Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Kau hanya boleh mengagumiku, Alicia


__ADS_3

Grey menyambut sang istri dengan merangkul pinggang paring itu, tak lupa juga dia sematkan kecupan manis pada pipi berwarna peach merona efek blason yang dikenakan.


"Your beautiful!" bisik Grey dengan pelan, lantas matanya pun kembali melihat ke arah Dinda dan Hans. "Oh iya, Nyonya Dinda dan Tuan Hans, kenalkan dia istri saya! Alicia Wiliam."


Grey sengaja memperkenalkan sang istri dengan sebutan namanya di belakang nama Alicia, matanya melihat bagaimana Dinda hanya mematung melihat istrinya.


"Malam Nyonya Dinda, Tuan Hans, senang bertemu dengan kalian!" ucap Alicia dengan anggun mampu membuat ayah tiri Alice terkagum dengan pesonanya yang sangat mirip dengan Alice, berbeda dengan Dinda yang masih bergeming diam bak pantun manekin.


"Senang juga bertemu denganmu, Nyonya Grey!" sahut Hans yang tertawa. "Saya tidak menyangka kalau istri Tuan Grey benar-benar mirip dengan putri saya, bagaimana pinang dibelah dua, bener kan Sayang?"


Dinda hanya tersenyum kaku ke arah sang suami, dia tidak tahu harus berkata apa saat kali pertama bertemu dengan putri kandungnya sudah lama dia tinggal tanpa perasaan, ingatannya pada memori yang dia kubur dalam-dalam kini muncul di permukaan.


Membawa kenangan pahit muncul kembali, Dinda merasakan sesak teramat dalam di dadanya entah apa yang dia rasakan antara benci bertemu dengan sang anak setelah sekian lama atau rindu yang begitu dalam ingin memeluknya.


"Mih, Alicia ini sahabat aku yang aku ceritakan sama Mami!" ujar Alice pada Dinda. "Benarkan kita itu mirip banget, mangkanya aku sempat mengira dia itu saudara kembar aku, tapi ternyata ibunya Alicia sudah lama meninggal saat melahirkan Alicia, iya kan Al?"


Alice melihat ke arah Alicia seakan meminta jawaban dari saudara kembar tersebut, Apa yang diucapkan oleh dirinya tentu membuat Dinda langsung terkejut dan merasakan sakit yang luar biasa. Ternyata Alicia menganggapnya sudah tidak ada.


"Ahmm, iya!" ucap Alicia.


"Ah, sebaikanya kita duduk! Sepertinya pertunjukan akan segera dimulai," ujar Grey yang merasakan remasan dari tangan Alicia saat mereka membahas hal sensitif.


Grey bersama Alicia yang duduk di kursi VVIP dengan jarak yang tidak jauh dari tempat Dinda dan Hans berada, sedangkan Nicholas bersama Alice duduk saling bersebelahan.


Alice yang yang sifatnya sangat bar-bar begitu semangat melihat pertunjukan berlangsung bersama dengan Nichola, sedangkan Alicia memiliki sifat kalem dan lemah lembut menyaksikan seraya ditemani Grey yang selalu memanjakannya.


Ya, pria itu menyuapi makanan cemilan pada sang istri yang bagus untuk kesuburan, tangan kirinya tersu menggenggam bahkan sesekali mengecupnya dengan mesra. Meskipun ungkapan cinta untuk sesi makan malam gagal tapi dia sudah mengungkapkannya dengan planning berbeda.


"Astaga Al, Teh Yung, aakkh!" teriak Alice yang duduk di samping kiri Alicia, dia sangat mengidolakan k-pop tersebut.


"Ya ampun, ternyata dia beneran ada?" batin Alicia yang ternyata juga sangat mengidolakan artis tersebut.

__ADS_1


"Malam semua!" ucap Teh Yung dengan logatnya.


"Malam Oppa!" balas semua para kalangan wanita yang berteriak histeris, begitu juga dengan Alice langsung berteriak, "Sarangheo Oppa!"


Nicholas langsung menarik sang kekasih dan memberikan tatapan sinisnya, membuat Alice duduk kembali dan hanya tersenyum nakal ke arah sang kekasih.


"Canda, Yank!" ucap Alice yang memamerkan gigi putihnya.


"Balik ke kamar!" ancam Nicholas.


"Ah, jangan ... Ayank!" rengek Alice yang berjanji tidak akan seperti itu lagi.


"Siapa yang kamu pilih? Aku atau dia?" tanya Nicholas mengintimidasi Alice.


"Teh ...." Alice langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nicholas membuat dia pun kembali berkata, "Kamu, Ayang aku, Ayank Nicholas!"


Alice langsung mengecup pipi Nicholas agar kekasihnya tidak merajuk, membuat Alicia yang melihatnya merasa iri karena sikap Nicholas begitu lembut pada Alice. Berbeda dengan Grey pasti dia akan mengamcam dengan kasar dan mengurungnya kembali ke dalam kamar lalu pasti akan dipaksa kembali.


