Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Satu mangkuk mie bersama


__ADS_3

"Apaan, nih? Masa benyek begini, mie-nya! Udah gitu asin banget lagi, bisa masak gak sih?" Grey menunjukkan ekspresi wajah yang kecut saat mengunyah mie instan buatan Alicia.


Alicia mengurutkan keningnya seakan tidak percaya dengan komentar yang diberikan oleh suaminya, dia melihat ke dalam mangkuk dan menelusuri mie dengan tingkat kematangan yang pas menurutnya. Rasa yang tidak asin meyakinkan dia bahwa Grey hanyalah sandiwara.


"Gak asin kok! Hmmm," ucap Alicia yang mencicipi mie instan tersebut ketika dia duduk di hadapan Grey saat berada di balkon kamar suaminya.


Grey pun menahan senyumnya ketika dia melihat sang istri menyantap mie bekas dirinya. Senyumannya langsung hilang ketika Alicia menatapnya dengan curiga.


"Kalau nggak mau ya sudah! Bikin aja sendiri!" Alicia mengambil mangkuk itu lantas memakannya di hadapan Grey.


Grey yang melihat Alicia makan begitu nikmat, hanya menelan salivanya. Tanpa sadar dia pun akhirnya mengambil sumpit dari tangan Alicia kemudian ikut makan bersama dalam satu mangkuk.


"Hmmm, katanya nggak mau!" protes Alicia dengan kesal saat mulutnya terisi penuh dengan mie.


Tanpa ada rasa jijik, Grey justru melahap sisa mie yang dimakan oleh Alicia. Sampai akhirnya mereka berebut makan mie instan bersama di dalam kamar Grey.


Perebutan mie pun terjadi, akhirnya salah satu mie menyambung satu sama lain membuat keduanya saling berdekatan dengan jarak yang begitu dekat.


Debaran jantung keduanya pun berpacu lebih cepat dari biasanya saat kedua bola mata mereka saling tetap menatap, untuk sesaat mereka terdiam sejenak merasakan aliran sengatan yang berdasir dalam darah mereka.


Sampai ketika suara telepon Grey berbunyi membuat keduanya langsung tersadar dan lansung bangun untuk berjauhan. Alicia yang terbatuk sedangkan Grey langsung mengangkat telepon dari seseorang.


"Halo!" jawab Grey yang tidak melihat nomor panggilan lebih dulu. Matanya melihat ke arah Alicia yang tengah tersedak lalu meminum gelasnya.


"Halo, Sayang! Bagaimana kabar kamu? Tebak, aku di mana sekarang?" tanya seorang wanita yang berada di seberang telepon.


Grey langsung mengecek ponselnya untuk memastikan siapa yang menghubunginya, terlihat nomor baru belum disimpan pada kontaknya. Sorot matanya juga masih menyempatkan melihat apa yang dilakukan oleh Alicia.


"Halo, Grey! Kok diem si? Jangan bilang kalau kamu hapus nomor aku dari kontak kamu!" kesal wanita itu.


"Flo?" sorot mata Grey masih terus memperhatikan gerak-gerik Alicia yang bangun dari duduknya.


"Iya, siapa lagi! Sekarang aku lagi di bandara, aku tunggu kamu ya, cepat jemput aku! Jangan pakai lama!" pinta Flora dengan manja.


"Sory, Flo. Aku nggak bisa!" tegas Grey dengan nada kesal saat matanya melihat Alicia berjalan ke arah pintu keluar.

__ADS_1


"Ih, Pokoknya jemput sekarang, aku nggak mau tahu! Kamu sudah janji sama aku mau jemput di bandara saat aku kembali!" ucap Flora.


"Ok, tunggu! Aku akan menjemputmu!" Grey langsung mematikan teleponnya dan langsung berkata, "Siapa yang suruh kamu untuk pergi?"


Alicia langsung menghentikan langkahnya kemudian berbalik, tetapi alangkah terkejutnya dia ketika sang suami sudah berdiri di depan matanya.


Gerakan mundur secara perlahan pun Alicia ambil saat terus mendekat ke arahnya, tangannya menyentuh dada bidang tersebut saat tubuhnya sudah mentok ke dinding.


"Kee ...." Alicia memalingkan wajahnya.


"Dengar, selagi aku tidak ada dirumah, jangan pergi tanpa seizin dariku dan jangan pernah bawa masuk pria lain termasuk Jacob! Ngerti kamu!" ujar Grey yang menatap kedua bola mata dari topeng Alicia.


Alicia mengangguk sebelum suaminya itu menjauh dari tubuhnya, langkah kakinya kembali melangkah mengekori sang suami keluar dari dalam kamar.


