
Nicholas sungguh tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Grey kepada wanita yang masih dia kira adalah kekasihnya, istri suami? dia terus mencerna tetapi masih tetap saja tidak bisa mengerti akan situasi saat ini.
"Enggak, nggak mungkin! Al!" Nicholas mengelak hatinya terasa sakit ketika Alicia memeluk tubuh erat musuhnya yang paling dia benci seumur hidup.
"Tidak menjadi masalah, kamu mau percaya atau tidak! Yang jelas wanita ini adalah istriku!" ucap Grey dengan senyuman mengejek. Bahkan saat ini Grey tidak segan-segan mencium bibir Alicia dengan buas di depan Nicholas sembari meremas bokong istrinya.
"Bang sat!" Nicholas ingin menghajar Grey yang sudah menyentuh kekasihnya tetapi petter sudah lebih dulu menanganinya. "Anjieng, minggir Lo!"
Nicholas menyerang Peter secara membabi buta, membuat Grey pun tertawa karena senang mengerjai musuhnya itu.
"Hahahah, Nico, Nico, kau memang sungguh bodoh! Baiklah, kau ingin dia? Asal ada syaratnya," ucap Grey yang menghentikan perkelahian sengit itu.
"Diam kau bedebah!" emosi Nicholas sudah kalangkabut saat kini tubuhnya sudah di kunci oleh Peter. "Apalagi yang kau inginkan diriku? Manusia licik!"
"Hahahah... baiklah, berhenti main-main." Grey menyuruh Peter untuk membiarkan Nicholas duduk kembali dengan tenang di sofa.
Sementara Grey menyuruh sang istri untuk duduk di pangkuannya, sedangkan tangannya melingkar di pinggang ramping Alicia. Membuat Nicholas terbakar api cemburu yang sudah membara.
Namun, Nicholas harus tetap sabar menahan emosinya. Dia yakin bahwa kekasihnya itu dalam tekanan dari Grey. Matanya terus menatap tajam ke arah sang musuh yang masih mencumbu kekasihnya sembari mengepalkan tangan.
Tetesan air mata pun mengalir dari kelopak mata Nicholas saat harus bersabar jika ini kemauan Grey darinya, sangat besar kemungkinan jika sang kekasih dibawah tekanan manusia biadab menurutnya.
Oleh karena itu, Nicholas akan menahan rasa cemburunya saat dia harus menyaksikan sang kekasih dicumbu mesra oleh musuhnya. Sampai terdengar suara ciri kas ciuman mereka yang membara.
Sementara Grey terus mencumbu istrinya di depan Nicholas secara penuh gairah akan luapan cemburu. Ya, dia melakukan itu untuk membalaskan dendam atas apa yang Nicholas lakukan sampai mencium istrinya saat acara lelang.
Disapu bersih seluruh bibir Alicia secara bringas sampai bibir seksi itu bengkak akibat sesapannya, sampai Grey berbisik di telinga sang istri. "Berapa lama dia menciummu? Hmmm? Berapa kali dia menciummu?
"Grey, stoop!" ucap Alicia yang menahan malu setengah mati di hadapan Nicholas.
"Karena itu jawablah, apa saja yang sudah dia lakukan? katakan Al?" tanya Grey yang masih terus menautkan bibirnya sesuka hati di bibir Alicia, leher dan bagian dada. Tidak ada jawaban sama sekali dari istrinya membuat Grey marah. "ALICIA, BERAPA KALI DIA SUDAH MENYENTUHMU!"
"GREY!" Nicholas bangun tetapi lagi-lagi tubuhnya di kunci oleh Peter hingga dia tidak bisa berbuat apa-apa saat musuhnya itu masih saja terus membentak wanita yang dengan bodohnya Nicholas masih menganggap itu adalah kekasihnya.
Padahal jelas-jelas Grey sudah mengatakan bahwa dia adalah Alicia, tapi sangking bodohnya dan cinta mati oleh Alice, Nicholas hanya menganggap sang kekasih hanya ada satu yaitu di depan matanya yang sedang di paksa cemburu buta.
__ADS_1
"DIAM KAU!" Grey mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke arah Nicholas membuat Alicia berteriak.
"No, Grey, hanya sekali! Dia hanya sekali menyentuhku!" ucap Alicia yang menangis memohon agar sang suami tidak bertindak gegabah.
Alicia bersimpuh di kaki sang suami, membuat Nicholas merasa sesak bukan main saat matanya sudah memerah akibat air mata yang dikeluarkan.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, ceritanya panjang Grey! Please aku mohon jangan tembak dia! Dia tidak bersalah," pinta Alicia yang merengek di kaki Grey.
Tentu hal itu membuat Nicholas seakan dunianya runtuh melihat kekasih tercinta bersimpuh di musuhnya, sampai dia pun membuka suara.
"Grey, kau minta apa dariku? Kua ingin lahan itu, ambilah! Kau ingin semua asetku? Ambilah semua untukmu!" ucap Nicholas yang sudah rela menyerahkan apapun demi orang terkasihnya yang sangat dia cintai sampai dia menjadi orang yang paling bodoh sedunia.
Mendengar ucapan dari seorang laki-laki yang tengah menangis, ya Nicholas menangis membuat Grey sedikit senang.
"Benarkah? Kalau begitu tanda tangan sebagai surat persetujuan!" pinta Grey yang kemudian menyuruh Peter menyiapkan berkas sebagai tanda tangan bahwa mereka setuju untuk barter.
