!" Marvel mencengkram kuat tangan wanita yang masih dianggap kekasihnya.


Akan tetapi, bukan ucapan yang keluar dari Alicia melainkan sebuah tendangan di aset milik Marvel yang paling berharga, sehingga pria itu kesakitan seraya berteriak tidak karuan.


Alicia yang tidak mau membuang kesempatan untuk kabur dia memilih untuk melarikan diri masuk ke dalam rumah, pintunya langsung di banting tertutup begitu saja.


Tidak peduli bila Marvel masih terus berteriak kesakitan sembari menggedor-gedor pintu rumahnya. Dia langsung mematikan lampu depan dan ruang tamu lantas masuk ke dalam kamarnya.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2