Ingin rasanya Alicia bertanya ke mana pria itu akan pergi tapi mengingat surat perjanjian yang tidak mau tahu urusan pribadi masing-masing akhirnya Alicia mengurungkan niatnya.


Pada saat Alicia kusyu mengikuti langkah kaki Grey melangkah, dia pun menabrak punggung kekar itu yang tengah berhenti.


"Jangan tunggu aku pulang! Apalagi menanyakan pergi ke mana, ingat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing!" tukas Grey saat membalikan tubuhnya.


"Bagus, selama aku tidak ada di rumah. Kamu bebas memakai fasilitas yang ada kecuali masuk ke dalam kamarku!" pinta Grey.


"Iya," sahut Alicia dengan patuh.


Grey terdiam lalu mencari kunci mobilnya yang ternyata ada di atas meja, dia mengambilnya lalu segera pergi sana dengan menutup pintu apartemennya.


"Jangan ikut campur urusan orang, jangan nunggu aku pulang, bla bla bla ...."


Alicia mengikuti ucapan Grey dengan mengejeknya dengan intonasi suara yang menjengkelkan, kemudian duduk di sofa televisi sembari merebahkan punggungnya.


"Yes! Akhirnya bisa bebas ... aah, empuknya sofa ini!" Alicia menepuk-nepuk sofa sembari merebahkan tubuhnya dengan senang lalu kembali berucap, "Ck, gak boleh ikut campur urusannya! Siapa juga yang mau tahu, bodo amat ... yang penting hari ini bebas gak pakai topeng!"


***


Bandara sukaria, Grey berjalan perlahan menghampiri Flora Anatasya—seorang modeling sekaligus mantan kekasih Grey. Ya, mereka adalah sepasang kekasih sebelum Flora pergi untuk mengejar karirnya di dunia modeling.

__ADS_1


Selama dua tahun Flora berada di luar negeri meninggalkan Grey di saat tuan muda pemilik perusahaan Mega Z sedang di fase down, tapi kini wanita yang memiliki wajah cantik dengan tubuh yang menggiurkan para lelaki memandang, datang kembali.


Grey dan Flora menjalani hubungan selama tiga tahun dan menjadi pacar rahasia dari siapapun termasuk kedua orangtuanya, kedua sahabatnya pun baru mengetahui hubungan mereka setelah Flora pergi ke luar negeri.


"Sayang!" panggil Flora dengan sembari berlari ke arah Grey.


Grey terseyum kecut lalu membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya, mereka pun pergi ke sebuah hotel ternama.


Sesampainya di dalam hotel, keduanya saling bercumbu mesra melepaskan hasrat rindu yang sudah menggelora. Grey sebagai laki-laki normal tidak menolak ketika mendapatkan serangan dari mantan kekasih yang memiliki tubuh idaman para pria.


"Aku kangen sama kamu, Grey! Have me, now! " pinta Flora yang kini mendorong tubuh Grey jatuh di atas kasur.


Flora membuka bajunya secara perlahan hingga memperlihatkan pemandangan gunung yang masih di lapisi awan berkabut, langkanya mendekat ke arah Grey yang tengah terbaring menatapnya dengan intens.


Cumbuan pun berlanjut dengan sejuta serangan maut dari lidah Flora saat bermain di indera peraba Grey, sampai membuat sang empu sudah siap dengan untuk melakukan sesi babak selanjutnya.


Namun, saat tubuhnya tengah asik mendapatkan rasa yang mampu membuatnya melayang. Banyangan cumbuan Alicia terngiang di kepalanya, membuat Grey langsung membuka matanya dan mendorong tubuh Flora.


"Why?" tanya Flora yang bingung ketika pria itu menghentikan aksinya.


"Sory, Flo ... aku nggak bisa!" Grey langsung mengancingkan bajunya kembali dan bangun dari atas tempat tidur.


Tidak bisa dipercaya, Grey menolaknya begitu saja? Padahal Flora sudah menyiapkan secara matang untuk bisa kembali bersama pria yang kini jauh lebih sukses dari sebelumnya.


"Grey? Kita baru saja mulai, aku kangen sama kamu!" flora memeluk punggung mantan kekasihnya hingga begitu menempel dan terasa, sampai dia sengaja memeluknya dengan erat agar sang empu terangsang.


Grey tertawa kecil, dia melepaskan tangan dengan kuku yang dihias dengan berbagai warna cat dari pinggang yang melingkar di perutnya.


"Sorry, Flo! Mungkin lain kali," ucap Grey kini dia melangkah meninggalkan Flora yang masih terdiam.


Flora masih tidak percaya bila Grey bisa menolaknya, dia yang kesal mendapatkan penghinaan seperti itu langsung berumpat dalam hatinya.


"Awas kamu Grey! Liat, aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali di kakiku!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2