Dalam hitungan beberapa detik Peter sudah menyiapkan berkas dokumen yang akan ditandatangani oleh Nicholas.
"Sudah! Sekarang, lepaskan dia!" pinta Nicholas usai menandatangani bahwa lahan itu sudah menjadi milik Grey sepenuhnya.
"Brengsek kau menipuku?" emosi Nicholas memuncak dia ingin menghajar tetapi lagi-lagi Petter sudah menahannya.
"Hahahah, aku baru tahu betapa bodohnya memiliki musuh seperti kau! Apa kau yakin dia kekasihmu?" ucap Grey yang tertawa senang sembari memperlihatkan wajah Alicia. "Weits ... jangan lama-lama mandanginnya!"
Grey menarik Alicia agar kembali masuk dalam pelukannya, seakan dia teramat senang mengerjai Nicholas.
"Apa maksudmu?" tanya Nicholas yang masih tidak mengerti.
Sikap Grey yang memang ingin terus bermain-main dengan Nicholas membuat Peter pun sebenarnya jengah dengan bosnya, karena terlalu bertele-tele Kenapa tidak sekalian saya langsung keluarkan Alice?
Hingga Peter tidak perlu repot-repot mendapatkan pukulan secara membabi buta dari Nicholas? Kan memang Bos sialan! itulah yang di umpat dalam hati Peter untuk bosnya.
"Al, apa kau mencintainya?" tanya Grey pada Alicia. Dia sengaja berkata demikian agar otak cerdas Nicholas bisa berjalan tidak kosleting.
Jelas Alicia menggelengkan kepala secara perlahan, membuat Nicholas tambah terkejut bukan main dan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi Grey melihat tampang bodoh musuhnya.
__ADS_1
"Al?" lirih Nicholas.
"Sekarang kamu bilang kedua, siapa kamu kenapa kamu bisa di sini!" perintah Grey yang menyuruh istrinya sekaligus dia bisa mendengar kenapa sang istri bisa berada di acara pelelangan.
"Maaf Tuan Nicholas, a–aku ... aku adalah Alicia bukan Alice, aku adalah istrinya Tuan Grey, Wiliam Grey!" ucap Alicia dengan perasaan bersalah sembari menunduk lantas menceritakan yang sebenarnya.
"Alicia?" tanya Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam. "Lalu Alice?"
Grey langsung menyuruh Peter untuk mengeluarkan Alice dalam kamarnya, saat itu juga Alice keluar dengan mulut penuh makanan.
"Iih, apaan sih kalian! Masih makan juga main tarik-tarik aja! Gak bisa apa nunggu aku selesai makan? Hah! Lagian kalau mau nyulik aku tuh mikir-mikir, aku tuh makannya banyak!" ucap Alice kesal saat tangannya masih memegang kue tart sedangkan mulutnya belepotan oleh krim coklat.
Pada saat itu juga Nicholas langsung mematung, melihat wanita dengan mulut yang belepotan masih mengunyah kue tart, serta rok rempel mini dan kemeja putih, rambut Curly warna biru muda di ujung rambut seperti rambut dirinya.
"Alice?" panggil Nicholas.
"Baby? Ka–kamu di sini?" tanya Alice dengan ciri khasnya memanggil Nicholas. Dia pun berlari memeluk sang kekasih dengan girang. "Oh, Baby I Miss you!"
Alice langsung mengecup bibir Nicholas saat bibirnya masih mengunyah, tanpa merasa bersalah dia juga menawarkan kue tart yang masih dia pegang pada sang kekasih.
"Cobain deh, Beb. Ini kuenya enak banget!" Alice menyodorkan kue pada Nicholas, gadis itu seakan tidak mengetahui apapun yang terjadi pada Nicholas dan Grey. "Gimana enak kan?"
Masih dengan bodohnya Nicholas justru memakan kue dari suapan Alice dan mengangguk saat kekasihnya bertanya apakah kue itu enak?
"Oh ya tadi aku di sini diculik sama ...." Alice menengok atau memutar tubuhnya ke belakang melihat ke arah Grey dan Alcia yang ternyata sudah memperhatikan dirinya sedari tadi.
Mata Alice membulat sempurna saat melihat Alicia berada di sofa duduk di samping Grey. Dia pun berteriak, "Alicia!"
Alice langsung menghampiri Alicia dan menariknya dengan paksa agar Grey melepaskan pelukan dari sahabatnya, dia begitu girang karena bertemu dengan Alicia.
"Iihhh, kangenn ... Maaf ya sudah maksa kamu buat jadi aku, sampai kamu pasti di omelin sama monster itu ya?" Tunjuk Alice dengan bibirnya ke arah Grey. "Eh, aku gak nyangka loh, kalau ternyata kamu itu istrinya monster itu! Kasian banget si kamu, pasti dipaksa nikah ya?"
Nicholas dan juga Grey hanya terdiam ketika dua wanita sudah saling bertemu dengan heboh, Grey hanya menyunggingkan senyumannya saat melihat tingkah konyol kembaran sang istri.
Sementara Nicholas yang masih belum memahami kondisi saat ini. Butuh lama dia untuk mencernanya, hingga dia masih bergeming saat kekasihnya begitu akrab dengan wanita yang begitu mirip dengan Alice.
__ADS_1
To be continued