Alicia tidak ingin itu terjadi, hingga dia hanya bisa bersikap datar meski sebenarnya dia pun sama seperti Alice yang mengagumi sosok idolanya. Namun, dagunya mendapatkan tarikan dari sang suami hingga dia tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah Grey.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mengangguminya?" tanya Grey yang begitu dekat dengan wajah Alicia.


"Ah, tidak!" jawab singkat Alicia yang memalingkan kepalanya kembali melihat para k-pop mulai bernyanyi.


"Benarkah?" Grey kembali menarik dagu Alicia untuk melihat ke arah nya lantas dia semakin memincingkan matanya,


"Buat apa aku mengatakan iya, kalau akhirnya nanti kamu akan mengurungku kembali di dalam kamar," ucap Alicia.


Grey tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Alicia, dia pun kemudian berkata, "Kau pintar sekali, kau bisa menebak apa yang akan kulakukan! Karena itu, kau hanya boleh mengagumi dan mencintai suamimu ini yang sangat tampan dan segala-galanya!"


Alicia hanya terdiam ketika suaminya begitu percaya diri, dia hanya memasang senyum paksanya agar tidak menyinggung sang suami.

__ADS_1


Sementara di posisi Dinda, dia masih terus memperhatikan Alicia dari tempat duduknya. Dia ingin sekali memeluk dan menanyakan kabar putri kecil yang dia tinggal pergi, tetapi juga takut akan posisinya saat ini bersama Hans.


"Baguslah, kini dia tumbuh menjadi gadis cantik. Setidaknya kini, dia menjadi istri yang sangat berpengaruh di kota itu. Mungkin lebih baik seperti ini, tidak mengenal satu sama lain." Dinda kembali melihat ke arah depan, dia berusaha untuk melupakan sang anak untuk selama-lamanya, bahwa Alicia pernah terlahir dari rahimnya.


Sungguh miris, ketika Alicia mempunyai ibu kandung seperti Dinda. Walaupun pada hakikatnya tidak ada sebutan mantan anak, melainkan hanya ada mantan suami.


Begitu pertunjukan selesai, mereka semua keluar dari ruangan tersebut dan kembali menuju kamar masing-masing karena besok pagi, mereka sampai di pelabuhan NY.


Langkah Grey bergegas bersama Alicia tapi ternyata Hans lebih dulu mencegahnya, membuat Dinda pun merasa kesal karena sang suami memanggil Grey.


"Aduh, kenapa si harus manggil lagi? Bukannya lebih baik langsung balik ke kamar, besok pagi sampai pisah dan tidak bertemu lagi!" gerutu Dinda yang tidak ingin bertatapan kembali dengan Alicia karena rindu dan kesal akan semakin besar saat melihat istri—Grey.


"Oh, ada apa Tuan Hans?" tanya Grey saat membalikan tubuhnya bersama Alicia.


"Ini kartu nama saya, saya harap kedepannya kita bisa lebih dekat." Hans menyodorkan kartu nama ke arah Grey.


Grey tersenyum ke arah Hans, dia pun berkata, "Akan saya pertimbangkan, tergantung mood dari istri saya!"


"Sepertinya, Anda sangat mencintai istri Anda, kalau begitu ... saya tidak berani berbuat macam-macam dan menyinggung perasaan Nyonya Grey agar saya bisa bekerja sama dengan Anda." Hans melihat ke arah Alicia yang hanya tersenyum manis.


"Tentu, karena saya tidak mau bekerjasama dengan orang yang tidak menyukai istri apalagi sampai menyakitinya, saya rasa Anda juga akan melakukan hal yang sama Tuan Hans. Bukan seperti itu Nyonya Dinda Delmora?" sindir Grey yang menatap ke arah istrinya Hans.


"Ah, hahaha, ya tentu saja!" Dinda tertawa canggung dengan sindiran dari Grey, dalam hati pun dia berkata, "Kenapa dia? Apakah dia mengetahui sesuatu? Tidak mungkin! Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau jika Hans bekerja sama dengan keluarga Wiliam, aku tidak mau berurusan lagi dengan anak itu, salah kan aku yang ingin melupakan masa lalu dan ingin melupakan anak itu?"


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa dilain waktu!" ujar Hans yang membawa sang istri pergi


Selepas pasangan suami istri tersebut pergi Alicia pun mencubit lengan Grey, dia memberikan arahan agar sang suami bisa berbicara sopan dengan yang lebih tua apalagi mereka adalah kedua orang tua Alice.


"Apa? Kau membela mereka? Ini dunia bisnis Al, kau harus tunjukkan sisi lainmu agar mereka tidak berani berbuat macam-macam, kadang dunia bisnis sangatlah kejam dari apa yang kau lihat!" Grey langsung merangkul pinggang Alicia.


"Tapi kau tidak perlu membawa-bawa namaku!" ujar Alicia.

__ADS_1


"Loh, kenapa? Kau istriku," sahut Grey yang mengingatkan Alicia.


"Iya, Tuan Grey!" Alicia lebih memilih mengalah dari pada berdebat dengan suaminya.


__ADS_2